Double F Bab 7. Majalah Dewasa
Akhir pekan ini, Fatih memutuskan bertandang ke rumah Freya tanpa mengabari terlebih dahulu. Dia dilanda rindu berat. Sejak hari pertunangan Fatih belum sempat bertemu muka lagi dengan sang tunangan lantaran kesibukan aktivitas satu sama lain. Ditambah jadwal Freya yang kini kian bertambah menyita waktu, bukan hanya sekadar mengajar.
Di perjalanan, Fatih mampir ke tempat penjual cakwe dan odading langganan Freya, juga membeli beberapa gelas boba drink kesukaan Aldo, calon adik iparnya. Dia pun menyempatkan mampir ke kios penjual buah-buahan. Membeli beberapa jenis buah-buahan segar nan sehat sebagai penyeimbang makanan gorengan, juga tak lupa membeli dua sisir pisang kepok kualitas super favorit Anwar si calon mertua.
Honda Jazz putihnya diparkir di pekarangan rumah Freya. Setelah memiliki penghasilan sendiri, Fatih menjual mobil minibus lama pemberian orang tuanya dan menggantinya ke mobil putih tersebut bermodalkan uang hasil penjualan mobil sebelumya ditambah tabungannya. Kendati bukan mobil mewah, akan tetapi dia bangga karena yang menjadi kendaraannya kini terdapat andil hasil dari keringatnya.
Aldo menyambut kedatangan Fatih penuh sukacita. Bocah SMA kelas satu itu menyapa Fatih dan tanpa basa basi segera menyambar kantung belanjaan dari tangan Fatih.
"Wih, bobanya banyak. Asik, Abang memang paling pengertian," pekik Aldo senang. "Ini semuanya buat aku ya, Bang?" Aldo bertanya sembari merogoh salah satu kantung, mengambil sepotong cakwe yang kemudian langsung dilahapnya penuh semangat.
"Bagi sama kakakmu juga lah. Nanti dia ngamuk." Fatih tertawa kecil sambil mengacak rambut Aldo. "Mana kakakmu?"
"Ada di kamar, lagi lihat majalah dewasa," sahut Aldo santai dengan mulut penuh makanan. Sedangkan reaksi Fatih langsung terperangah, matanya membulat sempurna dengan mulut menganga.
"Apa! Ma-majalah de-dewasa?" sembur Fatih tergagap.
"Iya, Bang. Soalnya gambar sampul depannya seksi. Berarti majalah dewasa kan? Ke kamarnya aja kalau enggak percaya, Abang lihat saja sendiri," tukas Aldo sambil sibuk mengunyah potongan cakwe kedua.
"Eh, i-iya. Babeh mana?" Fatih mengusap tengkuknya kikuk, celingak-celinguk mencari keberadaan Anwar si calon mertua berkumis tebal.
"Babeh masih di bengkel. Biasanya sore akhir pekan begini banyak pelanggan. Aku mau ke dapur bikin kopi buat Abang. Nanti kopinya aku anter ke kamar Kak Freya."
Aldo berlalu begitu saja meninggalkan Fatih yang masih melongo di ruang tamu. Pikiran si dokter muda itu menerawang. Untuk apa pacarnya sampai harus melihat majalah semacam itu padahal ada dirinya yang nyata bukan hanya gambar semata. Jika Freya meminta, dengan sukarela ia bersedia berfoto ala-ala atlet binaraga demi kekasih tercintanya. Ataukah mungkin Freya memiliki hobi aneh memandangi gambar para model pria yang terpampang di majalah dewasa? Pikirnya.
Tiba-tiba rasa cemburu timbul begitu saja. Dadanya mendadak panas. Fatih tak rela mata suci gadisnya ternoda. Bola mata jernih nan memukau sang tunangan hanya boleh dicemari hal erotis oleh dirinya, bukan pria lain meski itu hanya berupa gambar.
Fatih melangkah lebar menuju kamar Freya. Mendorong pintunya kencang tak sabaran. Dilihatnya Freya yang sedang menelungkup di atas kasur sambil memegang sebuah majalah.
Headset berwarna hitam terpasang di telinga Freya. Bunyi ribut dari pintu yang dibuka kasar tak mengalihkan si tomboy sama sekali dari majalah di tangan lantaran pendengarannya tersumpal musik favoritnya yang tengah mengalun merdu.
Bersusah payah mengendalikan rasa cemburu yang berkobar memenuhi hati dan kepala, Fatih mengintip dari atas kepala Freya, ingin melihat isi majalah dewasa yang sedang dibolak-balik gadisnya.
Fatih makin terbelalak, tetapi kini wajahnya ikut memerah, meraba sendiri pipinya yang terasa mepanas. Ternyata Freya bukan sedang melihat majalah dewasa, melainkan katalog lingerie yang memuat model-model gaun tidur super seksi menerawang. Tenggorokan Fatih kerontang, meneguk ludahnya sendiri begitu saja, pikirannya malah berkelana kemana-mana. Dia senyum-senyum sendiri seperti orang gila kala membayangkan Freya yang tomboy memakai gaun seksi semacam itu hanya untuknya.
Freya masih bersenandung dan belum menyadari keberadaan Fatih di kamarnya. Menggoyangkan kepala ke kanan dan ke kiri mengikuti sedapnya alunan musik seraya ikut bernyanyi kendati nadanya luar biasa sumbang merusak pendengaran orang-orang sekitar.
Begitu Freya menoleh ke kiri, pandangannya langsung jatuh kepada Fatih yang sedang merona parah. Saking kagetnya, refleks ia memukuli membabi buta menggunakan katalog yang dipegangnya. Pencahayaan kamarnya yang sengaja disetting minim membuat matanya keliru menyimpulkan. Mengira Fatih adalah sosok penampakan menjelang waktu Magrib.
"Pergi setan merah, bangsat! Berani-beraninya kau gentayangan di kamarku. Segeralah enyah, bedebah! Atau kusumpal kau dengan sesajen obeng kembang!" Freya menghardik brutal tanpa memperhatikan dengan baik siapa yang dipukulinya. Bahkan bantal dan guling ikut melayang hingga berserak di lantai.
"Frey, tahan! Ini aku!" Fatih mencoba berteriak sambil menghalau serangan berbagai jurus dari Freya. Mulai jurus rajawali terbang sampai geboy mujair.
"Fatih?" Freya menghentikan aksinya saat mengenali intonasi nada yang amat familiar di indera pendengarannya. Napasnya kacau, dadanya kembang kempis tak karuan dan rambutnya acak-acakan.
Fatih yang sejak tadi melindungi wajah menggunakan kedua lengan baru berani menurunkannya saat suasana dirasa aman dan kondusif. Pasalnya Freya bukan hanya gadis biasa, tetapi gadis berkekuatan super, yang kekuatannya layak dijejerkan dengan para Avengers Marvel.
"Kamu sejak kapan masuk ke kamarku sih? Kok enggak kedengeran langkah kaki? Kukira setan merah dari film horor yang kutonton semalam beneran gentayangan!" gerutu Freya kesal sembari menetralkan keterkejutannya.
"Ya ampun, Frey. masa cakep gini kamu samain kayak setan?" Fatih menekuk wajahnya, tak terima dikatai setan.
"Abisnya mukamu merah kayak tomat sambel, terus mendadak muncul begitu aja."
"Tapi masa iya kamu enggak bisa mengenali dengan mudah wajah tunanganmu sendiri?Kita sudah pacaran empat tahun, Frey. Empat tahun!" Fatih melayangkan protes. Mengacungkan empat jari di depan wajah Freya. Cemberut mulai merajuk.
"Ayang, tadi itu aku kaget. Maaf ya, beneran cuma refleks. Maafin aku ya, Ayang Dokterku." Freya membujuk, menarik lengan Fatih untuk duduk di tepi ranjang.
Freya memasang wajah manis andalannya untuk meluluhkan gunungan kamarahan prianya, ekspresi yang selalu mampu membuat Fatih jatuh cinta berulang kali dan makin terperosok ke dalam pesonanya.
"Dua hari lalu katanya janji nggak bakalan bar-bar lagi. Tapi mana?" sungut si dokter muda itu, masih merajuk.
Freya mulai melancarkan trik lainnya seperti biasa, menggeser duduknya lebih merapat merangkul lengan Fatih, lalu bersandar manja di bahu sang pacar. "Ayang ganteng, jangan ngambek dong. Maafin ya, nggak sengaja. Suwer."
Dengan nakal Freya mengusap-usap menggoda di sekitar kancing kemeja Fatih merambat dari bawah hingga ke atas membelai rahang tegasnya juga. Kalau sudah begini Fatih takkan bisa berlama-lama marah pada kekasih yang amat digilainya.
"Ehm, ya sudah aku maafin. Tapi, cium dulu." Fatih mengetukkan telunjuk di pipinya.
"Ish ... dasar Dokter manja," goda Freya gemas. Mencubit pelan pipi sang kekasih, membuat egonya Fatih melambung merasa diinginkan dibujuk demikian.
Dengan senang hati si tomboy itu mendekatkan wajah, hendak mengecup pipi Fatih demi memenuhi syarat permintaan maaf. Tepat saat bibir Freya hampir mendarat di pipi pria yang sedang mengulum senyum senangnya itu, dengan cepat Fatih menoleh sehingga kecupan Freya mendarat di bibirnya bertepatan dengan Aldo yang masuk membawakan secangkir kopi.
"Woi! Kalian lagi ngapain? Dilarang melanggar batas sebelum waktunya!" teriak Aldo menggelegar membuat dua sejoli itu terperanjat kaget bukan kepalang.
Bersambung
KAMU SEDANG MEMBACA
Double F (END) New Version
RomanceAwas baper! Hati-hati menyebabkan ngakak guling-guling. Lumrahnya orang-orang jatuh cinta di suasana romantis nan syahdu. Berbeda dengan Fatih yang jatuh cinta sejak pandangan pertama pada Freya kala menyaksikan si gadis tomboi itu piawai menggunak...
