Jehaan Key Alvano.
Mahasiswa kedokteran yang bisa membuat gula darahku naik, tengkuk sakit, emosiku meluap.
Orang bilang, dia nyaris sempurna. Tapi bagiku, dia tidak lebih dari orang yang nyaris kurang mental.
Tatapannya membuatku muak, senyumnya...
Sebenarnya My Enemy udah sempat aku tulis beberapa part di trakteer, dan aku pindahin ke Wp, harusnya disana bebas karena aku bisa private kontennya, tapi karena ini aku bawa kesini jadi, yah gtu. 😅
Aku udah peringatan di awal bahwa ini cerita mengandung mature Content, so. Aku harap kalian pintar memilih. Bagian yang kurang enak boleh diskip 😘
Ayo... be smart yah sayang..
Selamat menikmati _
_
_
_
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Lo punya masalah apa sih sama hidup gue!" Aku berkata sembari memukul meja kuat. "Gue alergi saos, Jehaan!"
Aku tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang sekarang menonton pertengkaranku dengan Jehaan. Ini sudah larut malam, tapi Jehaan selalu saja membuat emosiku naik hingga taraf tertinggi.
Bayangkan saja, dengan gampangnya dia menuangkan saos yang begitu banyak diatas nasi goreng yang ingin aku makan. Dia melakukannya dengan sengaja. Aku tekankan sekali lagi, sengaja.
Lihat saja tampang menyebalkannya. Dia masih tersenyum merasa tidak bersalah sembari menikmati soto ayam didepannya.
"Yaudah kan tinggal makan, terus mati deh."
Astaga. Aku harus menarik rambutnya.
"Apa lo bilang!" Aku menarik rambut Jehaan kuat hingga sendok yang digenggamnya terjatuh, badannya condong kearahku dan dia meringis.
"Aw! Sakit. Lepasin nggak?!"
Aku tidak peduli. Terus menarik hingga semua orang ditempat makan semakin berkumpul mengelilingi aku dan Jehaan.
"Nggak!" Tolakku. "Minta maaf nggak!" Kataku terus menarik rambutnya.
"Nenek lampir sakit!" Keluhnya lagi.
"Biar saja. Tinggal tahan dan mati!" Aku merasa beberapa rambut Jehaan sudah lepas dari akarnya didalam genggamanku. "Lo udah gagalin rencana gue, nyuruh Asta balik biar nggak ada yang nganter gue kan? Dan sekarang lo sengaja nuangin saosnya biar gue mati kelaparan!"
Tidak ada yang berani memisahkanku dan Jehaan. Terakhir saat beberapa orang memisahkan berakhir dengan wajah yang dicakar, lengan yang digigit, hidung yang patah, dan kepala yang pitak. Mungkin, tidak ada lagi yang mau mempertaruhkan nyawanya.
Jehaan memang mempunyai otot yang kuat, aku akui. Tapi aku mempunyai kelemahannya. Rambutnya.
"Aiza! Sakit!" Teriaknya mencoba melepaskan tanganku dari rambutnya.