Dalam perjalanan pulang, aku dihadang oleh kenyataan.
Dalam perjalanan pulang, aku dihadang oleh 'teman' lama.
"Kau bilang sudah berubah, namun kenyataannya apa? Kamu masih sama."
Pertanyaannya menembus dinding yang selama ini terbangun.
Diriku yang terkadang bertanya, kapan batasan-batasan itu setidaknya akan menipis dan membiarkan hal-hal lain datang dengan sambutan yang baik; namun pertanyaan itu malah dengan mudahnya menembusnya.
'Teman' lamaku mengizinkanku menengok kembali ke dalam diri.
Dia selalu mengoreksi apa yang kurang, mengkritiknya. Jarang sekali dia mengapresiasi apa yang sudah ku perjuangkan.
Aku terkadang membencinya, tapi aku tetap menyayanginya.
Belakangan ini dia membuatku merasa tak layak.
Mengacaukan perasaanku, mempermainkannya.
Dia memintaku menjauh dari hal-hal yang membuatku terluka. Entah dengan alasan apa.
Aku meng-iyakannya, mungkin itulah sebabnya ia membuatku merasa tak layak.
"Kamu terlalu bodoh untuk menghadapi kenyataan pahit." Katanya lagi.
Mengapa setiap katanya selalu menusuk?
Tak bisakah kita bicara baik-baik?
Kita semua butuh waktu untuk sembuh.
Mungkin dalam hal ini, aku butuh waktu untuk menepi.Jum'at, 16 Juli 2021
Meilusy.

KAMU SEDANG MEMBACA
Semua Tentang Kita.
PuisiKumpulan sajak, suara dalam kata, curahan hati, puisi. Semua kumpulan sajak ini adalah hasil Kolaborasi 2 orang. @meilusy @solawatiwr Terima kasih telah membaca, tolong beri vote, kritik dan saran agar kami terus berkembang, ya :)