Bab 10. Sakit Tenggorokan
Anwar mengerutkan kening hingga kedua alisnya nyaris menyatu, tatkala melihat si sulung sepulang mengajar masih memakai baju berlengan panjang model kerah tinggi semacam sweater melapisi seragam dinasnya sejak tadi pagi.
Hanya saja ada yang aneh di sini. Dandanan si tomboy mirip orang yang sedang meriang serta flu, tetapi wajah Freya menunjukkan dengan jelas bahwasanya kondisi tubuhnya saat ini baik-baik saja. Sangat sehat.
"Frey, tumben kamu betah pakai baju begitu di hari terik. Yakin nggak gerah?" celetuk Anwar disertai tatapan menyiratkan keheranan saat Freya memasuki dapur. Anwar malah gerah sendiri melihat putrinya salah kostum.
"Eh. I-ini Beh. Anu, teng-tengorokanku lagi agak nggak enak. Ehm ... uhuk, uhuk," ujar Freya beralasan. Berpura-pura terbatuk.
Si tomboy yang memakai sweater warna biru tua itu berusaha menyembunyikan kegugupan dengan berpura-pura terbatuk seraya mengusap-usap bagian lehernya supaya lebih meyakinkan. Juga menepuk-nepuk dadanya sendiri mirip orang tersedak sembari menuang air mineral dari dispenser yang letaknya di dekat posisi Anwar berdiri.
Degupan jantung Freya berdebar tak karuan. Bagai suasana tawuran. Gelas yang dipegangnya ikut bergetar mengikuti tangannya yang gemetar lantaran dirinya dilanda kecanggungan. Butiran-butiran keringat juga bermanik di dahinya seraya menelan ludahnya begitu kentara.
Ia tengah berbohong pada Anwar. Baju berkerah tinggi terus dipakainya sejak pagi bukanlah karena sakit tenggorokan, melainkan demi menutupi jejak merah ulah bibir sosor bebek sang kekasih di hari kemarin. Bertebaran hingga tengkuk melukis kulitnya.
"Waduh, ini pasti karena kamu kebanyakan makan gorengan sama jajan boba bareng Aldo. Kamu harus jaga kesehatan, Frey. Pelatihanmu prosesnya masih panjang, baru seumur jagung. Tapi yakin cuma sakit tenggorokan biasa? Dari pagi Babeh perhatikan kamu usap-usap leher terus. Sini, Babeh olesi kayu putih?" kata Anwar khawatir.
Freya yang sedang meneguk air dari gelasnya, tersedak si air mineral hingga menyembur jauh begitu saja. Merembes melalui hidung juga, menciptakan sensasi perih yang diakhiri batuk-batuk.
Kalimat Anwar sukses membuatnya belingsatan bercampur terkejut setengah mati. Kalau ayahnya itu mengetahui bahwa saat ini bertebaran stempel bibir laknat di lehernya, bisa-bisa dirinya dicecar habis-habisan dengan berbagai macam wejangan yang membuat telinganya berdenging dan kepalanya pusing bukti main.
"Eh, nggak usah. Na-nanti juga baik sendiri. A-aku mau ke rumah Tante Mirna. Udah telat kayaknya, pasir udah ditungguin Mbak Runi," sambar Freya menolak, tergagap panik.
"Lho, kok sudah mau pergi lagi? Kamu sedang kurang sehat, sebaiknya makan dulu, kamu kan baru datang," ucap Anwar penuh perhatian seperti biasa sembari menarik tangan Freya.
"Eh, a-aku nggak laper, Beh. Terus aku juga lagi diet, biar nanti pas hari pernikahan pakai kebayanya bagus, kemayu. Ya udah aku berangkat dulu ya."
Dengan cepat Freya menyambar tangan Anwar dan mencium punggung tangan sang ayah. Berpamitan singkat kemudian terbirit-birit meninggalkan rumah demi bisa segera kabur sebelum kebohongannya terendus.
*****
Fatih sedang mengompres pelipisnya menggunakan kantung kain putih berisi es batu, sembari mengawasi para tukang yang dibayarnya untuk membereskan barang-barang kelengkapan rumah tangga sepulang dirinya bekerja.
Di bawah kantung tersebut, tampak serupa benjol beserta lebam yang kini membiru di permukaan kulitnya dilengkapi bilur-bilur kemerahan.
Lebam dan benjol tersebut merupakan ganjaran atas ulah jemari nakalnya hari kemarin. Yakni saat tangannya merajalela terlena hingga khilaf menarik kaitan di punggung Freya, dan sebuah tinju hangat dihadiahkan di pelipisnya selang beberapa detik. Disusul pekikan marah juga kata-kata makian mesum gila yang dilontarkan padanya bertubi-tubi.
"Haish! Ini semua gara-gara hormon sialan yang terlalu deras mengalir di dalam darahku. Hei tangan, sejak kapan kau jadi tak terkendali seperti kemarin, huh!" gerutunya kesal.
Fatih memelototi sebelah tangannya yang terangkat di udara. Ia mengumpat dan memarahi anggota tubuhnya sendiri. Para pekerja yang berlalu lalang, saling bertukar pandang penuh tanya menyaksikan si dokter muda mengomeli telapak tangannya sendiri. Mereka saling berbisik, lantas berbenah lebih cepat lantaran merasa takut jikalau orang yang menyewa jasa mereka memiliki kelainan.
Fatih membanting punggung di sandaran empuk sofa. Menghela napas dalam-dalam sebelum membuka gawainya, membuka tutup kontak bernama My Angel berulang kali.
Ia ingin menghubungi pujaan hatinya, rindu mendengar teriakan ceria gadisnya di seberang sana. Namun, gadisnya itu pastilah masih marah padanya. Mengingat saat diantar pulang kemarin setelah insiden kekhilafan, Freya tak mengeluarkan sepatah kata pun, padahal biasanya si tomboy mengoceh sepanjang jalan tiada henti. Ditambah lagi dengan jejak merah yang dibubuhkannya akibat terbawa arus nafsu menghasilkan lemparan tatapan tajam dari Freya bak sebilah pedang saat turun dari mobilnya, membanting pintu tanpa mengucap salam manis perpisahan seperti yang biasa mereka lakukan setiap kali menyudahi acara kencan.
Mendesah resah, Fatih menaruh ponselnya sembarang. Memejam sembari menekankan kepala ke sandaran sofa, memutar otak mencari solusi untuk mendapat pengampunan.
Sebuah ide cemerlang terlintas di benaknya, Fatih teringat Freya mendambakan helm baru yang modelnya mirip dengan yang dipakai para pembalap MotoGP.
Freya memang tak merengek ingin dibelikan, sepertinya si tomboy juga cukup tahu diri untuk tidak meminta lantaran helm tersebut harganya lumayan mahal. Meskipun Fatih selalu mengatakan bahwa semua kerja kerasnya demi membahagiakan si tulang rusuknya, sebegitu cintanya Fatih pada si gadis tomboynya.
Seketika wajah kusut Fatih sirna. Duduk menegakkan punggung, dia membuka aplikasi belanja online dengan mata berbinar. Mencari-cari jenis helm yang diinginkan Freya untuk dihadiahkannya sebagai permintaan maaf.
*****
Sudah lima hari Freya tidak membalas pesan maupun mengangkat telepon dari Fatih. Masih dalam mode merajuk atas insiden pengait bra juga jejak merah di lehernya.
Faktanya Freya tak sepenuhnya marah, hanya saja merasa gengsi karena sejujurnya dirinya pun menikmati sentuhan mesra Fatih. Akan tetapi, akal sehatnya masihlah bekerja dengan baik, sehingga bisikan sesat untuk mencicipi madu asmara sebelum waktunya dapat terhindarkan.
Hari ini adalah jadwal Freya kembali mengikuti pelatihan dengan Runi. Untuk pelatihan kali ini, Runi yang datang ke rumah Freya dengan membawa sekantung belanjaan. Freya menyambut, agak kebingungan menatap kantung belanja juga wajah Runi bergantian.
"Mbak, mana peralatan merawat wajah?" tanyanya. Pasalnya ia tak menemukan skincare maupun produk perawatan lainnya yang sudah hampir beberapa waktu ini menjadi menu yang sering disantapnya.
"Mulai hari ini kita masuk ke tahap berikutnya, yaitu belajar memasak. Kita langsung ke dapur aja, Frey. Jangan buang waktu." Runi segera berlalu ke dapur, tak mempedulikan Freya yang seolah enggan mengikuti langkah si kakak sepupu.
"Akhirnya, aku harus ketemu peralatan dapur juga. Padahal kunci inggris lebih menarik," keluhnya lesu. Mau tak mau Freya menyeret langkah malasnya ke dapur, sebelum teriakan omelan Runi menggelegar ke seantero rumah.
Bersambung
KAMU SEDANG MEMBACA
Double F (END) New Version
RomanceAwas baper! Hati-hati menyebabkan ngakak guling-guling. Lumrahnya orang-orang jatuh cinta di suasana romantis nan syahdu. Berbeda dengan Fatih yang jatuh cinta sejak pandangan pertama pada Freya kala menyaksikan si gadis tomboi itu piawai menggunak...
