Extra 5: a night off

1.2K 85 12
                                    

Bau alkohol menyeruak di seluruh ruangan, menyisakan aroma memabukkan yang pekat. Suhu terendah dari pendingin ruangan tidak mampu membuat dua orang di dalamnya merasa kedinginan. Pun deru nafas yang beradu seolah bersahut-sahutan menyibak kesadaran keduanya. Baik Kesha maupun Naora.

Bibir keduanya bertaut. Lidah yang menggeliat di dalam rongga mulut pun ikut beradu, tak ada yang mau mengalah. Kemeja silver yang dikenakan Naora sudah melorot sampai lengan, memperlihatkan permukaan kulit Naora yang putih pucat. Tali bra hitamnya sudah ikut turun ketika bibir Kesha sudah berlabuh di sepanjang kulit leher Naora. Meninggalkan jejak-jejak kemerahan yang kontras dengan warna kulitnya.

Detak jantung masing-masing seolah berseru kian lantang. Naora menggigit bibir bawahnya demi menenggelamkan rengeknya yang berada di ambang keputusasaan. Kesha terus menjelajah turun hingga dada Naora, menyingkirkan apapun yang menutupi gadis itu hingga kini tubuh bagian atasnya terekspos sepenuhnya. Obsesi Kesha kian menjadi-jadi tatkala bibirnya menyentuh puncak dada Naora yang sudah mengeras. Aksinya mencecap, menjilat dan menggigit terus ia lakukan hingga menimbulkan desahan pelan yang sengaja Naora tahan mati-matian.

Sebagian diri Naora ingin melarikan diri sementara bagian dirinya yang lain ingin disentuh lebih banyak dan dalam. Meski bukan kali pertama mereka melakukan aktivitas intim namun keduanya menyadari jeda hubungan di antara keduanya terlalu panjang dan curam hingga mereka benar-benar lupa bagaimana euforia ketika dunianya berada di dekapannya. Desahan dan erangan tertahan saling beradu di antara aktivitas mereka yang semakin berantakan dan liar hingga suara Kesha menginterupsi.

"Ra, aku mau meledak."

Fokus Naora belum kembali hingga ia hanya bisa menggumam pelan di sela-sela nafasnya yang putus-putus. Kesha menatap ke dalam netra gadis yang kini masih berada di bawahnya untuk mengambil atensi gadis itu sepenuhnya.

"Jantung sama kepalaku rasanya mau meledak, Ra. Aku senang banget. Tolong! Gimana ini?"

Netra Naora bertemu tatap dengan Kesha sepersekon detik berikutnya. "Hah?"

Yang kemudian gadis itu lakukan adalah menyambar guling yang berada di atas kepalanya dan memukul tepat ke arah wajah Kesha hingga ia terduduk di tepi ranjang dan mengaduh dramatis. "Aw! Ra, kok aku dipukul?"

Namun tidak ada jawaban. Kendati setelahnya Naora menarik selimut setinggi dagunya lantas memunggungi Kesha dengan perasaan dongkol. Kesha yang gagal paham mencoba mendekat dan menepuk-nepuk bahu kekasihnya pelan.

"Sayang kenapa? Kamu marah ya? Aku ada salah ngomong ya?"

Naora semakin gencar merapatkan diri dengan selimutnya bahkan kini seluruh tubuhnya sudah terbungkus selimut total hanya menyisahkan puncak kepalanya saja yang menyembul dari gulungan selimut.

"Ra, jangan marah ya. Maafin aku kalo aku ada salah. Ayo lanjut, tanggung nih, sayang."

Naora gemas. Ia membuka selimutnya sesaat dan menyemprot Kesha yang sengaja memasang tampang sedih. "Lo tuh ya, baca situasi dulu kek sebelum ngomong sesuatu."

"Maksud kamu apa?"

"Tadi, lo ngomong aneh di tengah-tengah—"

Kesha menyadari ke arah mana pembicaraan mereka. Belum tuntas Naora menyatakan keluhan, Kesha tidak mau kalah memotong. "Emang salah ya kalau aku mau mengekspresikan perasaan aku? Kamu aneh deh."

"Ya pokoknya, jangan deh."

"Kenapa? Kasih aku alasan."

"Nggak ada."

Kesha menangkap perubahan intonasi suara Naora yang sedikit gemetar sehingga dengan sengaja ia mendekatkan wajahnya pada wajah Naora secara mendadak. Naora tampak sedikit terkejut dan mulai gelisah. "Nggak?"

Hening. Naora salah tingkah dan tiba-tiba kepalanya pening. Namun Kesha terus mendesak. Wajahnya kini hanya berjarak lima senti dari kekasihnya dan dengan susah payah ia mengalihkan pandanganya pada apapun kecuali wajah Kesha. Ah. Mau tenggelam aja di Antartika.

"A-aku... malu."

Tidak ada respon. Naora memberanikan diri menatap lawan bicaranya tepat di mata. "Iya, aku malu. Takut nantinya ekspresi aku nggak kekontrol, takut kamu ilfeel terus—"

Cup!

Satu kecupan singkat mendarat di bibir Naora. Menyusul kecupan-kecupan lainnya, dari dahi, kedua kelopak mata, puncak hidung, kedua pipi dan berakhir di bibir kembali. Kesha tersenyum kian lebar sementara netranya tidak lepas memandangi wajah kekasihnya penuh kekaguman. Naora clueless namun ia juga tidak berani menebak apa yang Kesha pikirkan.

"Kamu gemes. Nikah yuk!"

Naora geleng-geleng kepala. Kembali selimutnya ditarik setinggi bahu dan ia hendak balik memunggungi Kesha serta berceletuk. "Sinting!"

Namun bahunya lebih dulu ditahan Kesha, terpaksa Naora harus menatap Kesha yang masih tersenyum dengan menyebalkan. "Yaudah kawin dulu. Tapi tiga kali."


.

.

a/n: tbh i forgot my password padahal tulisan ini udah ada di draft sejak akhir tahun lalu.

KeshaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang