Bab 15. Kebelet Nikah
Waktu makan siang akan dimulai dalam waktu tiga puluh menit lagi. Freya bersama para pekerja di dapur, sibuk mengangkut dan menata berbagai macam hidangan ke meja makan. Tinggal menu karedok yang belum diangkut. Biasanya sayuran mentah tersebut akan dihidangkan dicampur dengan saus kacang sesaat sebelum disantap agar tetap terjaga kesegaran dan citarasanya.
Fatih dan Bu Sarah baru kembali dari gudang pisang bersama dengan Pak Wisesa. Fahri serta anaknya sudah datang entah sejak kapan, tengah bersantai di kursi kayu dekat kolam ditemani Nisa. Sedangkan Freya masih berada di sekitar dapur, ikut membantu menghidangkan ini dan itu. Bersemangat berbaur dengan banyak orang.
Si wanita paruh baya yang tadi menyerahkan tugas menghaluskan bumbu pada Freya, kini mulai menuang air panas secukupnya ke dalam cobek agar bumbu halus itu menjadi saus kental. Setelah diaduk merata dan siap dicampur dengan sayuran, entah kenapa ia ingin mencicipinya terlebih dahulu, padahal biasanya dirinya tidak lagi melakukannya lantaran sudah yakin akan takaran bumbu yang dihaluskan bersama kacang tanah tadi.
Dia sudah ratusan kali membuat Karedok, sudah pasti jelas hafal di luar kepala akan porsi takaran bumbu racikannya agar menghasilkan perpaduan rasa yang sempurna.
Dituangnya sesendok saus ke dalam piring kecil dan dia pun mencicipinya. Alangkah terkejutnya ketika lidahnya menyecap, sausnya terasa luar biasa asin. Dia terkesiap dan bingung, entah mengapa sausnya menjadi asin nyaris pahit padahal sebelum bumbu diulek dia yakin sudah menuang garam sesuai takaran biasa.
Didera kebingungan, dia kemudian tergopoh-gopoh memanggil Freya, tetap dengan nada dan sikap sopan.
"Neng, maaf. Maaf sekali. Tadi bumbu ini tidak dikasih garam lagi kan?" tanyanya pelan dan sungkan.
Freya menggeleng lugu. "Saya nggak nambahin bumbu apapun lagi. Hanya menghaluskannya saja. Kenapa?" Freya menukas sembari mengamati raut tak biasa dari wajah si wanita paruh baya yang kini memucat itu.
"Ini ... ini bumbunya keasinan, Neng. Bukan cuma keasinan. Tapi lebih tepatnya asin sekali," jelasnya panik. "Waktu makan siang tinggal sebentar lagi. Kalau membuat ulang sudah pasti waktunya tidak akan cukup. Terlebih lagi stok kacang tanah di dapur kebetulan sedang habis."
"Hah? Kenapa bisa mendadak keasinan?" Freya pun merasa terkejut dan ikut panik. Ia tak merasa menambahkan lagi garam ke dalam bumbu.
Fatih yang mencari-cari Freya masuk ke dapur dan mendapati ekspresi sang kekasih tengah kalut. Fatih segera menghampiri, Freya menoleh cepat ketika mendengar suara tambatan hatinya memanggil.
"Kamu kenapa?" Fatih mengernyitkan keningnya penuh tanya.
Menghela napas frustrasi, Freya menceritakan penyebab dirinya didera kekalutan. Si wanita paruh baya dan si gadis remaja juga ikut menjelaskan. Bahkan si gadis berkepang dua itu berani bersaksi jika Freya tak menyentuh wadah garam sedikit pun, karena sejak tadi mereka terus beraktivitas bersama.
"Aku cuma berniat membantu sambil mengasah latihan memasakku." Freya berkata lirih kemudian menunduk. Tak enak hati karena merasa menjadi pengacau di dapur calon mertuanya.
Fatih juga dibuat terkejut. Ikut panik meski tak memperlihatkan, mengingat Karedok adalah salah satu menu makan siang yang wajib tersaji untuk bapaknya sejak dulu sebagai hidangan favoritnya, terlebih lagi jika ada acara makan bersama keluarga besar.
Sarah masuk ke dapur hendak meminta karedok segera disajikan berhubung acara makan siang akan dimulai beberapa saat lagi, karena orang tua Nisa beserta keluarganya sudah sampai untuk memenuhi undangan makan bersama.
"Mana karedoknya, Bi?" tanya Sarah pada si wanita paruh baya yang tengah kebingungan.
"Anu … Bu Kades. Itu a-anu," jawabnya tergeragap.
Freya merasa harus bertanggung jawab. Dia maju mendekat pada Sarah.
"Maaf, Bu. Tadi aku memaksa ingin ikut membantu menghaluskan bumbu kacang untuk saus karedok, tapi sekarang sausnya gak bisa dipakai karena keasinan entah kenapa. Padahal nggak kumasukin garam, cuma bantu numbuk saja. Aku sungguh minta maaf, semuanya jadi kacau gara-gara aku."
Freya yang biasanya jarang menangis, tiba-tiba menjadi cengeng karena bingung. Sudut matanya mulai menggenang dan wajahnya memerah menahan tangis. Ia merasa kecewa pada dirinya sendiri lantaran merasa tak mampu membantu.
Di kali pertamanya datang ke rumah Fatih, bukannya mengukir kesan baik, tetapi malah membuat masalah. Hanya menghaluskan bumbu bukan perkara yang terlalu sulit baginya, tetapi mengapa bahkan hal mudah begini pun ia tak berhasil melakukannya.
Kendati banyak mata yang melihat, Fatih tak sungkan merangkul Freya yang sedang menunduk sedih. Fatih tak bisa menahan diri untuk tidak menghibur kala menyaksikan kekasihnya yang biasanya ceria mendadak murung. Mengusap dari bahu sampai siku berulang-ulang untuk menenangkan.
"Masa sih sausnya keasinan?" Sarah mengambil sedikit menggunakan ujung sendok dan mencoba rasanya untuk memastikan. Matanya membola, terdiam untuk beberapa saat. Sedangkan Freya belum berani mengangkat wajah, masih didera luapan kecewa juga malu. Di situasi genting Nisa mendadak masuk dan menghampiri. Ia pura-pura bertanya pada si gadis muda, lalu dengan wajah tanpa dosa malah mengompori.
"Ya. Mau gimana lagi. Begitulah risiko punya calon istri gadis kota yang nggak paham urusan dapur. Duh, bagaimana sekarang, padahal Karedok itu menu kesukaan bapak," celetuknya sok khawatir.
Nisa melipat bibir menyembunyikan seringai puasnya, menunggu Freya terkena murka Sarah. Selama ini Sarah dikenal tegas jika mengenai urusan dapur, terlebih lagi soal makanan-makanan kesukaan suaminya.
Tiba-tiba Sarah malah tergelak memecah ketegangan. Tertawa cukup kencang sambil menutup mulut hingga bahunya berguncang. Freya, Fatih juga yang lainnya menatap keheranan. Terbengong-bengong akan reaksi Sarah terutama Nisa.
"Ini sih sudah biasa. Kalau anak gadis masakannya asin itu pertanda kebelet nikah. Ibu kira cuma Fatih yang udah nggak tahan pengen segera halalin kamu, ternyata kalian berdua memang sama-sama kebelet." Sarah kembali terkikik-kikik geli sambil mencolek dagu Freya.
"Hei, kok Anak Ibu kayak mau nangis? Keasinan itu hal lumrah bagi yang baru belajar memasak. Jadi, nggak usah sedih. Ibu juga di awal-awal belajar masak dulu hampir meledakkan seisi dapur." Sarah menyambung kalimatnya dihiasi derai tawa demi menangkan si tomboy yang kini menyendu.
"Terus, gimana dengan Karedoknya, Bu? Kalau mau bikin ulang, kacang tanahnya sudah habis." Freya bertanya lirih seraya menjatuhkan pandangan bergantian ke wadah sayuran juga cobek. Membesit hidungnya yang memerah.
"Itu masalah gampang. Kita bisa bermanuver. Cepat petik Leunca di kebun belakang, kita bikin Pencok Leunca saja sebagai gantinya. Sama-sama menu kesukaan bapak."
"Baik, Bu." Beberapa orang di dapur bergegas ke area belakang rumah. Melaksanakan tugas dari Sarah dengan sigap.
Freya diajak Sarah untuk menunggu diruang makan bersama Fatih, sementara Nisa mengepalkan tangan geram di sisi tubuhnya. Nisa kesal, lantaran Freya bukannya mendapat murka, tetapi malah semakin disayang oleh mertuanya.
Bersambung
KAMU SEDANG MEMBACA
Double F (END) New Version
RomansaAwas baper! Hati-hati menyebabkan ngakak guling-guling. Lumrahnya orang-orang jatuh cinta di suasana romantis nan syahdu. Berbeda dengan Fatih yang jatuh cinta sejak pandangan pertama pada Freya kala menyaksikan si gadis tomboi itu piawai menggunak...
