11 ) Stan Batagor

579 120 12
                                        

Aku tahu, mesti kalian ngerti bagaimana cara menghargai karya seorang penulis.

Bisa ngehargain aku kan?

Enjoy for reading !

-----

Pagi ini, sarapan pada keluarga sunoo nampak sepi. Tidak seperti biasanya yang selalu riuh dengan adu mulut dari sunoo dan juga soobin.

Namun sekarang berbeda tak seperti biasanya. Malahan, sunoo selalu menunduk sambil memakan sarapannya dengan tak nafsu. Soobin sendiri hanya diam, memakan sarapannya seperti orang dewasa pada umumnya.

Hal tersebut tentu saja membuat kedua orangtua mereka bertanya-tanya. Sudah terbiasa mendengar adu bacot kedua anaknya membuat mereka heran sendiri tatkala kedua anaknya yang tidak seperti biasanya.

"Hey, kalian kenapa?" Sang kepala keluarga pun akhirnya bertanya. Walau sering pulang malam karna pekerjaan dan jarang bersama anaknya, ia tahu betul tentang anaknya.

"Biasanya juga ngoceh mulu sampe kuping mommy rasanya mau copot," Sang ibu pun menyahut sambil mengangguk menanggapi ucapan suaminya.

Sunoo mendengus, menelan sarapannya lalu bangkit untuk berdiri. "Sunoo berangkat dulu ya. Daniel udah di depan,"

Sang daddy mengernyit, "ngalihin pembicaraan nih ceritanya? Kemaren katanya kamu nangis? Ada masalah?"

"Hey sunoo!"

"Udahlah dadd, dia lagi butuh sendiri itu. Nanti kalo udah siap juga mesti bakal cerita," Soobin menyeletuk sesaat setelah adiknya itu pergi dan tak mendengarkan seruan daddy mereka.

Sang daddy hanya mengangguk pelan walau tak menampik bahwa ia tengah cemas sekarang. Sunoo jarang seperti ini menurutnya.

Walau ia sering tak ada dirumah, tapi beliau adalah tempat curhat sunoo. Baik dengan cara berbicara langsung, atau bertelepon.

Dengan begitu, tentu saja beliau cemas. Apa lagi ia merasa bahwa masalah sunoo cukup besar. Kemudian, pria paruh baya itu menatap putra sulungnya yang sedang membalas pesan dari seseorang.

"Kamu ada masalah sama adek kamu, bin?" Soobin meletakkan ponselnya. Kemudian balik menatap yang lebih tua sambil menggeleng.

Soobin meraih gelas minumnya, lantas meminum susu almond yang memang kesukaannya. Berdehem pelan saat sudah menegaknya sampai habis.

"Sunoo butuh sendiri dadd, pasti dia bakal nyeritain masalahnya ke kita. Daddy tenang ya? Sunoo aman kok. Kan kemaren dia curhat sama mbin,"

Soobin tersenyum manis dan meyakinkan membuat sang daddy sedikit lega. Ia mengangguk dan tersenyum kecil lalu mengusak rambut sang anak.

"Jangan berantem ya,"

-----

Sunoo menaiki motor daniel dengan bibir yang dikerucutkan membuat daniel bingung sendiri. Ia hendak bertanya namun urung tatkala yang lebih tua menatapnya dengan tajam.

Daniel kikuk, ia segera melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Membunyikan klaksonnya tatkala melihat heeseung yang berada di depan rumah dengan motornya.

Setelah itu, suasana menjadi hening. Daniel memikirkan apa yang harus dikatakan sedangkan sunoo masih saja cemberut mengingat perkataan soobin kemarin.

Bahkan ketika mereka sampai diparkiran pun, sunoo dan daniel masih terdiam. Sunoo turun dari motor daniel lalu menunggu yang lebih muda mengikutinya.

Setelah daniel turun dan berdiri disamping nya, sunoo berjalan dengan wajah yang suram tak seperti biasanya.

Murid-murid yang melihat nya juga nampak bingung dengan uke primadona mereka. Tidak seperti biasanya yang menyambut mereka dengan senyuman merekahnya.

Secret Admirer | SungSunTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang