Sesuai janji Davino, ia membawa Viola kerumah adiknya malam ini, untuk menemui Ethan dan Lea. Sebenarnya tujuan Davino datang hanya satu, yaitu memeriksakan keadaan Viola yang semakin hari semakin aneh. Manjaa sekali!
Karena kebetulan istri adiknya itu psikiater kondang. Jadi biar sekalian diperiksa. Siapa tahu sikap Viola yang seperti itu karena masalah psikologis yang ia alami.
Sementara Lea dan Viola konsultasi dengan dalih mengobrol, Davino dan Ethan saling berhadapan. Ethan tidak menyangka kakaknya mau datang kerumah hanya demi seorang wanita. Yang lebih tidak menyangka lagi mereka telah menikah.
Karena setelah Davino memilih menjadi seorang pimpinan mafia, ia tidak pernah mau mampir. Davino selalu menyendiri. Ia juga tidak pernah mau memulai hubungan lagi dengan seorang wanita. Jadi jika seorang Davino sudah menikah saat ini, itu sesuatu yang luar biasa.
"Kakak kok nggak bilang kalau nikah?"
"Ini bukan pernikahan seperti di kepalamu. Aku menikahi dia hanya sampai anak itu lahir"
"Tapi kakak perhatian sekali. Sampai suruh Lea buat periksa dia."
"Ya itu karena dia manjanya berlebihan. Masa apa-apa harus aku? Bahkan narik selimut aja, rasanya dia nggak punya tenaga."
"Dan kakak nurutin dia?"
"Ya mau gimana lagi? Dia ibu dari anak aku. Dan aku hanya harus bersabar sampai anak itu lahir."
Ethan menatap kakaknya sambil mengedikkan bahu. Yang pasti ia berani bertaruh, sampai anak itu lahir mereka tidak akan berpisah. Ethan bisa melihat rasa khawatir Davino pada Viola. Matanya menunjukkan cinta. Ethan berharap Viola akan mengubah Davino menjadi orang yang lebih baik.
"Davino...!!!" Panggil Viola dengan suara cemprengnya dari dalam ruangan lain.
"Tuh kan, pasti hal-hal sepele." Davino mendesah kepada sang adik yang sedang tertawa melihat betapa menderitanya wajah Davino saat ini.
"Ada apa!" Teriak Davino menyahuti Viola.
"Kamu jangan teriak-teriak dirumah orang! Nggak sopan!" Teriaknya lebih kencang lagi kepada Davino. Wtf! Katanya nggak sopan?
"Ada apa?" Ujarnya lebih lembut ketika Davino sampai di hadapan Viola.
"Aku mau pipis, gendong!" Cicit Viola sambil merentangkan kedua tangan.
"Astaga Viola...!!!!"
****
"Jadi dia kenapa? Sengaja atau memang punya masalah psikologis?" Tanya Davino tak sabaran ketika Viola telah tertidur dipangkuannya. Tanganya terus bergerak mengusap kepala Viola agar wanita itu tidak terbangun dan kembali rewel merepotkannya.
"Aku rasa dia terkena Sindrom cinderella complex. Sindrom cinderella complex merupakan kelainan yang pertama kali ditemukan oleh Colette Dowling, yang menulis buku yang berhubungan dengan ketakutan perempuan terhadap kemandirian."
"Gangguan ini dapat terjadi karena rasa ketergantungan wanita pada seorang pria, baik itu secara finansial, fisik, maupun lainnya. Wanita yang mengalami masalah ini mungkin hanya menunggu seseorang untuk datang dan menyelamatkannya dari kenyataan yang sedang terjadi, serta memperbaiki semua masalah yang ada. Yaitu pasangannya. Semacam cinderella yang nunggu pangerannya datang."
"Semacam Dependen?"
"Ya masih satu gejala, tapi kalau Cinderella Complex hanya manja kepada pasangan saja. Rasa manja berlebihan tersebut mungkin sudah menjadi keinginan dalam alam bawah sadar untuk dirawat, dan dilindungi oleh pasangan, karena terlalu takut untuk menjadi mandiri. Terlebih dia hamil kan, jadi nggak heran lagi kalau tingkahnya seperti itu."
"Terus Viola harus gimana?"
"Mungkin terapi mental. Tapi sebaiknya setelah dia melahirkan saja. Kasihan kalau sekarang. Gimana kalau dia malah tertekan karena konsultasi? Itu bisa bahaya buat anak kalian."
"Jadi kakak harus bersabar hingga 8 bulan kedepan." Sahut Ethan sambil tertawa geli.
"Mungkin Viola terlalu dimanjain dan dikekang waktu kecil. Terus pas gede dia kaget menghadapi kenyataan. Jadi dia berlomba cari pasangan ideal yang bisa mengayomi dan merawatnya. Bak pangeran kepada permaisurinya lah. Dan kebetulan kakak tipe idealnya HAHAHA." Lea ikut tertawa menyaksikan wajah menderita Davino.
"Pantes dia seneng banget pas aku ajak pindahan. Kayak nggak ada beban. Mungkin dia seperti ini juga karena dirumah dia punya sudara dan ibu tiri. Mereka nggak terlalu akur."
"Nah mirip banget kaya Cinderella beneran kan? Kakak seperti pangeran yang bawa dia pergi dari penderitaanya HAHAHA." Lea dan Ethan lagi-lagi tertawa.
"Seneng ya kalian."
"Halah, kakak juga sayang kan? Suka kan? Ngomong aja! Pakai acara sok menderita." Lea mencibir sambil menyender pada pundak suaminya yang masih tertawa geli saat ini.
Sepertinya keputusan Davino membawa Viola kesana adalah kesalahan besar. Dia jadi bahan ledekkan adik dan iparnya sekarang.
"Kamu sama Viola itu memang satu spesies. Cuman Viola versi keterlaluannya." Cibir Davino.
"Species?"
"Bar-bar dan menyebalkan. Mulutnya kaya seblak jeletot. Pedes!"
"Biarin aja! Toh adik kamu udah kesemsem sama aku. Iya kan sayang?"
"Udah ada anak dua, mau apalagi yang dicari?" Ethan mengacak rambut Lea dengan gemas. Davino geleng-geleng melihatnya. Tetapi ia bahagia melihat mereka bahagia.
"Ngomong-ngomong kok nggak pakai cincin sih kalian?" Lea menunjuk jari manis Viola dan Davino yang masih kosong.
Davino mengenggam tangan Viola yang masih tertidur sambil berpikir, benar juga. Davino lupa soal itu. Apa mungkin ia harus membelikannya? Apa pernikahan kontrak butuh hal seperti itu?
****
PS: Aku baca tentang Cinderella Complex itu di berbagai artikel. Koreksi kalau salah, karena aku bukan psikolog zheyeng.
****
KAMU SEDANG MEMBACA
My Bucin Mafia
RomanceDavino adalah seorang mafia yang sangat dingin dan kejam. Apalagi setelah insiden kematian putranya, karena kesalahannya sendiri. Hatinya seolah membeku dan tertutup untuk siapapun. Davino tak percaya akan cinta. Namun sepertinya ketidakpercayaan it...
