"Bagian latar belakang teorimu masih terlalu umum," katanya cepat, kaku. "Saya sarankan kamu fokus ke konsep restorative justice dalam tindak pidana seksual berbasis kekuasaan. Kamu... setuju?"
Tito mengangguk pelan. Tapi lalu ia condong ke depan. Matanya menatap dalam. Suaranya dipelankan-penuh jebakan. "Restorative justice... jadi, tentang kuasa dan pemulihan, ya? Cocok, pak. Saya suka topik yang ada unsur dominasi dan relasi kuasa."
Karel menelan ludah. Tangan kirinya tak sadar menggenggam pulpen terlalu erat.
"Kalau... kamu butuh referensi lanjutan, saya bisa bantu... secara pribadi. Di luar kampus juga boleh. Kalau kamu mau."
"Serius, pak?" Tito tersenyum miring. "Saya nggak keberatan kok. Bimbingan sambil makan malam, sambil ngobrol-atau sambil... istirahat sebentar juga nggak apa-apa."
Karel tercekat.
Lihat, dia makin panik. Tapi nggak berani menolak.
Suasana jadi hening.
Lalu, Karel berkata dengan suara pelan, seperti menahan napasnya sendiri, "Nanti... saya jadwalkan lagi, ya. Di luar kampus. Tempatnya saya pilih."
Tito mengangguk singkat. "Baik, Pak. Saya akan revisi."
Karel memiringkan kepala, menatap Tito lebih tajam."Kamu selalu bisa lebih dari 'baik'. Saya tahu itu. Sejak awal semester kamu sudah memikat banyak orang. Pintar, tampan, percaya diri... dan ternyata, sangat... serba bisa."
Jantung Tito berdegup keras. Ia ingin berbicara, tapi tenggorokannya kering. "Apa maksud Bapak?" suaranya terdengar pelan.
Karel berdiri, berjalan pelan ke sisi Tito, berdiri di belakangnya. Suaranya turun menjadi bisikan.
"Tito... saya tidak akan menghakimimu. Dunia ini kejam. Kita semua harus bertahan. Saya pun begitu. Tapi kamu tahu, bukan? Tidak semua dosen sefleksibel saya."
Tito mengepalkan tangan di pangkuannya. "Kalau maksud Bapak mau ancam, silakan. Saya gak takut."
Karel tertawa kecil, lalu menepuk pundak Tito pelan."Ancaman? Tidak. Saya justru menawarkan... perlindungan."
Ia kembali duduk di kursinya, menyandarkan diri dan menyilangkan kaki.
"Asal kamu tetap... bersikap manis pada saya, kita bisa saling menguntungkan. Nilai kamu? Aman. Rekomendasi untuk magang? Bisa saya siapkan. Bahkan... tawaran kerja setelah lulus, saya punya banyak koneksi."
Tito menatap ke bawah. Dalam hatinya berkecamuk antara jijik dan takut - bukan pada Karel, tapi pada dirinya sendiri yang untuk sepersekian detik sempat mempertimbangkan tawaran itu.
Dia benar. Aku bisa lulus dengan mudah... asal aku tetap 'manis'. Tapi sampai kapan? Berapa lama aku bisa main aman seperti ini??
Karel tersenyum, seolah bisa membaca pikirannya.
"Pikirkan baik-baik, Tito. Dunia tidak selalu butuh orang suci. Tapi orang cerdas... yang tahu kapan harus menyerah dan kapan harus bermain."
Ruangan itu hening. Hanya suara jarum jam yang terus berdetak. Pemuda itu meraih tasnya.
"Saya akan revisi skripsi saya, Pak."
KAMU SEDANG MEMBACA
Brondong Kampus [SELESAI]
RomanceLiam Sabert Husodo (22) adalah sosok sempurna di mata publik. Mantan ketua BEM, duta pariwisata, mahasiswa hukum jenius yang selalu tampil menawan dengan senyum manis, rambut menutupi dahi dan poni belah tengah yang khas. Namun semua ini hanyalah t...
![Brondong Kampus [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/279798789-64-k934457.jpg)