Hari ini merupakan hari pertama Jisung untuk memulai aktivitasnya di sekolah, setelah tujuh hari dirawat di rumah sakit menghirup udara di luar ruangan terasa sangat menyegarkan. "Aden teh kenapa dari tadi senyum, meuni bahagia pisan." Tanya Mang Danang sembari menoleh ke arah Tuan Mudanya sekejap.
Jisung yang diberi pertanyaan tersebut mengambil nafas lebih dalam sembari mengembangkan senyumnya lebih lebar. Menikmati sapuan angin yang menerobos helaian rambutnya. "Cuacanya cerah Mang, jadi pengen jalan-jalan." Celetuk Jisung sembari menjulurkan tangannya ke luar jendela. Mang Danang yang meihat gerak-gerik Tuan Mudanya yang semakin melebarkan senyum.
Senyum Tuan Mudanya ini sangatlah langka dan sulit ditemukan, bukan karena Tuannya tak pernah tersenyum melainkan senyum palsu yang selalu Ia tunjukkan kepada semua orang. Dirinya bahkan rela memberikan segala hal didunia ini untuk melihat senyum tulus tersebut.
"Mang jangan diliatin terus ngapa? jalannya ntar cembru loh."
"A-aaa-aaa, Iya den maaf." Ujar Mang Danang gugup yang disambut dengan tawa renyah dari majikannya itu dan secara alami membuat dirinya ikut tertawa.
"Mang! Mang! Belok kanan mang." Pinta Jisung sembari mencondongkan badannya ke depan agar lebih dekat dengan mang Danang.
"Ta-ttta-pi den, jalan ke sek-"
"Manggg! Ayo laa, langitnya cerah! lebih cocok buat main daripada sekolah! ayo Mangg!" Bujuk Jisung yang di balas anggukan oleh Mang Danang. Jisung yang melihat respon Mang Danang berseru bahagia.
Menikmati kesibukan di bahu jalan ibu kota, dan melihat banyak orang tua yang mengantarkan anaknya kesekolah membuat suasana hatinya sangat baik, mengingat seminggu lalu dirinya di kurung dalam ruangan serba putih dengan bau obat-obatan yang sangat memuakkan. Sangat lah menyenangkan mengendarai mobil dengan kaca yang sepenuhnya terbuka, menikmati sapuan angin yang menerpa wajah tampannya tersebut.
Saat dirinya membuka matanya, perhatiannya teralihkan dengan seorang gadis kecil yang sedang menangis sendiri di taman. "Oohhh-ohh. Mang! Mang! berhenti Mang!" Pinta Jisung mendadak hingga terdengar decitan akibat Mang Danang yang mengerem mobilnya secara mendadak. "Aya naon Den?" tanya Mang Danang menoleh.
Setelah mobil berhenti beberapa saat, Jisung tak mengindahkan intrupsi Mang Danang. Dirinya langsung berlari mendekati gadis kecil tersebutdan ikut berjongkok didepan gadis tersebut. "Hai cantik!" Sapanya dengan senyum menawan. Tangisan gadis kecil tersebut seketika berhenti, di gantikan dengan tatapan penuh tanya.
"Aaah kenalin nama kakak Jisung, kamu?" Kata Jisung sembari mengulurkan tangannya ramah penuh senyum yang membuat matanya menyipit
"Kak Amel larang Lili buat bicara sama orang asing." Bukannya menjawab pertanyaan Jisung, gadis tersebut malah memberi pernyataan yang telah diajarkan oleh kakak gadis tersebut. Jisung yang mendengar pernyataan gadis tersebut tertawa riang sembari membelai lembut kepala bocah di depannya.
"Den Ke-" Ucap Mang Danang terpotong setelah melihat tuan mudanya mengangkat tangan kirinya, mengintrupsi dirinya untuk diam.
"Wahh, kerja bagus, ternyata Lili tumbuh dengan baik."
"Ughhh? Paman tahu nama Lili?" Tanya gadis tersebut antusias, bahkan mata belok yang berair sebelumnya, kini menjadi mata yang menatapnya dengan binar indah. "Paman? Apakah kakak terlihat setua itu? Wahh ku kira wajahku seperti Cipung" Kesal Jisung yang mengundang tawa keduanya.
"Oghh? Mang Danang juga tertawa mengejekku?" Tanya Jisung main-main yang mengundang gelak tawa ketiganya. "Ughhh, kau tertawa." Tunjuk Jisung kepada Lili yang sekarang ceria kembali.
"Ahhh benar, apa Lili tau? Paman yang seimut Cipung ini dapat meramal?" Tanya Jisung sembari mengedipkan sebelah matanya, berusaha menarik perhatian bocah tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
All About Me || REVISI
Teen FictionJika kematian adalah hal yang paling di harapkan,lalu untuk apa kehidupan di ciptakan? 📌#1 in frinship🥇
