13 : Rasa Sakit

2.4K 215 17
                                        

Hari ini Jisung ikut Haechan pulang ke rumahnya untuk mengambil beberapa barang milik Chenle. Ya Jisung cukup bersyukur karena Chenle sudah bangun dari ketidak sadarannya namun rasanya sedikit menyedihkan melihat kekasih hatinya masih harus terbaring di atas ranjang rumah sakit dalam beberapa hari kedepan, menunggu masa pemulihan katanya.

"Kamar Chenle ada di lantai dua ya ji, masuk saja tidak paman kunci. Nanti kalau mau balik lagi kabari Jaemin atau Jeno, paman sepertinya akan istirahat di rumah dulu sampai jumpa" ucap Haechan mengakhiri.

Jisung mengangguk paham, setelah mendengar penuturan Haechan ia langsung bergegas menuju kamar Chenle. Selepas kepergian Jisung, Haechan pergi ke dalam kamarnya. Diam - diam ia larut dalam pikirannya mengenai kondisi Chenle saat ini. Bukan ia ingin terlihat jahat karena membenci kondisi Chenle saat ini, namun ia teringat pada satu orang. Selama ini Chenle masih di berikan uang saku karena Chenle masih bisa membawa nama baik Mark Lee, namun sekarang bagaimana kalau Mark malah membenci Chenle?

Haechan bingung, ia tidak tau harus bagaimana. Kalau Mark tidak menafkahi mereka lagi, lalu bagaimana dengan Chenle nanti? Bagaimana kalau anaknya akan di jauhi banyak orang karena tidak berlimang harta lagi?

Haechan semakin larut dalam lamunannya hingga akhirnya ia tertidur sembari terisak kecil. Hidup ini terlalu kejam bagi orang yang naif.

••●══════••●۩۞۩●••══════●••

"Hari ini ada test pa, Chenle dapat nilai bagus kok tenang saja!" ujar Chenle kepada Haechan.

"Bagus? Anak papa hebat dapat berapa sayang? Ah 85 ya tidak apa - apa kok itu sudah bagus papa senang melihatnya" jawab Haechan sembari melihat lembar test Chenle, cukup lega karena Chenle mendapat nilai yang bagus.

Chenle menghela nafas lega saat melihat hasil testnya, nilai 85 itu nilai yang cukup bagus bukan? Untung saja Daehwi dengan baik hati membantu Chenle untuk menyelesaikan test, kalau tidak mungkin sekarang Chenle tidak akan tenang.

Sedari kecil Chenle selalu ingat bahwa daddynya selalu berkata kalau ia akan merasa bangga bila mempunyai anak yang cerdas. Bahkan Mark berkata akan selalu menyayangi anaknya bila nilai anaknya memuaskan, hal itu membuat Chenle berfikir bahwa ia harus mempunyai nilai yang bagus.

Bahkan Chenle ingat kalau Mark pernah mengacuhkan Chenle hanya karena ia mendapat nilai 80 di testnya. Saat itu usia Chenle bahkan baru 9 tahun. Kalimat yang selalu Chenle ingat adalah ketika papanya berkata bahwa ia harus selalu mendapat nilai bagus agar daddynya tetap menyayangi Chenle seperti biasanya. Terkadang Haechan sendiri merasa sedih karena ia tidak bisa membantu Chenle sama sekali. Haechan yakin bahwa Chenle adalah anak yang kuat, buktinya sekarang Chenle bisa mendapat ranking pararel.

Namun Haechan, apa kau yakin Chenle sekuat itu?

Nyatanya tidak.

Semua berawal dari saat Chenle menginjak kelas 4 sd tepatnya umur 10 tahun di mana Chenle selalu menghabiskan hari liburnya dengan belajar. Ia masih terlalu takut di abaikan sehingga ia menekan dirinya sendiri agar mendapat nilai yang bagus. Bahkan terkadang Chenle enggan keluar kamar untuk sekedar makan. Puncaknya pada saat kelas 6 di mana ia harus mendapat nilai sempurna di setiap latihan, ujian, tugas bahkan try out.

Selepas pulang sekolah Chenle selalu mengurung diri di kamarnya untuk mengerjakan banyak soal latihan agar nilainya tidak berantakan. Terkadang Chenle melewatkan semua jam makannya, hingga ia juga terkadang lupa untuk minum dalam sehari. Hal tersebut mengakibatkan Chenle harus di rawat di rumah sakit akibat dehidrasi dan stress belajar. Haechan rasanya ingin marah saja bagaimana bisa ia tidak menyadari bahwa anaknya terlalu keras dalam belajar? Kalau bukan karena target yang di berikan Mark, mungkin Chenle tidak akan terbaring lemas di atas brankar rumah sakit dengan infus di tangannya.

Lee Chenle - Chenji/JichenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang