20 ; the path

307 48 17
                                    

Happy reading

.
.
.

Bagi Atsumu, segala tindakan serta rencana dalam hidup Osamu bukanlah fokus utamanya. Yang terpenting adalah bagaimana hasil yang ia dapatkan. Masa bodoh dengan segala prosesnya. Asalkan hasil yang ia dapatkan sesuai dengan apa yang ia ekspektasikan. Yang ia inginkan hanya keberhasilan, dan kebahagiaan Osamu nantinya. Anggap saja Atsumu terobsesi, karena memang begitulah adanya. Bohong, jika Atsumu mengatakan dirinya tidak mengetahui apa yang terjadi diantara saudaranya dengan Sakusa Kiyoomi. Atsumu selalu tahu. Serupa dengan peristiwa di waktu lalu. Bercermin dari sana, Atsumu menganggap tindakannya adalah hal yang benar, yang memang harus ia lakukan. Bagaimana Osamu menjalani harinya tanpa tangis dari lara karena seseorang, pun dengan keberhasilannya mendirikan tempat makan yang dahulu ia impikan. Atsumu semakin menganggap apa yang ia perbuat seratus persen benar. Hingga tanpa sadar, menormalisasikan segala tindakannya atas dasar kebahagiaan Osamu.

Ditambah pula dengan perannya sebagai Miya tertua, mendapat tekanan sejak belia membuat pribadinya tertempa sedemikian rupa oleh berbagai aturan keluarga. Tidak jauh berbeda dengan Osamu sebenarnya, hanya saja menyandang gelar kakak dan pewaris utama jelas membuat Atsumu dididik lebih keras oleh orangtuanya. Semakin bertambahnya usia tidak membuat pengaturan pikirannya berubah terhadap Osamu. Atsumu tetap dan akan selalu menjadikan Osamu sebagai 'adiknya'.

Menjadi atlet voli nasional bukan semata-mata karena impian, namun juga upaya demi menjaga adiknya. Karena hanya dengan ini, ia dapat dengan leluasa melihat tanpa distraksi dari hal lain. Dusta, tentang dirinya yang begitu tergila-gila dengan olahraga bola besar tersebut. Maka tidak heran pula saat dirinya tanpa segan suarakan keinginannya untuk keluar dari tim kala Rintarou bertemu dengan Osamu. Dirinya bersungguh-sungguh akan mengundurkan diri dari daftar keanggotaan black jackal jika memang keadaan berubah dari 'jalur' yang seharusnya. Dan mungkin, perubahan jalur sudah mulai terlihat.

"Italia terdengar bagus..."

Suara ketukan sepatu terdengar konstan di dalam ruangan yang hanya terisi oleh dua insan. Bunyi kursor yang bergesekan dengan alasnya menjadi pengisi suara kedua setelah ketukan sepatu pada lantai kayu disana. Salah satu dari keduanya duduk dengan santai menyandarkan punggung dan memandang langit-langit dengan satu lampu gantung yang menghiasinya. Alisnya mengkerut, dalam hati menghitung jumlah batu berkilau yang menempel di sekeliling lampu tersebut. Dirinya membenahi duduknya sebelum melanjutkan.

"... ayah."

Rungunya belum mendengar sahutan. Pria paruh baya yang ia sebut ayah masih sibuk dengan monitor di depannya tanpa alihkan fokus pada yang baru saja bersuara. Lumrah, pikirnya. Memang seperti itu perangai sang ayah. Jika boleh suarakan pendapat, Atsumu akan menentang kabar burung yang pernah ia dengar tentang dirinya begitu mirip dengan sang kepala keluarga. Benar adanya bila dilihat melalui mata telanjang. Dirinyalah yang begitu identik dengan Miya senior alih-alih mirip sang ibunda. Namun dari segi tindak tanduknya, jelas terlihat jika Osamu lah yang begitu mewarisinya. Paras menurun dari sang ibunda, dan sifat yang menurun dari sang ayahanda. Sempurna, komentar Atsumu atas apa yang baru saja mengendap dalam benaknya.

"Aku berpikir jika Roma lebih baik daripada Italia."

Atsumu mengerjap. Roma?

"Kurasa Samu lebih menyukai Italia, ayah."

Sang ayah melepas alat optik yang bertengger di hidungnya. Mengurut pelan pangkal hidung yang terasa kebas setelah memakai kacamata hampir setiap saat, lalu jatuhkan tatapannya pada pemuda yang kini balas menatapnya. Terlalu lembek. Pikirnya saat mendengar apa yang Atsumu katakan.

trió̱n • sakuosa / sunaosa •Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang