12 : Playing Victim

2.4K 233 30
                                        

Pagi ini terasa begitu asing, suara derap langkah kaki dari para pekerja rumah sakit yang terdengar sedikit sibuk dipadu dengan suara elektrokardiogram (EKG) di ruangan ini membuat sang empu yang masih setia terjaga di samping tempat tidur sedikit terlihat cemas.

Jemari panjangnya dengan lembut menggengam tangan si mungil sembari sesekali memberikan elusan - elusan lembut dengan harap semoga cepat kembali.

Malam hari telah ia lewati dengan banyaknya tetes air mata yang dengan lancang menetes walau sudah berusaha ia tahan semampunya. Meski sedari tadi terdengar banyak suara, namun bagi Jisung kata yang cocok untuk suasana sekarang ialah sepi.

Sangat sepi disini, udara di dalam ruangan seakan menusuk bola matanya agar kembali mengeluarkan cairan bening yang rasanya mungkin sudah kering karena tadi malam terlalu banyak dikeluarkan. Dengan tatapan penuh harap Jisung menatap ke arah Chenle yang terlihat damai dalam ketidak sadarannya.

Chenle itu terlihat sangat manis, Chenle anak baik bukan? Tapi kenapa harus Chenle yang sakit?

Didalam ketenangannya, tanpa sadar Jeno dan Jaemin sudah kembali kedalam ruangan bermaksud untuk menemani anaknya yang terlihat keras kepala bahwa ia tidak perlu istirahat.

"Jie, papa bawain sarapan ayo di makan dulu keburu dingin kamu nanti ikut sakit loh."

Jisung dengan cepat menggeleng ke arah papanya, "Jisung gak mau makan pa, C - chenle juga belum makankan? Nanti Jisung makannya sama Chenle saja ya pa."

Jaemin menatap sayu ke arah anak semata wayangnya yang terlihat begitu terpukul atas insiden yang terjadi beberapa waktu yang lalu, Jisung terlihat sangat menyayangi Chenle sepenuh hati.

Perlahan tapi pasti Jaemin berjalan ke arah Jisung lalu mendudukan dirinya di samping putra kecilnya yang saat ini sudah tidak kecil lagi. Dengan perasaan yang masih bercampur aduk Jaemin menarik tubuh jangkung milik Jisung kedalam dekapan hangatnya dengan harapan Jisung bisa meluapkan emosinya di dalam pelukan hangat seorang papa.

Tangan mungilnya dengan lembut menepuk - nepuk punggung Jisung mengisyaratkan bahwa semua yang terjadi saat ini tidak apa - apa, Jaemin tidak mau anaknya memendam emosi sendiri lebih baik ia melihat Jisung menangis dan meraung di banding Jisung yang terlihat tegar namun hancur di dalam.

Sampai sekarang belum ada tanda - tanda Chenle bangun dari alam bawah sadarnya, Jisung sampai bertanya - tanya dalam hati apa di sana terlihat lebih menyenangkan di banding di sini?

Jisung meregangkan pelukan Jaemin, menatap penuh tanya ke arah kedua orang tuanya. Sejujurnya sedari kemarin ia bertanya - tanya sendiri, semoga jawaban orang tuanya bisa membuat ia lebih tenang.

"Apa papa dan daddy memberitahukan mereka?" tanya Jisung hati - hati kepada Jeno dan Jaemin.

Jaemin mengagguk sembari mengulas senyum, membetulkan posisi poni rambut anak sulungnya "ya daddy tadi sudah memberitahu paman Haechan dan paman Mark."

"Lalu? apa kata mereka" jawab Jisung sembari mengernyitkan alis bingung mendengar penuturan papanya.

"Daddy tadi bilang bahwa Chenle ada bersama kita di rumah sakit Neo, kemudian paman Haechan bilang ia akan datang tapi kalau paman Mark daddy masih ragu ia akan datang, sebenarnya sedari tadi ponsel paman Mark tidak aktif boy" tutur Jeno menjelaskan.

Jisung menghela nafas panjang, apa yang ia harapkan? Seingat Jisung paman Mark memang tidak ingin bertemu dengan keluarganya bukan? Namun mendengar kabar Chenle masuk rumah sakit apa tidak membuat pintu hatinya terketuk? Jisung merasa di permainkan disini. Orang dewasa yang tidak bertanggung jawab memang makhluk paling buruk di dunia ini.

Lee Chenle - Chenji/JichenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang