SEKARANG
Pagi yang indah. Belum lama aku membuka mata dari tidurku yang sangat nyenyak, aku tidur dari malam sampai pagi, tak ada mimpi buruk yang membuatku terbangun di tengah malam. Ah nikmatnya. Aku memandang cahaya matahari yang perlahan mulai masuk ke kamar tidurku. Aku merasa senang dan bersemangat. Aku merasa hari ini aku bisa menghadapi semuanya. It's a good day to have a good day. Aku pun turun ke dapur untuk sarapan sambil bersiul-siul.
"Pagi, mbak Latika," sapa Trisa, pembantuku. "Mau saya siapkan sarapan sekarang, mbak?"
"Iya, aku mau scrambled eggs, sosis sama roti panggang. Tambahkan paprika dan keju di telurnya ya."
"Baik mbak," jawab Trisa. "Mau jus, susu, atau teh, mbak?"
"Jus saja, mix wortel, tomat, apel dan seledri ya."
"Baik mbak."
Sambil menunggu sarapan disiapkan, aku bermain dengan ponselku, membaca berita di portal berita, melihat gosip terbaru, dan memeriksa e-mail dan whatsapp. Banyak pesan yang aku terima dan ada puluhan pesan yang belum aku baca dari Rian. Aku membuka pesan dari Rian, yang semua isinya hampir sama, rindu ingin segera bertemu disertai foto-foto dia sedang telanjang sambil memegang kemaluannya. Aku hanya bisa menghela napas dan memutar mata. Dasar pria aneh dan sedikit gila. Narsisme istilah tepatnya. Dia terlalu terobsesi dengan dirinya sendiri, selalu merasa dia yang paling sempurna, dan merasa paling unggul dibanding pria lainnya.
Memiliki wajah tampan dan tubuh sempurna, wajar jika Rian memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Banyaknya wanita yang dia miliki juga menjadi faktor yang membuat egonya setinggi gunung. Rian juga lihai di tempat tidur, selalu tahu bagaimana memuaskan wanita di ranjang, yang juga pasti membuatnya dicintai banyak wanita. Mengingat pelacur itu, aku bergidik membayangkan segala macam penyakit kelamin yang mungkin dibawa pelacur itu, untung saja aku selalu memaksa Rian menggunakan kondom.
Aku membalas pesan Rian hanya dengan emoticon senyuman dan ciuman, beserta kata-kata sampai jumpa nanti. Aku tidak tahu harus menjawab apa pesan-pesan porno seperti ini.
Ponselku tiba-tiba berdering dan nama Rian muncul. Aku menerima telepon itu dengan tersenyum.
"Halo Latika. Selamat pagi sayang."
Terdengar dari suaranya, Rian tampak bahagia sekali.
"Halo Rian. Terdengar bahagia sekali dirimu."
"Pasti bahagia karena nanti malam kita akan bertemu dan aku sudah siap bercinta sepanjang malam."
Aku heran, Rian adalah orang yang sangat pandai, terbukti dari jabatan yang dipegangnya, tetapi sepertinya yang ada dikepalanya hanya bercinta dan bercinta.
"Yakin sekali kamu bahwa kita akan bercinta nanti malam."
"Denganmu aku selalu yakin. Membayangkan apa yang akan aku lakukan dengan tubuhmu yang aduhai itu, membuatku tubuhku berereksi. Ah Latikaku, tidak sabar aku bertemu," kata Rian diakhiri dengan suara mendesah.
Aku bisa membayangkan dia sedang menyentuh kemaluannya. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
"Ini masih pagi Rian. Jangan membuatku tidak bisa berkonsentrasi bekerja nanti."

KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Latika
Mystère / ThrillerDia milikku..... Semua milikku..... Sampai semua direnggut dari tanganku.. Aku Latika. Aku sudah muak selalu menjadi orang yang dicampakkan. Akan aku rebut kembali semuanya. Tidak ada yang namanya keluarga, teman, maupun cinta. Semua akan menjadi m...