Kecewa Kembali

395 58 13
                                        

"No! Jeno! JENO ALKUNA DIRGANTARA!"

Jeno yang mendengar teriakan Hechan hanya berjengit kaget. Seharusnya Ia memakai penutup telinga saat berada di dekat Haechan jika ia masih sayang pada telinganya.

"Lo gak lagi mikirin yang tadi di Koridor kan?" Tanya Haechan hati-hati, mungkin ini pertanyaan sederhana baginya tapi bisa jadi ini menjadi membuka luka baru untuk orang lain?.

Jeno yang mendengar tebakan Haechan pun menggeleng pelan, ya sekarang ia sedang berbohong karena kejadian tadi sangat membekas di ingatannya. Jeno hanya menghela nafas kasar kemudian di letakkan nya lagi alat makan yang semula berada di tangannya. Moodnya rusak karena masalah tadi

Flashback

"No..anterin gue cari makan malem yok pleasee" Celetuk haechan dengan nada yang di buat buat semanja mungkin. Ia tak bisa diam saja saat cacing-cacing dalam perutnya meronta ronta meminta makan.

Jeno yang di ganggu dalam belajarnya hanya bisa berdecak malas. Kadang ia berfikir kenapa Ia mempunyai teman semacam Haechan Candra yang bisanya hanya menganggu dan merepotkannya.

"Ckk sono cari makan sendiri di kantin rumah sakit kan ada apa delivery aja kan simpel"

"Masa lo gak mau temenin gue si? Apa sengaja buat gue berisik biar Nana kebangun ehmm" Ancam Haechan kepada Jeno sudah di pastikan sahabatnya satu ini tidak akan menolaknya.

"Lo cowok apa cewek si? Main ancem ancem aja kek perawan tua" Cibir Jeno seraya membereskan buku bukunya, jangan heran mengapa Jeno serajin itu karena sang ayah selalu menuntutnya menjadi nomor satu.

"Eyy tu congor kalo ngomong ngotak dikit ngapa? Enak aja ganteng-ganteng gini di kira perawan tua gue cowok tulen ya!"

"Dihh gitu aja ngambek mana ngegas lagi" Ujar Jeno seraya berjalan keluar ruangan meninggalkan Haechan yang sedang ngambek mode on

"Jadi ngantin enggak? Kalo lo gak mau gue aja sendiri" Ujar Jeno santai dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Haechan yang meyadari jika Jeno meninggalkannya segera berlari keluar, bagaimana bisa orang yang mengajak malah di tinggal dengan orang yang di ajak?dasar tidak tahu diri.

Haechan yang masih kesal kepada Jeno hanya berjalan di belakangnya sembari membuang muka dan tidak mau menatap wajah sang sahabat. Bukannya bagaimana hanya saja siapa yang tega mendiamkan pemuda dengan wajah yang hampir menyerupai bayi samoyed itu di tambah lagi dengan tahi lalat di dekat matanya.

"Chan! Chan! Sana ada apa dah rame banget? Masa itzy malem malem konser di rumah sakit kagak mungkin kan?" Tanya Jeno dengan candaan garingnya, mungkin baju yang basahpun akan kering saat Jeno membuat lelucon di dekatnya.

Haechan yang meras terpanggil masih acuh, Ia mengira Jeno hanya merayunya saja classic batinnya. Jeno yang merasa Haechan mengacuhkannya pun mulai menarik lengan sang sahabat kasar.

"Apaan sih Jen! Main tarik tarik aja lo ki-" Ucapan Haechan terputus sebab Jeno mendekap bibir tipisnya. Jeno memperhatikan objek tersebut hingga seorang pria yang berada di kerumunan itu berjalan mendekat ke arahnya.

"Permisi mas boleh tanya?" tanya Jeno sopan  dengan orang yang berlalu lalang yang kemudian berhenti dan mengiyakan permintaan Jeno.

"Maaf tapi di sana ada apa ya mas? Kok rame rame?"

"Ohh itu dek, ada anak remaja nyari nenek sama abang atau temennya tapi kasian banget deh sampe histeris gitu. Gak tega saya liatnya!" Jawab pria tersebut.

"Ohh gitu ya mass, terimakasih mas maaf menganggu" Ucap Jeno ramah seraya membungkukkan badannya 45°. Orang yang di ajak bicara pun melakukan hal yang sama seraya berjalan menjauh.

"Yok Chan pergi kantin!"

"Bentar deh Jen, gue penasaran liat dulu yuk! Pasien mana sih malem-malem malah keluyuran?" Ajak Haechan lagi-lagi Jeno harus menahan rasa kesalnya saat berjalan dengan sang sahabat, walaupun tak ayal Jeno juga penasaran akhirnya Ia menyetujui ajakan Haechan.

"Aaaaa! Jangan deket jangan deket!" Teriak remaja itu saat beberapa perawat ingin mendekatinya. Semakin membuat rasa penasaran di hati Jeno meledak-ledak entah mengapa hatinya teriris mendengar teriakan itu.

Karena rasa penasaran yang tinggi akhirnya Jeno menerobos kerumunan hingga ia bisa melihat remaja menyediakan itu.

Dheggg

Itu...itu adalah adiknya apakah abang yang di maksud adalah dia? dengan keteguhan tapi Jeno memberanikan diri mencengkeram bahu sang adik berusaha menenangkannya.

"Jisung!" Panggil Jeno yang merebut kesadaran sang adik. Jisung yang namanya di panggil pun mengangkat kepalanya hingga mata keduanya saling beradu tatap, hanya dalam waktu 2 detik tangan jeno yang semula bertengger manis di kedua bahu Jisung di hempas kasar begitu saja.

Jeno hanya terpaku dengan perlakuan Jisung padanya begitu mengejutkan, bukankah Jisung mencari sang kakak? Tapi mengapa tangannya di hempas kasar begitu saja? Belum sempat ia mencerna keadaan tiba-tiba suara halus terdengar dalam rungunya.

"Jisung!" Teriak orang itu yang sukses mengalihkan atensi Jeno padanya hingga tak berselang lama dengan Jisung yang menubrukkan badan dan memeluknya dengan erat seakan akan takut di tinggal atau semacamnya.

"Chenle"

Flashback end.

"Chan cabut dulu ya mau ngambil keperluan Nana, sama titip jagain dia ya? kalo misalnya tanya soal Jisung bilang aja kalo Jisung lagi istirahat gak bisa di ganggu" Pamit Jeno sembari beranjak dari tempat duduknya.

Haechan yang mendengar itu hanya menganggukan kepalanya. Ia tau Jeno butuh waktu sendiri karena Ia pernah berada di posisi itu. Dimana orang yang ia sayang tidak mengenalinya bahkan takut padanya, memikirkannya saja sudah menyakitkan seolah olah tertarik ke masa lalu.

Tanpa disadari ada sosok remaja yang mengeluarkan senyum sinisnya sembari menatap punggung tegap Jeno yang mulai hilang di telan keramaian kantin rumah sakit.

Ma...sebentar lagi keluarga Dirgantara akan hancur, satu persatu rencanaku untuk membalas dendam akan berhasil. Batinnya seraya beranjak dari tempat itu.

_ _ _

"Cucu nenek mengalami gejala depresi ringan yang menyebabkannya mudah terkena serangan panik yang menyebabkan detak jantung berdebar, untuk kedepannya mohon jangan bebani pikiran pasien dengan masalah terlalu berat karena bisa mengganggu karena akan berpengaruh dengan kesehatannya"

"Saya khawatir akan berdampak buruk pada psikisnya ada baiknya kita lakukan terapi untuk mencegah kemungkinan kemungkinan terburuk"

Saat ini Oma dalam perjalan menuju rumah sakit cahaya lampu di sepanjang jalan menjadi pemandangan yang sangat menyenangkan di pandang, namun tidak berhasil mengalihkan isi pikirannya. Perkataan dokter selalu terngiang-ngiang dalam kepala hingga memenuhi sebagian besar kinerja otaknya

"Bu ini sudah sampai rumah sakit, apa mau Danang anter sampe dalem?"celetuk Mang Danang membuyarkan lamunan Eyang tentang pernyataan dari dokter.

" Ohh sudah sampai ya? Ndak usah saya masuk sendiri aja. Oh iya nang saya enggak sempet masak nanti beli di luar aja ya pintu gerbang di kunci saya bermalam di rumah sakit sambil menemani jisung" Pesan Oma pada Mang Danang sembari membereskan barang bawaannya dan segera memasuki loby rumah sakit.

Mang Danang yang mendengar itu hanya mengangguk patuh, ada rasa penasaran dalam hatinya mengapa sang majikan melamun di sepanjang perjalanan? Biasanya sang majikan akan banyak mengajaknya bicara entah soal keluarganya atau menanyakan tentang Jisung.

Danang yang mempunyai pemikiran tersebut segera menggelengkan kepalanya bukankah tidak sopan mencampuri urusan majikan? Tanpa berlama lama lagi segera di jalankan mobil mewah itu meninggalkan jauh pelataran rumah sakit.

_ _ _

Makin kesini malah makin gaje gak sih🤧🤧🤧

All About Me || REVISICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang