7 ) Secarik Kertas

639 127 15
                                        

Aku tahu, mesti kalian ngerti bagaimana cara menghargai karya seorang penulis.

Bisa ngehargain aku kan?

Enjoy for reading !

—————

"Dadi bocah, ra sah sregep-sregep ah. Engko yo bojone dhewe sik bakal sregepi kabehe." Jay menyeletuk sambil memandangi sunghoon yang tengah menghapus papan tulis di depan kelas.

{ "Jadi bocah, ngga usah rajin-rajin ah. Nanti ya istri kita yang bakal rajinin semuanya" }

nt : bojo = suami / istri dlm b Indo tergantung siapa yg berucap. I know, kelen paham.

"Yo, jangan koyo ngono kui to. Sunghoon bakal jadi masdep markotop kayae sih. Bisa gitu ya. Lanang kye, ojo—"

"Mingkem iso?"

Bukannya diam, Jay dan juga Jake malah bersorak. Mereka menganggap bahwa moment ini langka. Momen dimana Sunghoon yang mengumpat dengan bahasa Jawa.

Sunghoon hanya menggelengkan kepalanya. Ia menghela nafas panjang, cukup sabar menghadapi sobat karibnya yang mungkin memiliki otak miring.

Jam pulang sekolah sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Sunghoon tengah melaksanakan piket bersama teman piketnya dikelas nya ini.

Sebenarnya ada Jay dan juga Jake. Namun dua pemuda blasteran itu seperti siswa pada umumnya. Malas melakukan piket, jika ditanya sudah piket atau belum, pasti jawabannya sudah. Udah ya, nyapu sama atur meja tadi.

Jika bertanya dimana heeseung? Pemuda dengan suara merdu itu tengah berada di ruang OSIS. Melakukan rapat OSIS, entah membicarakan apa, yang jelas tidak ingin tahu. Memusingkan tahu?!

Sunghoon mengembalikan penghapus papan tulis pada meja guru yang terletak di pojok depan kelas yang ia tinggali. Hanya membersihkan tulisan di papan tulis itu, sama saja piket bukan?

"Nunggu heeseung dimana nih?" Jay kembali menyeletuk sesaat setelah Sunghoon menghampiri mejanya dengan jake.

"Di rumah gue aja, gimana?" Jake berujar. Rumah Jake itu berada di perumahan yang sama dengan sekolah mereka didirikan. Hanya berjarak 1 km saja mungkin.

Jay menoleh menatap sunghoon, meminta jawaban pada sohib dinginnya yang hanya dibalas anggukan oleh sunghoon.

Mereka pun mulai beranjak. Berjalan keluar meninggalkan kelas diiringi dengan perbincangan Jay dan juga Jake yang mendominasi bercerita.

Sunghoon hanya menjawab seadanya saja. Jika sudah menjawab ya sudah, tidak berbicara lagi. Intinya hanya berbicara tatkala merasa perlu.

"Eh, gue kemaren liat lo nebengin sunoo!" Sunghoon melirik kedua sohibnya yang kini tengah menatapnya penuh tanda tanya.

"Gue kemaren bareng Minjeong." Sunghoon tahu apa maksud Jake. Namun memilih untuk menjawab hal yang bukan seharusnya. Sudah terbiasa, mungkin.

Jay mendelik kecil. Ia merangkul kedua sohibnya itu. Posisinya berada ditengah-tengah antara Sunghoon dan juga Jake.

"Kemaren lusa. Sebelum hari kemaren. Lo kira gue sama Jake ngga tau ya?! Sejak kapan lo mulai gini?" Sunghoon mendecak. Ia melepas kan rangkulan jay yang kini tengah mendramatisir keadaan, menatapnya seakan-akan merasa terkhianati.

"Itu karna kak soobin,"

"Loh loh, kak Soobin siapanya Sunoo?"

"Katanya sih, tetangga akrab nya."

"Ada ya, anak kuliahan sama bayi temenan?"

Sunghoon tak menjawab, ingin menjawab sebenarnya. Namun urung tatkala Jay yang malah menyeletuk dilanjut dengan ucapan Jake selanjutnya.

Secret Admirer | SungSunCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang