Part 10 - Cemburu

26.9K 1.7K 100
                                        

Viola begitu antusias disaat Davino berkata akan mengenalkannya pada seseorang. Ia memakai gaun terbaik dan makeup yang cantik. Viola sangat antusias. Ia penasaran kepada siapa lagi ia akan dikenalkan kali ini.

"Aku cantik?" Seperti biasa pertanyaannya. Dan jawaban Davino masih sama. "Cantik." Dengan nada dingin dan ketus.

"Ketus banget. Muka kamu kayak ikan lele lagi bengong tau, jelek banget. Kalau bukan aku, nggak ada kali yang mau nikah sama kamu." Cibirnya sambil menoyor Davino. "Aku aja kejebak."

"Hmmm." Gumam Davino cuek sembari menyeret wanitanya masuk kedalam mobil.

"Cih!" Dercaknya kesal.

Viola terus bersenandung disepanjang perjalanan setelah mobil mereka mulai melaju. Ia berpikir yang indah-indah tentang kepergian mereka ini. Entah itu ke cafe mahal, double date sama seseorang, atau menuju markas mafia. Viola tidak sabar ingin berkenalan dengan mafia-mafia keren itu jika benar.

Namun... semua harapannya harus pupus ketika mobil mereka masuk ke sebuah area pemakaman.

"Kok kesini.... kamu mau kubur aku hidup-hidup ya? Kamu nyesel tanggung jawab?"

Davino menoleh sambil menepuk kepala Viola pelan. Ia tidak mengerti dengan jalan pikiran Viola hingga saat ini. Bisa-bisanya Viola berpikir se-absurd itu. Yakali kubur orang siang-siang.

"Kamu keterlaluan! Jadi bener kamu mau kubur aku hidup-hidup? Jahat!"

"Stop drama. Realistis dikit, sekali aja!"

"Terus mau ngapain?" Viola memanyunkan bibir.

"Ini hari ulang tahun Bryan." Ujarnya lirih sambil menunduk sedih.

"B-bryan?"

"Anak aku. Aku mau kenalin mama barunya ke dia. Dulu dia selalu bertanya kapan memiliki ibu dan adik. Dia pasti seneng ketemu kamu."

Viola terdiam mendengar perkataan Davino. Jadi pria itu mau mengenalkannya kepada anaknya yang telah meninggal?

Melihat Davino sedih Viola jadi ikut badmood. Apalagi ketika pria itu menjatuhkan airmatanya. Seketika Viola memeluk kepala Davino dan membawa satu tangan suaminya untuk menyentuh perutnya.

"Kamu mungkin pernah gagal menjaganya. Tapi bukan berarti kamu harus terpuruk. Kamu masih memiliki kesempatan untuk berubah."

Davino membalas pelukan Viola dengan sangat erat. Ia terus mengusap perut rata wanita itu dengan lembut dan penuh kasih. Ternyata setelah bertahun-tahun menyembunyikan kelemahannya, kesedihannya, penyesalannya, seorang Viola yang mampu membuat Davino mau membagi perasaan itu. Kerapuhannya.

"Aku menyesal telah lalai menjaganya. Dia meminum obat-obat itu karenaku. Dia meninggal karenaku." Davino terisak.

"Katanya kamu mau rayain ulangtahunnya? Bryan pasti sedih lihat papanya nangis."

"Makasih, sudah bersedia mendengarku."

Davino bersandar sebentar pada pelukan Viola. Ia ingin sebentar meletakkan rasa lelahnya. Semua pikiran-pikiran yang membuatnya lelah Davino lepaskan sebentar. Viola benar, Bryan tidak boleh melihatnya sedih.

****

Setelah selesai menaburkan bunga, Davino mengubur sebuah robot-robotan kecil di makam putranya. Katanya sih, buat hadiah. Viola sekarang sadar akan satu hal bahwa, seburuk apapun perbuatan Davino, dia sangat menyayangi anaknya.

"Doain adik Bryan sehat ya? Dia masih ada diperutnya mama. Selamat ulang tahun sekali lagi sayang." Davino mengusap batu nissan milik pangeran kecilnya, juga mengecupnya berkali-kali. Kadang Davino menceritakan kesehariannya dengan begitu antusias.

My Bucin MafiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang