16 : Anak baik

2.1K 228 54
                                        

Sudah sebulan lebih namun hingga kini Chenle tidak menemukan titik terang dalam hidupnya. Bukannya membaik justru kondisi Chenle semakin menurun. Meski begitu Chenle tidak pernah absen menulis berbagai hal dalam diary kecilnya.

"Chenle halo~ Kemana aja ih kangen tau!"

Chenle mengernyit bingung melihat orang di hadapannya. Orang ini terlihat sangat bersemangat, Chenle jadi lelah melihatnya.

"Chenle ihh ini Daehwi! Masa lupa sih sama temen sendiri" ucap Daehwi sebal.

"Ah Daehwi? Lele gak lupa kok cuman lagi kurang fokus aja gitu..."

"Chenle lagi kurang enak badan ya? Nanti tugas - tugas Chenle liat Taro aja okey? Jangan khawatir Taro ini pintar loh" Shotaro berujar dengan riang. Meski terlihat pasif namun Shotaro diam - diam selalu memperhatikan gelagat teman dekatnya.

Akhir - akhir ini Shotaro merasa bahwa Chenle terlihat aneh. Seperti tidak masuk beberapa hari, kemudian plester luka di tangan seperti bekas infus, nilainya pun turun dengan drastis. Chenle yang detail kini berganti menjadi Chenle yang pelupa dan ceroboh, yang lebih mengejutkan adalah Chenle pernah melupakan nama - nama orang di kelas. Shotaro memang bukan ahli seperti papinya, tapi orang biasa pun pasti bisa menilai perubahan yang terjadi pada Chenle.

"Nih nih kalau Chenle lupa tak ingetin nih, yang kayak berang - berang ini Shotaro, terus yang tadi berisik itu Daehwi! Eum sama yang ini, ini pacarnya Haruto kkk~ namanya Jeongwoo terus yang bibirnya monyong ini Dongpyo emang centil sama genit terus yang ini yang hobinya senyum itu Jeongin yang terakhir aku Beomgyu~ yang paling cantik" Beomgyu berujar dengan riang.

Chenle tersenyum canggung, jadi malu kalau begini.

"Lele jangan pikirin nilai terus ya? Kan kalau ada kesusahan lele bisa minta tolong sama kita" ujar Jeongwoo sembari mengacak rambut Chenle diikuti Dongpyo yang mengangguk setuju. Meski terkadang mereka terlihat tidak akur namun mereka selalu memprioritaskan orang - orang terdekat.

Chenle menghela nafas berat, ia merasa sangat bersalah kepada teman - temannya. Mereka semua orang yang baik namun mengapa otak Chenle malah lebih cepat melupakan mereka.

"Maaf, maafin lele..."

"Chenle pasti lagi banyak pikiran ya? Kita gak maksa lele harus terus cerita ke kita tau jadi jangan merasa terbebani ya? Tapi lele harus ingat kalau butuh sandaran kamu punya 5 pundak yang siap jadi sandaran kamu kapan pun itu!"

Chenle menyunggingkan senyumnya, Shotaro memang selalu bisa menenangkan pikiran buruknya. Dengan lembut Chenle merangkul kelima sahabatnya, meski mereka terbilang cukup baru tapi Chenle bersyukur mempunyai sahabat sebaik mereka. Chenle rasa keenam sahabatnya kelak akan menjadi orang baik dan sukses, kalau bisa berharap ingin sekali Chenle menyaksikan hal tersebut. Tapi lagi - lagi Chenle harus menelan kenyataan bulat - bulat, hidupnya tidak selama itu.

"Terimakasih, lele senang punya teman sebaik kalian. Kalian adalah yang terbaik dari yang terbaik hihi" ucap Chenle disertai kekehan kecil di belakangnya, Chenle itu anak baik.

"... dan maaf kalau waktu kita menjadi semakin singkat, Chenle sayang kalian"

••●══════••●۩۞۩●••══════●••

"Papa!"

"Ya ampun sayangnya papa, ingin makan apa hari ini?" Haechan memeluk tubuh putranya dengan hangat.

Sebulan ini Haechan sudah mulai berdamai dengan dirinya. Ia juga sudah melakukan konsultasi dan terapi dengan papinya Shotaro, ah sebut saja Dr.Winwin. Haechan sadar menjadi orang tua memang tidak mudah, namun tidak seharusnya ia melampiaskan emosinya kepada anak semata wayangnya yang tidak tau apa - apa. Haechan banyak belajar dan mencoba untuk merubah kebiasaan buruknya. Walaupun sesekali ia lepas kendali tapi Chenle selalu mendukung yang terbaik untuk dirinya. Haechan bersyukur memiliki putra sebaik Chenle.

Lee Chenle - Chenji/JichenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang