28. Bertindak

1.1K 96 1
                                        

Bab 28. Bertindak

Ponsel berwarna hitam berpadu rose gold berlogo buah apel yang sudah digigit di bagian belakangnya itu nyaris dibanting ke lantai. Fatih menggenggamnya kencang dengan geram. Sorot matanya menggelap setelah membaca pesan dan melihat gambar terlampir yang dikirimkan ke ponselnya beberapa menit yang lalu. 

"Kelewatan!" makinya murka. 

Pemilik butik baru saja mengabarkan padanya bahwa kebaya dan gaun Freya sudah ditemukan. Hanya saja kondisi kebaya broken white berhiaskan payet cantik serta gaun sage green nan indah itu sudah rusak compang camping tak berbentuk. Entah siapa pelakunya. Ditemukan di tempat sampah umum yang lokasinya lumayan jauh dari butik. 

Pihak butik menyatakan bertanggung jawab penuh, akan membuatkan kembali kebaya serta gaun Freya dan berjanji menyelesaikannya tepat waktu bersama permohonan maaf kembali berderai.

Fatih membuka pintu kamarnya yang langsung terhubung ke balkon. Menghirup udara rakus. Membentangkan pandangan ke langit malam yang bertabur bintang tanpa bulan. Hamparan gemintang berkilauan indah berkelap-kelip bagai mutiara, mampu sedikit mengobati kegundahan yang melanda jiwa.

"Siapa yang tega berbuat keji begini? Aku dan Freya nggak merasa punya musuh?" gumamnya pada udara. 

Batinnya kini bertanya-tanya, siapakah yang sampai hati mencuri dan merusak baju pengantin Freya? Selama ini baik dirinya maupun Freya tak merasa memiliki musuh. 

Firasat buruk merayapi hati. Hari ini baru kebaya, bagaimana jika nantinya malah Freya yang dicelakai? Akan tetapi, apa motifnya? Masalah kerumitan tentang Tania belum selesai sudah muncul masalah yang lainnya. Mengapa menjelang hari bahagianya, banyak hal yang tak diinginkan menerjang bertubi-tubi. Atau mungkin, inilah yang disebut dengan ujian menjelang pernikahan?

Tak mungkin hanya terus berpangku tangan bertemankan keresahan, Fatih memutuskan bertindak cepat. Memilih lebih dulu menyelesaikan permasalah dengan keberadaan Tania yang sungguh mengganggu sebelum mengusut lebih lanjut siapa yang merusak kebaya Freya. 

Fatih menghubungi Wira Aryasatya, yakni atasannya di rumah sakit yang juga merupakan seniornya. Hubungan mereka cukup dekat dan Fatih meminta bertemu malam ini juga.

“Ada hal mendesak apa sampai meminta bertemu malam-malam begini? Pasti sangat penting bukan?” Wira menyambut Fatih yang datang ke kediamannya, waktu menunjukkan pukul sembilan malam.

“Maaf, Dok. Saya … saya ingin mengajukan mutasi kerja, saya sangat berharap Anda dapat memenuhinya. Saya tidak tahu lagi harus meminta bantuan pada siapa atas permasalahan pelik yang sedang dihadapi. Bagi saya bukan masalah sederhana, karena ini menyangkut hubungan keluarga yang juga harus dijaga,” keluh Fatih langsung saja pada inti maksud dari kedatangannya. 

“Lho, memangnya kenapa? Kamu nggak betah kerja di rumah sakitku? Apa penyebabnya?” cecar Wira keheranan dengan kening berkerut. Pasalnya, setahunya Fatih merupakan salah satu dokter yang serius mendedikasikan dirinya untuk Satya Medika.

Kendati berat Fatih akhirnya berterus terang mengenai penyebabnya. Bukannya bermaksud mengadu, tetapi Fatih sebagai calon pemimpin keluarga harus mulai belajar tegas untuk memastikan kehidupan rumah tangganya nanti tetap tentram sentosa.

Wira mendengarkan dengan saksama. Sesekali mengangguk kala si dokter muda yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri itu bertutur panjang lebar. Menelaah semua keluh kesah Fatih yang baru kali ini berani mengungkapkan dan meminta bantuan dengan gamblang padanya.

“Untuk itulah, Dok. Demi kebaikan serta kedamaian kehidupan rumah tangga saya nanti, juga demi menjaga hubungan baik keluarga, saya meminta dipindah tugaskan saja sebagai solusi. Jujur, saya butuh ketenangan, privasi saya terusik," pungkas Fatih terus terang. 

Atasannya tampak sedang berpikir, terlihat menimbang-nimbang. 

“Begini saja. Aku percaya kamu tidak mungkin mengajukan permohonan tanpa pemikiran matang. Demi kebaikan semuanya, biar Tania yang kupindahkan. Akan kumutasikan dia ke rumah sakit relasiku di daerah Bandung dengan kompensasi kenaikkan gaji tentunya. Aku akan mengatur semuanya supaya tak terkesan dipaksakan. Dari pada melepasmu, lebih baik dia yang kumutasikan. Tapi Tania juga tetap bisa bekerja di rumah sakit yang sama nyamannya dengan Satya Medika." Wira memutuskan tanpa ragu. Untuk tenaga perawat mumpuni Satya Medika tak kekurangan, tetapi untuk dokter yang memiliki loyalitas seperti Fatih tentu menjadi pengecualian. 

“Terima kasih, terima kasih banyak, Dok.” Fatih mendesah lega. Satu permasalahan berhasil diatasi dengan jalan keluar yang sama adil dan baiknya bagi semua orang.

Mereka menyudahi pembicaraan setelah solusi didapat. Fatih tancap gas dengan hati yang sedikit ringan. Meski masih ada masalah lain yang lebih besar mengganjal di hati, tentang siapa yang mencuri dan merusak kebaya serta gaun pernikahan calon istrinya.

*****

Sementara itu di rumah Fahri, Tania terlihat membawa selimut juga sebuah bantal keluar dari kamarnya. Sembari terkantuk-kantuk menyeret langkah, kepalanya hampir terantuk dinding. 

Dia terbangun di tengah malam terganggu suara-suara erotis dari kamar sebelahnya. Yakni kamar kakaknya. Tania tahu bahwa Nisa dan Fahri sedang saling memenuhi nafkah batin sebagaimana lumrahnya suami istri. Akan tetapi, kali ini tak seperti biasanya, malam ini desahan Nisa begitu begitu berisik, membuatnya merinding sendiri. 

"Lebih baik aku tidur di kamar Rio. Tumben mereka berisik banget, abis pada minum obat kuat apa? Sampai pada enggak sadar itu suara dua satu plus kedengaran ke kamarku!" kesalnya sebelum mendorong pintu kamar Rio yang letaknya berseberangan dengan kamarnya. 

Nisa tengah mengerang manja. Meningkahi persembahan belaian Fahri yang begitu spesial malam ini. Nisa memejam dalam senyuman, kentara sedang bersuka cita. 

Ya, Nisa dan Fahri memang tengah bercinta lebih panas dari biasanya. Keduanya begitu prima, tengah berpacu beradu keringat saling mengejar pemenuhan ragawi masing-masing. Mengguncang peraduan hingga berdecit nyaring saat pelepasan diraih bersama-sama. 

Fahri yang terengah-engah, ambruk di ceruk leher Nisa. Tak berselang lama langsung meluncur ke alam mimpi setelah kepuasan membanjiri dan kelelahan melingkupi. Terbalut sehelai selimut tipis saja. 

"Selamat tidur suamiku tercinta," cicit Nisa senang. Mencium pelipis Fahri yang lembap berpeluh. 

Ponselnya yang ditaruh di nakas berbunyi. Nisa menggapaikan tangan meraihnya. Melihat notifikasi yang masuk. 

Sebuah pesan masuk ke nomornya. Saat membuka pesan tersebut, senyumnya kian mengembang lebar. Kedua matanya berbinar melihat beberapa foto yang dikirimkan padanya, yaitu foto kebaya robek juga gaun koyak yang dikirimkan seseorang. Baju siapa lagi kalau bukan milik Freya dan raut wajah Nisa tampak sangat puas. 

Tak lama panggilan telepon menyusul masuk, Nisa menggulirkan jemarinya menyentuh tombol hijau sebelum menaruh ponsel di telinga. 

"Kerja bagus. Si preman urakan itu pasti sedang menangis di pojokan," kekehnya semringah, sembari melirik dan membelai rambut suaminya yang tertidur sangat pulas di sisi tubuh uriannya. Merapat padanya. 

Si penelepon sedang menyahuti. Terlihat dari ekspresi Nisa yang manggut-manggut mendengarkan. 

“Oke. Akan kutransfer uang tambahan sebagai bonus atas kinerjamu yang memuaskan. Senang bekerjasama denganmu,” ucap Nisa merampungkan percakapan dengan seringai lebar terbentuk di sudut bibirnya. 

Bersambung

Double F (END) New VersionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang