Di suatu malam yang biasa saja. Tidak ada hujan atau badai. Bukan hari spesial, hanya satu dari banyak malam yang terlewati begitu saja bagi kebanyakan orang. Tapi tidak bagi dua gadis yang kini menatap ponselnya masing-masing di tempat yang berbeda dengan bibir yang melengkung, membentuk senyum termanis yang mereka punya, meski tidak ada yang dapat melihat senyuman itu.
Tidak ada hal istimewa yang terjadi malam itu bagi Naora, hanya satu dari sekian banyak malam yang terlewati dengan tingkah absurd Kesha di dalamnya. Yang mau tak mau Naora akui sebagai rutinitas yang menyenangkan baginya. Meskipun kadang ia dibuat terheran-heran tapi toh akhirnya ia terima saja apa yang Kesha katakan.
Biar saja, Kesha bersorak riang di dalam kamar kosnya hingga menuai protes dari tetangga sebelahnya. Karena setelahnya Kesha jatuh tertidur dengan perasaan senang tak terkira. Sementara di kamar kos lainnya, Naora menutupi wajahnya yang memanas seketika. Menyisakan semburat merah di kedua pipinya yang begitu kentara.
Naora malu setengah mati. Ingin berteriak sekeras-kerasnya tapi tentu saja tidak bisa. Pikirannya kelewat tidak beres karena sudah malam, begitu batinnya.