Part 7- Sayang Davino!

30.1K 1.9K 53
                                        

"Davino...mau martabak." Rengeknya manja sambil memeluk boneka kelinci buluk yang katanya sudah menjadi boneka kesayangannya dari kecil. Davino heran apa istimewanya boneka buluk yang dapat merusak pemandangan rumah itu, sehingga Viola kelihatan sayang sekali dengannya.

"Itu ada di meja."

"Suapinnnn. Aku nggak kuat angkat kotak martabaknya...!!!" Viola berteriak dramatis sambil mengangkat kedua tangannya sok lemah. "Lihat nih, tanganku nggak kuat!" Kali ini ia menggerakkannya kekanan dan kekiri.

"Viola mandiri dikit, kerjaan aku banyak." Ujar Davino lelah dan masih berkutat dengan laptopnya ditemani Tylor.

Setelah pulang dari rumah keluarganya, serta tragedi tembakan beberapa hari lalu, Viola berubah menjadi sangat manja dan semakin bar-bar.

Wanita itu semakin bergantung padanya dalam hal sekecil apapun. Misalnya menyuapi makan, mengganti baju, minum, atau berjalan. Bahkan menggosok gigi saja Viola enggan melakukannya sendiri. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Dan jika tidak dituruti, ia betah menangis dan berteriak seharian penuh.

"Arghhh, ini rasanya perut aku sakit. Kamu tega banget biarin aku sakit! Kamu jahat! Ini anak kamu yang minta!" Viola menangis sambil menggedor-gedor meja dengan lampu tidur. Persis seperti balita yang sedang merajuk.

Davino mendesah lelah. Memang hidupnya hanya untuk mengurusinya saja? Melihat sikapnya yang seperti itu, sepertinya Davino tahu harus membawanya kemana. Hanya orang yang masih satu spesies dengannya yang bisa menangani.

"Yaudah sini aku suapin." Davino kembali mendesah lelah dan menghampirinya.

Ia akhirnya mengalah dan menyuapi Viola martabak telurnya dengan sabar. Tylor pun menggantikan pekerjaan bos besarnya itu. Tylor tersenyum geli melihat bossnya bisa seperhatian itu dengan seseorang. Ternyata orang galak itu bisa lembut juga kepada wanita.

Viola adalah orang yang bisa mengndalikan Davino dengan mudah. Tylor sangat bahagia melihat mereka bersama.

"Makan ginian doang minta disuapin."

"Jadi kamu nggak ikhlas? Makanya kalau nggak mau punya anak jangan bikin! Sekarang disuruh ngerawat ogah-ogahan."

"Iya.. iya maaf." Davino mengusap airmatanya penuh kesabaran. "Sini aaa lagi, jangan nangis. Nanti malam aku ajak ketemu adik aku dan istrinya. Kamu belum kenalan kan?"

"Buat apa?"

"Ya biar kamu ada temen ngobrol. Istri adik aku psikolog, dan anaknya udah dua. Jadi kamu bisa tanya-tanya soal kehamilan."

"Kamu nuduh aku nggak becus hamil gitu? Sampai tanya segala?" Isaknya dramatis sambil mengusap perutnya. Tylor semakin terkekeh menyaksikan drama majikannya itu. Jarang-jarang seorang Davino bisa dibuat se-enggak ada harga dirinya oleh seorang wanita. Padahal anak buahnya yang berbadan kekar saja tidak ada yang berani.

"Yaudah kalau kamu nggak mau. Nggak jadi."

"Aku mau! Kan aku cuma terharu, makanya nangis. Kamu kalau mau ngajak orang yang serius dong!"

Astaga.... Davino lelah meladeninya.

"Aku mau bobok."

"Nggak mau makan lagi?"

"Bosen." Viola lalu tidur merebah diranjang. Ia mambawa tangan Davino kekepalanya, lalu meminta pria itu mengusapnya. "Jangan berhenti usap sebelum aku tidur." Pintanya dengan mata sayu yang mengantuk. Mungkin Viola lelah karena terus merengek seharian ini.

Davino yang berada disampingnya ikut merebah menghadap Viola. Ia mengusap kepalanya dengan terkekeh, lalu menatapnya lekat. Wanita ini sungguh cerewet dan menyebalkan. Tetapi terkadang hal itu membuat hari Davino semakin berwarna. Viola itu rame, dan Davino mulai terbiasa dengan kehadirannya.

"Davino..."

"Hmmmm."

"Aku... bolehh.... "

"Apa?"

"Minta itu." Lirihnya pelan.

"Apa?" Tanya Davino berkerut, dan Viola langsung memberi tanda agar pria itu tahu maksudnya.

"Tentu saja." Davino tersenyum smirk seraya melucuti kaos panjangnya. Ia lalu menindih Viola sembari menciumi leher jenjang miliknya, yang sangat Davino rindukan. Jika Viola sendiri yang memintanya kenapa nggak?

"Tapi aku pengennya sama orang lain." Ujar Viola sembari menahan pergerakan Davino.

"Are you kidding me?"

"HAHAHA." Tylor tertawa lepas. Davino seketika menoleh sembari memberi tatapan tajam. Ia lupa jika masih ada orang ketiga di kamar mereka.

"Maaf.... "

"Keluar." Davino berujar singkat namun terdengar mengerikan di telinga Tylor. Pria itupun terbirit-birit meninggalkan kamar sambil membawa laptop. Lagian nggak tau diri sekali menguping sejak tadi.

"Dan kamu, kamu jangan macam-macam sama pria lain. Atau aku akan memutilasi pria itu hingga menyisakan tulang-tulangnya saja."

"Ihhhh cemburu ya?"

"Nggak!"

"Ihhh kamu cemburu...!!! Utuk-utuk tayangku Davino cemburu." Ledeknya sambil tertawa. Viola memeluk kepala Davino dengan mesra. Membuat si pemilik kepala tersenyum simpul. Ini pertamakali Davino suka diperlakukan seperti ini.

"Aku nggak cemburu." Ujar Davino sinis seperti biasanya. Namun meski begitu ia tak beranjak bangkit dari pelukan Viola.

"Malu-malu!" Sindir Viola sambil mengusap rambutnya lembut. "Aku mau dipeluk mulai sekarang. Pokoknya nggak mau lepas sebelum aku bobok." Lirih Viola sayup-sayup menutup matanya.

"Oke, tidurlah."

"Kamu harus disamping aku terus."

"Hmmm."

"Sayang.... Davino!" Lirihnya pelan memakai nada upin-ipin.

"Bodoh!" Kekeh Davino dalam hati menahan tawa.

*****

Maaf ya baru update.

Lagi sibuk banget urusin sekolah adik aku. :(

My Bucin MafiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang