"Mama lihat kamu muntah terus dari kemarin. Kamu nggak hamil kan?" Cibir Hana. Ibu tiri Viola yang selalu kepo dengan urusannya. Kenapa sih, ayahnya harus menikah lagi dengan janda anak satu itu?
"Cuman numpang makan tapi hobinya ngurusin orang. Emang kalau aku masuk angin situ mau ngerokin?" Viola membalas dengan santai.
"Viola jaga mulut kamu! Dia yang udah rawat kamu dari kecil." Papanya membentak Viola. Tetapi nampaknya Viola tak peduli hal itu. Ia tetap menyerang habis ibu tirinya itu. Selain annoying dan polos, Viola juga tidak memiliki ahlak.
"Rawat aku? Anaknya doang kali. Udah numpang makan sama tinggal, tapi nggak tau diri."
"Viola...!!!" Teriak Tommy sambil menggebrak meja.
Hana memeluk Clara sambil memasang wajah sedih. Drama ini memang sering terjadi. Viola muak. Sebenarnya dia lebih suka tinggal di apartemen. Tapi... Viola tidak rela jika rumah kenangan bersama ibunya di kuasai mereka.
"Ya kita memamg numpang disini. Tapi mama selama ini selalu berusaha perhatian, kamu yang enggan menerima. Mama tanya kaya tadi karena mama khawatir kamu salah pergaulan." Ujar wanita paruh baya itu lemah dan terisak.
"Kamu periksa ke dokter, ayo! Awas kalau kamu sampai hamil. Makanya jadi perempuan harus bisa jaga diri. Kamu lihat adek kamu dong... "
"Iya aku hamil. Puas?" Cibir Viola memutus ucapan ayahnya dengan air mata yang menetes deras. Viola lalu pergi meninggalkan meja makan. Meninggalkan rumah dan ayahnya yang terus meneriakinya. Emangnya enak di beda-bedain?
Persetan dengan rumah. Viola akan tinggal di apartemennya sendiri. Ia akan membesarkan anaknya sendiri. Anak dari hasil pemerkosaan orang 1 bulan lalu. Anak yang ia tak tahu bagaimana proses pembutannya. Sialan!
Kenapa banyak sekali orang yang menikah susah mendapatkan anak. Sedangkan dirinya yang di perkosa langsung jadi?
"Ihhh kesel...!!! Ini semua karena pria itu. Aku sumpahin kamu nelen biji salak biar mati." Isaknya sambil memukul-mukul stir mobilnya. "Ehh jangan mati dulu. Masa bapak dari anak aku mati." Isaknya tersedu-sedu menarik kembali ucapan sumpah serapahnya tadi.
"Nelen doang nggak apa-apa. Tapi jangan mati. Amin." Gumam Viola bersungguh-sungguh.
"Lihat aja, doa orang teraniaya akan dikabulkan!"
*****
"Uhuk-Uhuk...!!!" Davino memegangi lehernya ketika salah satu biji salak yang baru ia makan tertelan dan nyangkut di tenggorokan.
"Boss kenapa?" Ujar Tylor, pria yang selama ini menjadi tangan kanan yang Davino percaya khawatir. "Kalian meracuninya? Siapa yang kasih boss minum sama salak ini?" Teriak Tylor kepada semua anggota mafia kepemimpinan Davino.
Semua orang nampak bingung dan tak ada yang menjawab. Karena sejatinya minuman dan makanan itu di beli oleh Davino sendiri. Malahan Davino yang membagikannya kepada mereka semua.
"Boss kenapa?"
"Sal--lak." Ujar Davino tergagap.
"Boss mau salak? Mau di kupasin?" Tanya Tylor lagi dan Davino menggeleng cepat. Davino merutuki kebodohan anak itu. Memang benar Tylor dapat dipercaya dan setia. Tetapi kebodohnya itu.... sudah sangat membabibuta.
"Bi--ji..." Pekik Davino lagi sambil menepuk tengkuknya. Lima detik setelah berpikir keras, akhirnya Tylor sadar. Ia langsung memukul punggung Davino dengan keras bekali-kali hingga benda bulat itu terlempar keluar.
"Uhuk--uhuk...." Davino terbatuk-batuk sambil menoyor kepala Tylor dengan kencang. "Bego!"
"Maaf boss. Saya pikir anda keracunan." Tylor menunduk.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Bucin Mafia
RomanceDavino adalah seorang mafia yang sangat dingin dan kejam. Apalagi setelah insiden kematian putranya, karena kesalahannya sendiri. Hatinya seolah membeku dan tertutup untuk siapapun. Davino tak percaya akan cinta. Namun sepertinya ketidakpercayaan it...
