Part 11 - Marah

25.4K 1.9K 150
                                        

Belum berhenti rasa kesalnya akan peristiwa pelukan Davino di makam, kini ia dibuat kesal lagi dengan kedatangan wanita itu di rumah Davino. Siapa lagi kalau bukan mantan istrinya? Mega..!!! Mau apalagi sih dia? Udah mantan juga masih tak tau diri.

Viola tau dia juga hanya istri kontrak. Tapi setidaknya sebelum kontrak itu berakhir, posisinya masihlah sebagai istri sah! Kedudukannya jauh lebih tinggi dari yang hanya sekedar mantan.

"Kamu mau apa?" Davino membuka suara.

"Apa salah aku mengunjungimu?"

Viola masih diam sambil memantau. Ia terus membuat Davino disisinya. Mendekap lengannya posesif seakan tak mau lepas. Tidak akan ia biarkan mereka berduaan saja! Tidak akan pernah! Wanita yang ada dihadapannya ini sepertinya satu spesies dengan Clara. Adik tirinya yang suka merebut milik orang lain.

"Aku mau bicara berdua Dav. Bisakah kita bicara berdua saja?"

Davino menoleh ke arah Viola yang sepertinya tak suka dan tak setuju dengan hal itu. Apa benar yang dikatakan Leon, bahwa Viola cemburu? Atau hal itu hanya karena mood kehamilannya saja?

Tetapi terlepas dari itu, ia butuh mendengar apa yang akan Mega bicarakan. Daripada wanita itu terus datang, lebih baik ia selesaikan bukan? Lagipula Davino tidak lagi tertarik berurusan dengan wanita itu. Davino malas melihat wajahnya. Davino harap ini yang terakhir.

"Sayang aku mau bicara sama dia dulu."

"Nggak."

"Aku cuma sebentar babe." Ujar Davino sok mesra, lalu mengecup bibirnya singkat. "Lima menit."

"Jaga jarak 3 meter. Jangan deket-deket."

"Oke." Davino mencium bibirnya lagi sebelum beranjak pergi.

Mega membulatkan mata melihat kemesraan keduanya. Dulu ketika mereka menikah, Davino tak pernah semesra ini. Kenapa mantan itu selalu terlihat lebih menarik, daripada saat masih bersama?

Viola mendesah kesal ketika pada akhirnya Davino memilih pergi bersama Mega. Wanita itu benar-benar ular! Tapi ia bisa apa? Viola tidak punya hak untuk marah sebenarnya. Mereka hanya sebatas kontrak. Bukan pasangan sungguhan.

"Tylor!" Sentak Viola memanggil asisten pribadi Davino itu untuk mendekat. "Kamu nguping pembicaraan mereka. Lalu laporkan padaku. Kalau perlu rekam! Cepet!"

"Baik."

"Kamu nggak boleh bohong sama orang hamil. Nanti kualat! Awas kalau kamu nutupin kebusukan boss kamu!"

"Baik nona sayang! Tylor orang paling jujur sedunia tidak akan mengecewakanmu." Tylor segera bergerak mengikuti kemauan Viola.

Ia beranjak menuju ruang kerja Davino. Tempat dimana mantan suami istri itu saling bicara berdua saja. Tylor mengintip sambil merekam pembicaraan mereka dari celah pintu yang sedikit terbuka.

Untuk masalah kuping menguping adalah keahlian hebat yang Tylor miliki. Ia mata-mata ahli di dunia mafia. Tidak heran jika Tylor seringkali bintitan.

Davino mempersilahkan Mega untuk bicara. Ia tidak berbohong kepada Viola. Davino benar-benar menjaga jarak 3 meter hingga membuat Mega semakin frustasi. Kapan Davino menjadi sepenurut itu?

"Kamu ngapain sih berdiri sejauh itu?"

"Bukan urusanmu. Sekarang katakan, mau bicara tentang apa?"

Mega mendekat ke arah Davino dan memaksa untuk memeluknya dengan tidak tahu diri. Meski Davino sudah mencoba untuk menepis, namun Mega tetap bersikeras memeluknya erat.

My Bucin MafiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang