[8] Bayi?

949 178 48
                                        

Halo... kita ketemu sama si tengil lagi

 kita ketemu sama si tengil lagi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Gimana? Seneng nggak?

Kalo seneng, ayo Boom vote and coment.

Sampai jumpa di chptre berikutnya..

Sayang kalian semua

😘😘

_



_


_





Aku kesal setengah mati. Rapat yang diadakan selalu saja tidak pernah membuatku senang, pasti akan selalu berujung pada keributan. Jehaan tidak akan pernah benar-benar satu pendapat denganku, selalu saja bertentangan.

Jehaan bilang, perempuan itu selalu gegabah jika mengambil keputusan. Selalu menyampingkan logika. Itu kata Jehaan. Aku tekankan sekali lagi, kata Jehaan, Jehaan yang A- nya dua.

Belum lagi tadi Karina memaksa agar Jehaan pergi bersamanya, berboncengan. Padahal jelas-jelas tadi Jehaan sudah menolak tetapi Karina tetap saja bersikukuh untuk bersama Jehaan.

"Aiza!"

Itu Asta.

Aku berbalik dan menemukan Asta yang menyusulku setelah rapat selesai.

"Apa?"

"Jehaan nyariin tuh, katanya ada yang mau diomongin."

Aku mengerutkan kening, "apa lagi, bukannya udah jelas. Aku boleh ikut, asal aku dibonceng ama kamu dan si brengsek itu bareng sama Karina kan? Terus, apa lagi?"

Asta tertawa kemudian menarik topi hodieku, membawaku seperti menjinjing anak kucing yang baru saja terguyur air menemui Jehaan.

"Aku juga gak tau. Tapi katanya Jehaan marah-marah, kak Vano juga sampe di salahin. Dia nyariin kamu."

"Lepasin Asta. Aku gak mau ketemu Jehaan, aku gak mau. Gak mau! Gak mau Asta!"

Asta abai. Dia terus menyeretku tanpa memperdulikan keluhan yang sejak tadi aku katakan. Terkadang aku berpikir, Asta kenapa lebih takut pada Jehaan dibanding denganku, yang jadi sahabatnya dia sebenarnya siapa disini. Aku atau Jehaan.

"Akhirnya..."

Suara kak Vano menyambutku ketika tiba diruangan rapat lagi. Jehaan duduk diatas meja, tatapannya kesal, matanya tajam, rahangnya juga mengetat, dan detik berikutnya dia membuang muka. Aneh.

"Za... dewi pelindung organisasi seni..." kak Vano langsung datang menghampiriku, "hanya dirimu yang mampu meredamkan api amarah tuan muda Jehaan yang terhormat."

Aku memutar bola mata jengah, "apa lagi sih kak. Kan udah selesai rapatnya."

Kak Vano langsung buru-buru mengambil tasnya, "tanya sendiri ajah ya, Za... kakak pergi dulu. Mau bimbingan." Setelah itu kak Vano pergi meninggalkan ruangan begitu saja.

'MY ENEMY'Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang