13

135 19 4
                                    


"Gue sendiri juga nggak tahuuu. Gue udah pede kalau gue bisa suka sama cowok selain dia. Dan bisa-bisanya gitu loh gue suka sama dua cowok di saat bersamaan."

Junho mengerutkan kening tipis.

"Minhee?" Ucapnya enteng tanpa menimang-nimang apakah perkataannya barusan membuat gue selaku si lawan bicara panik. Ucapan itu mencelos begitu saja dari mulutnya yang membuat gue membelalak kaget.

"Gue cuma tebak asal sih. Minhee beneran ya?"

"Bukan ... bukan ... " tenang gue seraya mengibaskan tangan di udara, melihat Junho yang mengamati mimik wajah gue yang berubah dalam hitungan detik. Gue tersenyum untuk mengurangi kecanggungan yang baru saja muncul.

"Player," Sindirnya pelan. Alis hitam itu mengedik lalu menaikkan kedua bahu acuh. Ia ketuk helm di genggaman gue seakan menyuruh gue memakainya. Lelaki itu juga menunjuk belakang motornya. Memberi kode agar gue segera naik dan berangkat.

"Bukan gue ya ternyata," lirihnya diiringi suara tawa miris di akhir kalimatnya.

***

Membutuhkan waktu lama untuk sampai ke sekolah ini. Macet bukan menjadi salah satu hambatan. Tadi di tengah jalan juga sempat hujan, hingga memaksa kita untuk meminggirkan motor di salah satu halte dan membuat Junho melepaskan jaketnya untuk dikenakan ke gue. Cukup kebesaran, mengingat proporsi tubuh Junho yang bongsor. Tapi gue lumayan suka karena aroma jaketnya yang wangi.

Perkataan yang dianggap candaan kemarin sore gue pikir tak akan terealisasikan. Junho memang sosok yang lumayan akrab dengan gue, tapi, kita masih memiliki batasan, mengingat kita hanya seseorang yang kebetulan teman satu kelas dan sering terlibat kerja kelompok bersama karena nomor absen yang berdekatan. Tidak lebih. Apalagi untuk berangkat ke sekolah bersama. Itu gue anggap tabu karena Bang Heesung bukan orang yang segampang itu melepas gue dengan seorang lelaki. Kalau Jay mungkin masih bisa, sebab kebetulan mereka akrab. Selain Jay, kayaknya bakal sulit.

Gue menggigit pipi bagian dalam ketika melihat Junho melepas helmnya. "Lain kali jangan gitu lagi."

"Kenapa?" Gue menggertakkan gigi keki. "Bang Heesung tuh gitu. Hari ini mungkin cuma beruntung karena ada Bunda. Besok-besok udah diinterogasi kali lo. Paling parahnya ya lo dipukul."

"Tapi pulang entar gue antar, ya?" Gue berdecak sebal. "Nggak bisa! Abang gue tuh kelewat aneh, dia sering ninggalin gue tapi kalau pulang bareng cowok nggak boleh. Beruntung sih lo kemarin nganterin gue, Bang Heesung belum pulang tanding basket."

Gue menghembuskan nafas pelan lalu bergerak untuk melepas jaket hitam Junho yang masih membungkus tubuh gue. Junho menyekal tangan gue seolah tak memperbolehkannya. "Pake aja."

Gue tertawa pelan. "Kayaknya habis ini gue harus ibadah lebih giat deh, gue harus bersyukur ke Tuhan karena selama ini gue selalu dikelilingi orang baik. Sampai gue bingung harus balas kebaikan dia kayak gimana. Jadi, jangan berbuat baik ke gue. Gue nggak bisa kasih apa-apa ke lo tau, Jun."

"Kenapa? Gue memang selalu baik kok ke semua orang." Gue mendatarkan wajah menyesal. "Udahlah. Beneran gue pakai ya ini?"

"Eh! Bentar!" Menaikkan alis adalah hal yang pertama kali gue lakukan setelah membalikkan badan. Gue menarik helai-helai rambut yang menutupi dahi lalu menjepitnya karena lumayan kesal dengan angin yang pagi ini tadi lumayan berhembus kencang. Apalagi di tempat parkiran ini, mungkin karena efek pohon yang lumayan banyak.

"Tentang yang kemarin---"

"Kemarin yang mana? Nggak usah aneh-aneh deh."

"Yang kemarin sore gue serius."

Detener | JayTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang