14 ; themis

624 72 35
                                    

⚠️️cw/tw⚠️
violence (?)
homophobe implied
sensitive

Happy reading~

.
.
.
.

Suasana canggung menyapa begitu ketiganya duduk di meja makan. Hanya berlaku untuk Kiyoomi sebenarnya. Sejak dirinya masih di depan kediaman Miya bungsu, atmosfer tidak menyenangkan sudah Atsumu keluarkan, ditambah saat dirinya melangkah masuk lebih dalam. Aura mencekam semakin jelas dirasakan olehnya seolah kedatangannya benar-benar tidak diharapkan disana.

"sebenarnya aku belum selesai menyiapkan makan malam," Miya Osamu dengan celemek gelap menempel di badannya berbicara sembari sibuk menyiapkan hidangan untuk sang tamu. Jika Kiyoomi dilanda canggung yang mencekik, Osamu justru begitu santai dan cekatan dengan segala pekerjaannya. Tidak terusik sama sekali dengan aura yang Atsumu keluarkan sejak tadi. Atau memang tidak peka.

Kiyoomi beranjak dari meja makan, menaruh bingkisan yang dibawanya pada mini bar di dapur milik Osamu. Menarik bangku lalu mendudukinya, Kiyoomi menopang dagunya mencoba abai dengan pandangan Atsumu yang masih terarah padanya. Dirinya memutuskan untuk memperhatikan Osamu yang masih sibuk dengan masakannya, sesekali menoleh dan melempar senyum tipis padanya.

"untukku?" Osamu bertanya saat Kiyoomi sudah duduk memperhatikannya dan ia melihat sebuah bingkisan yang diyakini sebagai buah tangan Kiyoomi. Tidak mau menebak tapi dari wujudnya Osamu sudah tahu apa yang Kiyoomi bawa.

"sebagai ganti makanan yang kau buatkan untukku." Kiyoomi tidak mengenakan maskernya lagi, oleh sebab itu senyumnya terumbar begitu saja tanpa penghalang. Tidak ada lagi tatapan malas dan wajah datar disana. Hanya ada Kiyoomi dengan tatapan lembut dan senyum tipis yang menawan.

"aku membuatnya dengan suka rela kau tahu." Osamu mengerling pada Kiyoomi saat mengatakannya, membuat Kiyoomi tergelak setelah melihat aksi Osamu. Itu bukan godaan, 'kan?

"tapi aku serius, masakanmu patut diapresiasi, Osamu. Dan aku pasti dengan senang hati akan melakukannya." Ini bukan ajang saling memikat tentu saja. Tapi kelakuan keduanya sukses memprovokasi pemuda bersurai pirang di sana. Dia yang sejak tadi hanya diam memperhatikan, kini menendang kaki meja dengan sengaja. Badannya berdiri saat kedua orang yang menjadi asalan keresahannya menoleh dengan kaget, khususnya Osamu.

"Tsumu?!"

"tidak, maaf kakiku tersandung," Atsumu memandang Osamu lurus lurus. "panggil saja saat sudah siap, aku ingin mandi dulu." Setelahnya Atsumu melangkah menjauhi meja makan.

Kiyoomi hanya diam melihat Atsumu yang meninggalkannya berdua bersama Osamu. Diam-diam menarik ujung bibirnya saat dengan jelas menangkap sinyal kekesalan dari Atsumu.

"maaf Kiyoomi, Tsumu memang seperti itu. Kau tahu sendiri, 'kan?" Kiyoomi mengangguk menanggapi pertanyaan Osamu. Tidak, jujur saja Kiyoomi tidak tahu. Bukan urusannya untuk mengetahui tindak tanduk orang lain. Sangat merepotkan.

"sialan."

Atsumu menggeram begitu sampai di kamarnya. Tangannya yang tersembunyi di kantong celananya mengepal dengan erat. Emosinya seperti ditarik keluar dengan sengaja oleh Kiyoomi. Dahinya mengernyit saat mengingat rentetan kalimat yang baru saja ia dengar dari adiknya dan Kiyoomi. Bibirnya berdecak sebelum mendesis dengan tajam, "ck! menjijikkan."

Memutuskan untuk mendinginkan kepalanya, Atsumu masuk ke kamar mandi dan mengguyur kepalanya dengan air dingin. Cukup lama berdiri di bawah pancuran air, saat merasa sudah mampu mengontrol emosinya, Atsumu keluar mengeringkan rambutnya dan beranjak keluar saat mendengar Osamu meneriakkan namanya berulang kali.

trió̱n • sakuosa / sunaosa •Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang