7.

15 3 0
                                    

Hari berganti menjadi minggu, berbagai persiapan menuju Ujian Nasional sibuk dilakukan oleh para pelajar yang akan menghadapinya. Termasuk diriku sendiri. Aku sibuk belajar, sampai tak ingat jika hari ini adalah hari di mana drama yang sudah kami perankan dengan sebaik mungkin akan ditayangkan, dengan disaksikan seluruh warga sekolah. Cukup deg-degan. Aku takut hasilnya tidak sesuai ekspektasiku. Semoga saja semua berjalan dengan lancar.

Setelah turun dari angkot (angkutan umum), aku bergegas menuju lapangan. Tempat di mana orang-orang akan menonton tayangan drama dari setiap kelompok seluruh kelas 12 yang sudah diatur oleh Pak Imam, guru seni kami.

Satu persatu, drama ditayangkan. Berbagai macam reaksi terdengar meski sedikit tenggelam karena sound speaker yang terdengar nyaring dari setiap penjuru. Sayang sekali, temanku, Anna, hari ini tidak bisa hadir. Kakeknya baru saja meninggal dunia, aku sudah berkunjung kemarin, menemaninya yang terus-menerus menangis meratapi kepergian kakeknya itu. Mungkin sepulang sekolah nanti aku mampir sebentar saja tidak apa-apa 'kan? Memastikan keadaan Anna saja, syukur-syukur jika terhibur.

Aku malu, aku menutupi wajahku ketika drama kelompok kami terpampang jelas di layar besar itu. Kelompok kami mengangkat tema pendidikan dan percintaan secara sekaligus dalam satu drama itu. Semoga saja nilainya bagus.


...


"Kenapa nutup wajah pas tadi? Acting aku jelek ya? Haha"


Aku refleks menengok ke orang di sebelahku, di mana suara tadi berasal. Menghentikan langkahku sejenak, dan melanjutkan kembali. Aku berpikir dari mana dia mengetahui itu. Apa dia memperhatikanku?


"Aku malu liat wajahku sendiri," gumamku yang kuyakini masih bisa ia dengar.


"Oh? Hahaha, ada-ada aja. Ngomong-ngomong aku gak nyangka, kita bisa berada di posisi ke-2. Itu bagus kan?" Tanyanya.


"Iya, itu sudah sangat bagus, aku bersyukur. Setidaknya actingku tidak jelek sampai mengacaukan semuanya," ucapku menyahut.


Ya, kelompok kami akhirnya menempati posisi ke-2 sebagai kelompok yang terbaik dan terinspiratif. Meskipun tidak mendapat posisi pertama, aku pikir posisi ke-2 tidak buruk juga.


"Enggak kok, acting kamu bagus, bagus banget malahan keliatan alami banget. Orang-orang bilang chemistry kita juga dapet, haha padahal kita gak pernah ngobrol ya," aku mengangguk menyetujui ucapannya.


"Pulang barengku ya? Mau ya? Jangan nolak please, kamu kan gak bawa kendaraan, temen kamu juga gak masuk ya?" ajaknya.


"Em, iya sih tapi, gak usah repot-repot Dam, aku bisa naik angkot atau bus,"


Setelah kubicara seperti itu, suara notifikasi pesanmasuk ke ponsel kami berdua. Masing-masing dari kami mengecek notif apakah itu.Ternyata pemberitahuan angkutan-angkutan umum, angkot, termasuk bus. Merekamogok kerja, karena sedang ikut demo apalah aku lupa. Aku melirik Adam yangsedang menatapku lembut, seperti biasa. Dia tersenyum, dan pada akhirnya akupun mengiyakan untuk ikut dengannya. Tidak akan terjadi apa-apa bukan? Baiklah,biarkan aku percaya sesekali pada orang ini.


TBC...

Yuanfen (✓)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang