E11 : Out Of Mind

4.9K 134 2
                                        

Karel menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tangannya mengusap wajahnya perlahan.

"Aku sudah terlalu lama pura-pura... jadi sosok yang kuat, baik, punya kontrol. Tapi malam itu... kamu buat semuanya hancur, Tito. Dan anehnya, aku tidak merasa malu. Aku merasa... bebas."

Tito terdiam. Dalam hati, ia mulai merasakan sesuatu yang sangat asing.

Gue pernah lihat klien yang minta dilukai, minta ditampar, disuruh jongkok, diatur, dikendalikan. Tapi kenapa, saat dia bilang 'bebas', rasanya beda? Rasanya... gue yang justru ketakutan!

"Sekarang, saya hanya ingin jujur. Aku ingin kamu... bukan sebagai pekerja. Aku ingin kamu... tetap jadi Tito. Tapi untukku seorang."

Apa??

Tito menggigit bibir bawahnya. Tenggorokannya tercekat. Ia tahu arah pembicaraan ini bisa menghancurkan segalanya.

"Jangan bercanda pak, kalau orang tahu... kita berdua bisa hancur."Tito menambahkan pelan dan berat

Karel tidak bergeming malah menatapnya dalam-dalam"Kalau aku harus hancur... asalkan bersamamu, aku rela."

Jangan ngomong gitu, jangan... Lo dosen gue. Lo klien gue. Tapi kenapa rasanya kayak gue yang dikejar sekarang? ?

Ini salah. Ini gila. Tapi kenapa... bagian terdalam dari diri gue justru mau nyoba?

Tito menelan ludah, sejenak ia menengadah menarik nafas sambil memandang langit-langit kemudian memandang. Suaranya sedikit gemetar. "Gue... butuh waktu."

Karel berdiri perlahan, menunduk sedikit, lalu menyentuh pundak Tito sebentar-sekadar sentuhan cepat, tapi cukup membuat tubuh Tito bergetar tak karuan.

"Aku akan tunggu, Tito. Dengan segala sisi liar dan lemahnya kamu... aku akan tetap tunggu."

Karel keluar dari kelas tanpa menoleh. Sementara Tito masih duduk di bangkunya, napasnya tak teratur. Tangannya mencengkeram celana, menahan getaran yang menjalar dari perut bawah hingga dada.

Dia gila. Tapi kenapa... gila dia kayak ngenain sisi terdalamku yang selama ini aku sembunyiin?

Apa gue masih bisa bedain mana perhatian, mana kerja??

Suara getar ponsel memecah keheningan kamar. Tito meraihnya dengan malas, jantungnya berdebar pelan saat melihat satu pesan masuk. Dari Karel.

Pak Karel :

"Kamu nggak harus jawab,"
"Aku cuma ingin bilang... kamu nggak sendirian. Kalau kamu ingin cerita, atau cuma diam di sebelahku, aku ada."

Tito terdiam lama, menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Pesan itu sederhana, tapi terasa seperti sesuatu yang telah lama ia tunggu. Ia menutup matanya perlahan, napasnya berat namun terasa sedikit lebih ringan.

Mungkin... malam ini, gue nggak perlu cari klien.

Tangannya menggenggam ponsel lebih erat, seolah menggenggam harapan yang rapuh.

Mungkin malam ini, gue cuma perlu tidur... dan bangun bukan sebagai Tito si gigolo, ia berhenti sejenak, menelan ludah. Tapi Tito yang... mungkin masih seorang manusia.

Brondong Kampus [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang