Davino membawa anak buahnya menemani Viola berbelanja. Namun beberapa dari mereka berpencar menjaga Viola dari jauh. Hanya Tylor dan bodyguard yang mengintil dibelakangnya.
Terkesan berlebihan memang. Tapi ini demi keselamatannya. Bayangkan jika ada musuh yang tiba-tiba mendekat atau menyerang? Walaupun sejauh ini Davino tidak begitu mempunyainya. Davino tidak pernah terlibat masalah dengan mafia lain selama beberapa tahun ini.
"Beli baju hamil yang nyaman." Ketus Davino.
"Senyum."
"Iya Viola. Jangan lupa pilih baju hamil yang nyaman." Ujar Davino dengan senyuman manisnya, menuruti apa mau Viola. Namun entah kenapa hari ini wanita itu tak secerewet biasanya.
"Kamu kenapa kelihatan lemes?" Davino mengecek dahinya. Barangkali demam kan? Dan Viola langsung masuk kedalam pelukan Davino ala-ala manja seperti biasanya.
"Nggak kuat jalan. Rasanya lemas sekali."
Davino tau Viola pasti beralasan saja supaya bisa di gendong. Dari kasur ke kemar mandi saja ia enggan jalan sendiri. Pokoknya manjanya dia saat ini udah sampai tahab akut.
Pada akhirnya karena tak tega Davino berjongkok di hadapannya. Sebelum beranjak menggendong Viola, ia lebih dulu memasangkan cincin di jari manisnya. Cincin pasangan dari yang sedang ia pakai. Cincin dadakan yang baru saja ia beli semalam, saat pulang dari rumah adiknya.
"Aku pakai, kamu juga pakai. Itu buat tanda pernikahan kita." Ketusnya tidak ada nada romantis sama sekali.
Wajah Viola tiba-tiba memerah padam. Damn! Kenapa sih Davino selalu semanis ini? Mereka hanya kontrak, tapi kenapa harus seserius ini? Apa penting sebuah cincin untuk pernikahan kontrak?
Viola tersenyum simpul dan memeluk leher Davino dengan erat. "Makasih." Bisiknya tepat ditelinga pria yang sedang menggendongnya. "Cincinnya indah banget. Kok bisa pas di jari aku sih? Kok kamu tahu ukurannya?"
Viola tidak tahu saja betapa repotnya Davino semalaman mencari itu. Tylor harus bolak-balik mengambil sampel dari toko perhisan ke mobil. Davino berusaha mencari yang pas dan berkelas. Ia tidak mau perhisan murahan untuk calon ibu dari anaknya.
Kalau ia sembarangan, pasti anaknya ikut sedih kan di dalam perut? Janin bisa merasakan kasih sayang ayah dan ibunya. Davino akan melakukan yang terbaik juga memberi kasih sayang penuh selama Viola masih hamil.
"Jangan pikirkan itu. Yang penting pas dan kamu suka."
"Sayang Davino!" Ujarnya dengan pelukan erat.
"O...ya?"
"Karena kamu satu-satunya orang yang pernah membelaku dihadapan banyak orang, termasuk saudara tiriku. Kamu tidak pernah membedakanku dengan orang lain. Kamu baik sama aku. Aku sayang kamu karena itu."
"Jadi kita berdamai?"
"Memangnya kita pernah bertengkar? Tumben kamu ngomongnya lembut."
Davino diam. Benar juga. Ngapain dia harus selembut itu kepadanya? Wanita bar-bar ini? Davino takut Viola kepedean.
"Kamu yang nyuruh." Ujarnya kembali ketus.
"Kok ketus lagi?"
"Iya enggak...." Davino kembali tersenyum manis ke arah Viola. Terus kenapa nanya kalau ujung-ujungnya disuruh lembut lagi?
"Gitu dong." Viola mencubit kedua pipi Davino.
Setelah mereka sampai disebuah toko baju, Davino membantu Viola memilih masih dengan menggendongnya. Mereka seperti pasangan pengantin baru, yang sedang dimabuk asmara.
Tapi memang benar kan?
Dari kejauhan lima orang wanita terlihat memilih baju sambil memandangi keduanya. Salah satunya Clara yang merupakan saudara tiri Viola.
Ia heran kenapa harus bertemu disini? Dan kenapa mereka harus semesra itu? Kenapa Viola harus lebih unggul darinya?
"Itu saudara kamu kan Cla? Siapa dia? Suaminya?"
"Iya." Jawab Clara kesal.
"Ganteng banget." Sahut salah satu wanita lagi.
"Eh, bukannya itu mantan suami Mega?"
"Mega?" Semua orang menoleh kepada salah satu wanita, yang saat ini sedang memandangi Viola dan Davino dengan tatapan sinis.
Karena Clara model junior, ia tidak begitu tahu masalah asmara seniornya seperti apa. Dan fakta itu cukup membuatnya terkejut. Tenyata Davino mantan suami seniornya sendiri?
"Katanya mantan suami kamu miskin, makanya kamu ceraiin. Tapi lihat deh, dia ke mall aja bawa bodyguard."
"Dulu dia miskin dan biasa aja. Harta aja cuma ngandelin warisan. Hidup dia kacau. Aku langsung ceraiin dia setelah dua tahun pernikahan. Setelah usahanya hampir bangkrut. Anak kita aja meninggal karena meminum obat berbahaya tanpa pengawasan darinya. Aku juga nggak ngerti kenapa dia bisa berubah seperti itu."
"Kakak nggak mau dapatin dia lagi?" Hasut Clarisa.
"Davino mana mungkin maafin aku. Setelah aku ninggalin dia, dan kasar sama Bryan anak kita, rasanya nggak mungkin. Biarin lah, lagian udah lima tahun lalu. Sekarang dia dapat yang lebih muda." Ujar Mega lirih. Mega sebenarnya masih tidak percaya Davino bisa sekeren itu sekarang.
"Kakak yakin?"
"Kok kamu malah dukung sih. Bukannya dia saudara kamu?" Mega kembali bertanya kepada Clara.
"Dia itu saudara tiri yang menyebalkan!"
Clara memanas melihat Viola diperlakukan seistimewa itu. Davino mau aja lagi disuruh gendong seperti itu. Kurang kerjaan! Pamer kemesraan!
Belanjaan mereka bahkan ada yang bawain sendiri. Di kawal bodyguard pula, ihhh!!! Kenapa Viola selalu lebih unggul darinya?
"Jika aku berhasil merebut Nevan, orang yang kamu kagumi sejak kuliah, kali ini aku juga harus bisa membuat kalian berpisah lagi. Mega satu-satunya kunci untuk memisahkan kalian!" Batin Clara.
****
Hide Story Davino membeli cincin...
"Kita berhenti di Giovany Jewelry dulu."
Tylor yang sedang menyetir menoleh ke kursi penumpang yang ada di belakangnya. Ke arah bossnya yang saat ini masih memangku Viola.
Untuk apa bossnya kesana? Tumben sekali. Jarang pria itu mau mampir ketempat perhiasan. Apalagi yang sekarang mereka kunjungi adalah toko perhiasan elit dan mahal.
"Untuk apa boss? Mau membeli sesuatu?"
"Membeli cincin."
"Untuk Viola? Wahh boss sayang banget ya, sama dia."
"Formalitas."
"Tapi itu tandanya sayang." Celetuk Tylor sambil terkikik.
"Apa mulutmu bisanya hanya bergosib?" Davino menatap Tylor tajam dari kaca kecil yang menghubungkan tatapan mereka. Tylor pun buru-buru membalik kaca itu ke arah lain.
"Maaf boss."
"Belikan cincin paling langka, cantik, dan mahal. Jangan yang pasaran."
"Ukurannya?"
"Ya kamu bawa contohnya ke kita."
"Bolak-balik? Toko perhiasannya ada di lantai 30." Tylor bisa membayangkan betapa repotnya ia sebentar lagi.
"Nolak? Kalau Viola nggak tidur aku nggak suruh kamu. Kasian kalau dia harus bangun, kualitas tidurnya nanti buruk."
"Siap boss! Saya laksanakan dengan senang hati!"
Shitt!!! Tylor mengumpat dalam hati. Katanya nggak cinta? Tapi sebegitu special perlakuannya.
****
KAMU SEDANG MEMBACA
My Bucin Mafia
RomanceDavino adalah seorang mafia yang sangat dingin dan kejam. Apalagi setelah insiden kematian putranya, karena kesalahannya sendiri. Hatinya seolah membeku dan tertutup untuk siapapun. Davino tak percaya akan cinta. Namun sepertinya ketidakpercayaan it...
