Viola terkesiap melihat Davino naked dihadapannya. Pria itu terlihat sedang mencari-cari pakaian sambil menggosok gigi. Apa tidak bisa ia memakai handuk? Atau minimal celana dalam lah. Lihatlah benda panjang yang menggantung itu! Astaga... mata Viola ternodai.
"Kamu pakai handuk dong...!!!!!" Teriak Viola menganggetkan Davino. Andai ia memiliki riwayat jantungan, Davino sudah mati lima detik lalu.
"Kenapa? Kita udah sah." Jawab Davino dingin seperti biasanya. Wajahnya juga datar. Davino belum terbiasa dengan Viola. Alasan ia menahan Viola bersama dengannya juga karena anak, nggak ada alasan lain.
"Ihhhh!!!"
Viola melempar bantal ke arah Davino. Ia bangkit berdiri untuk memukulinya dengan guling. Memang sih mereka udah sah, tapi kan kontrak! Viola juga tidak terbiasa. Matanya masih suci. Belum pernah ternodai sama sekali.
Namun ketika ia mendekat untuk memukulinya, Viola justru menemukan hal yang tidak terduga. Ternyata di balik tubuh kekarnya yang bagus, terdapat banyak sekali luka jahit di punggung dan perutnya.
"Kamu kenapa?" Ujarnya sambil mengusap salah satu luka itu dan Davino langsung menarik Viola kepelukannya.
"Jangan memberikan empati padaku. Apalagi rasa kasian. Aku nggak suka." Bisiknya.
"Bukan itu... "
"Hiraukan saja luka-luka ini. Anggap kamu tidak pernah melihatnya. Sekarang kamu percaya bahwa pekerjaanku sebagai mafia tidak main-main kan?" Viola mangut-mangut menanggapinya. Air matanya tiba-tiba terjatuh.
"Terus kenapa kamu nangis?" Ketus Davino lagi dengan begitu dingin, ketika melihat mata Viola memerah meneteskan buliran air bening di pipinya.Ia sudah bilang jangan menaruh empati kan? Bebal sekali Viola ini.
"Nggak tau. Rasanya sedih aja lihat semua luka itu." Isaknya sambil mengeratkan pelukan. Bahkan nampaknya, Viola tidak lagi mempermasalahkan tubuh telanjang Davino dihadapannya.
Davino pun menggeleng saja melihat tingkahnya yang berubah manja dan cengeng. Ia membawa Viola ke kamar mandi, lalu membersihkan bekas pasta gigi di bibirnya. Davino juga menyalakan shower dengan air hangat untuk membasahi tubuh mereka secara bersamaan.
"Katanya mandi pakai air hangat bisa bikin mood ibu hamil membaik. Mungkin bukan karena luka ini kamu menangis. Tapi karena mood swing kamu." Ujarnya lembut seraya membantu Viola membuka bajunya.
Bagaikan dihipnotis Viola menurut. Bahkan membiarkan Davino menyabuni hingga mengoleskan shampo pada rambut panjangnya. Wanita itu masih memeluknya dengan penuh kekhawatiran. Mungkin Davino benar, itu hanya mood swing ibu hamil saja di pagi hari. Tidak mungkin rasa sayang atau cinta, tidak mungkin ada Atau mungkin anaknya yang membuatnya khawatir seperti ini?
Davino bisa merasakan betapa mengerasnya miliknya saat ini. Sudah lama Davino kembali menginginkannya. Dan sekarang Viola justru menurut saja disaat ia menyentuhnya. Disaat ia membuatnya telanjang seperti tu.
"Kamu ingat kejadian malam itu?"
"Ap...."
Sebelum Viola menjawab Davino lebih dulu memagutnya. Ia membawa Viola duduk di atas wastafel lalu masuk diantara kedua paha wanita tersebut. Sambil memagut, Davino mengusap paha mulus wanita itu dengan sensual.
Maaf part dewasa dihapus demi pedoman komunitas. Beli bukunya di googleplay untuk membacanya.
"Ini dia yang terjadi pada malam itu Viola." Bisiknya...
*****
Davino menatap Tylor setelah membaca berkas-berkas yang ada di tangannya. Bukannya ia tak percaya dengan Viola, tapi ia berhak tau semua tentang istrinya kan? Maka dari itulah ia meminta Tyor mencari tahu segala tentangnya. Asal-usulnya, dan kehidupannya selama ini.
"Jadi dia punya ibu dan saudara tiri?"
"Begitulah boss. Ibu kandungnya meninggal ketika Viola berumur lima tahun."
"Adiknya model?"
"Sesuai yang anda baca." Tylor tersenyum.
Davino mengangguk, lalu membawa berkas-berkas itu menuju kamarnya kembali. Ia menyimpan berkas itu di brankas berkode, lalu beranjak menghampiri Viola yang sedang makan tanpa mengeluarkan suara. Sepertinya wanita itu masih grogi bertemu Davino setelah aktivitas panasnya beberapa menit lalu di kamar mandi.
Davino turut duduk di hadapannya, lalu mengambil sepiring nasi goreng bagiannya.
"Kok... diambil." Cicit Viola pelan.
"Mau lagi?" Jawabnya ketus, lalu menyodorkan sesendok nasi goreng ke mulut wanita itu. Viola menerima suapannya dengan lahap.
Setelah memberi sesendok, Davino kembali makan sambil menonton tv. Sesekali ia menoleh ke arah Viola untuk menyuapinya lagi ketika mulutnya berhenti mengunyah.
"Hari ini ketemu papa kamu kan?"
"Ingat pesanku kemarin. Kamu juga nggak boleh dekat-dekat dengan ibu dan adik tiriku. Mengerti?"
"Hmmmm." Ujar Davino sambil mengusap bibir cemong Viola dengan perhatian. Meski dingin, Davino sebisa mungkin membuat Viola nyaman. Ia tidak ingin kehamilannya bermasalah. Davino ingin membuat wanita yang tengah mengandung anaknya itu selalu merasa bahagia. Ini cukup sebagai rasa tanggung jawabnya kan?
"Kamu nggak bisa apa, sehari aja nggak kaku? Senyum gitu misalnya?"
"Aku nggak bisa."
"Tapi anak kamu mau kamu senyum." Viola memohon sambil mengusap perutnya.
"Jangan paksa aku."
"Hoekk... !!! Tuh kan aku jadi mual, dia pengen lihat kamu senyum..."
Sebelum Viola melanjutkan perkataannya, Davino langsung melengkungkan bibir mencetak senyuman.
"Gini?" Ujar Davino lembut dengan senyuman manis. Dipaksakan tentunya. "Perutnya udah nggak mual kan?" Tanyanya lagi dengan senyuman.
"Nggak." Pipi Viola memerah.
Davino mengumpat dalam hati. Pipinya pegal oeyy!!! Kenapa kengininan ibu hamil itu aneh-aneh? Tapi nggak apa, demi anak. Sebrengsek apapun Davino, anak adalah nomor satu untuknya.
"Senyum terus ya? Jangan berhenti. Anak kamu suka!" Pekik Viola girang. Ia lalu membuka mulutnya kembali untuk menerima sesendok nasi goreng milik Davino.
****
Ada yang tanya, "Kak kenapa sih dikit-dikit episodenya?"
Karena aku up setiap hari. Kalau banyak-banyak cepet tamat. :(
Kecuali kalian mau seminggu sekali. Nanti aku up yang panjang. Gimana?
KAMU SEDANG MEMBACA
My Bucin Mafia
RomanceDavino adalah seorang mafia yang sangat dingin dan kejam. Apalagi setelah insiden kematian putranya, karena kesalahannya sendiri. Hatinya seolah membeku dan tertutup untuk siapapun. Davino tak percaya akan cinta. Namun sepertinya ketidakpercayaan it...
