Hope you enjoy this story, selamat membaca semuanya ^~^
-
-
-
"Pa sini jangan nunggu di pintu gitu temenin lele hihi" seru Chenle ketika melihat sosok Haechan tengah berdiri di depan pintu.
"Papa ih jangan ngelamun gitu, sini sini papa ngga kangen sama lele ya?" sambung Chenle sedih.
Haechan tertegun di buatnya. Setelah insiden waktu itu Haechan merasa malu saat ini. Ia merasa tidak pantas untuk menemui Chenle setelah kejadian saat itu. Haechan sudah tidak ada muka lagi di depan anaknya sendiri. Rasanya saat ini Haechan ingin sekali meraih tangan mungil tersebut kemudian menggenggamnya dengan erat, mengucapkan kata maaf berkali - kali atas tindakannya beberapa waktu lalu namun mengapa lidah ini terasa kelu saat menatap manik bulat milik anaknya?
Tanpa sadar Haechan meneteskan air matanya, Haechan benci sangat benci dengan dirinya saat ini. Haechan benci dengan fakta yang mengatakan bahwa Haechan memiliki mental yang tidak stabil. Salah satu ketakutan terbesanya adalah lepas kendali seperti kemarin. Lebih menyedihkan rasanya saat ia menyadari korban dari ketidak stabilan mentalnya adalah anaknya sendiri. Mungkin Haechan harus mengakui bahwa Jaemin benar, ya Haechan memang bodoh dalam urusan seperti ini Haechan rasanya menyesal karena Chenle harus memiliki orang tua buruk seperti dirinya.
"Papa, sini sama lele ya? Sini lele mau ngomong sama papa" panggil Chenle lembut. Perlahan namun pasti Haechan berjalan ke arah ranjang milik Chenle meskipun terlihat langkahnya masih ragu - ragu.
Chenle tersenyum hangat menyambut tangan lembut milik papanya. Tangan hangat ini ah tentu saja tangan yang selalu Chenle rindukan kehangatannya akhir - akhir ini. Dengan mata yang masih sayu Chenle mengalihkan pandangannya ke arah wajah sembab milik papanya. Chenle di buat terdiam saat melihatnya, apa papanya banyak sekali menangis sampai matanya sembab seperti panda benaknya seakan bertanya - tanya. Mata hitam bulat milik papanya merupakan salah satu bagian favorite bagi Chenle. Dengan hati - hati Chenle mengelus - elus punggung tangan milik Haechan.
"Papa apa kabar? Mata papa sembab banget, lele khawatir" ungkap Chenle jujur.
"P - papa...papa ngga pernah baik - baik aja le, kamu ngerti kan?" balas Haechan dengan suara pelan.
Chenle mengangguk pelan tanda mengerti, "Papa jangan banyak pikiran ya? Lele kangen sama papa tau hehe seneng liat muka papa lagi!"
"Nggak Chenle, kamu nggak boleh begitu."
"Why? Lele sudah lama ngga ketemu papa, lele senang liat papa lagi meski lele sedih liat wajah papa yang keliatan cape banget" tanya Chenle bingung.
"Papa ngga pantas Chenle papa nggak pantas..." seketika tangis Haechan pecah saat itu juga. Haechan merasa sangat berdosa telah membuat anak sebaik Chenle menderita karena hubungan orang tuanya yang tidak baik.
"Papa please listen, nggak ada yang nggak pantas papa. Papa tau bukan sesayang apa Lele sama papa dan daddy? Meski sejahat - jahatnya daddy, tapi tetap aja Chenle bakal sayang dengan daddy kalau dia mau berubah jadi lebih baik."
"Nggak Chenle, kamu nggak bisa maafin papa gitu aja. P - papa jahat Chenle, papa jahat papa ngga pantas buat ada disini, papa ngga tau malu Chenle..." racau Haechan di sela isakannya. Bahkan bahu milik Haechan sampai bergetar karena tangis sang empu.
Chenle melirik ke arah Jisung yang masih tenang menyimak obrolan Haechan dan Chenle. Jisung nampak serius mendengarkan percakapan mereka, namun sebenarnya tujuan utama Jisung tentu saja untuk menjaga sang pujaan hati. Jisung takut Chenle tersakiti oleh papanya sendiri. Merasa di perhatikan Jisung melirik balik ke arah Chenle, mata milik Chenle seakan - akan berkata bahwa mereka membutuhkan ruang sendiri tanpa adanya Jisung di ruangan ini. Menghela nafas pasrah Jisung memutuskan untuk pergi dari ruangan yang dihadiahi dengan senyuman manis dari Chenle.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lee Chenle - Chenji/Jichen
Fanfiction▶[ JICHEN - CHENLE ANGST ] - On Going Ini semua berisi kisah tentang Lee Chenle. Lelaki mungil yang menyembunyikan segala luka dan rasa sakitnya dibalik kesempurnaan yang ia miliki, ck miris bukan? "Tidak semua yang terlihat bahagia di luar itu bena...
