E03 : Tiger

8.1K 164 1
                                        

Dan malam itu, ketika hujan turun deras dan perutnya kosong, Tito membuka sebuah aplikasi aneh yang pernah disarankan oleh temannya:

"EXC8T - Teman Rahasia Anda."

Awalnya ia hanya ingin mencoba jadi teman curhat dibayar. Tapi semua yang memesan hanya ingin satu hal: tubuhnya.

"Bang, senyum kamu manis banget."
"Kamu mirip komika itu lho... tapi lebih seksi."
"Kamu top-bottom gak, Bang?"

Ia butuh uang.
Ia butuh makan.
Ia butuh membayar semester.
Dan yang lebih jujur lagi - ia butuh merasa dicintai, meski dalam bentuk semu.

Malam pertama ia bertemu klien di hotel budget. Seorang pria 40-an, duda, pendek, berkacamata. Tangan pria itu gemetar saat memegang bahu Tito.

"Aku boleh cium kamu?"

Tito hanya diam, lalu mengangguk. Saat tangan klien itu menjelajah tubuhnya dan napasnya tercekat di leher Tito, ia merasa mual sekaligus menang. Karena di dompetnya nanti akan ada uang bayar apartemen sebulan. Dan pelan-pelan, setelah beberapa kali "job", Tito tak lagi merasa jijik.

Ia mulai menikmati kekuasaannya. Bagaimana tubuhnya bisa membuat para pria gemetar dan rela membayar mahal. Ia mulai sadar, tubuhnya bukan kutukan, tampangnya menjual, dan pelernya bukan hanya suatu aset, akan tetapi... modal bisnis. Modal lendir.

Dan dari sanalah kebiasaannya terbentuk:

Mendominasi klien hingga mereka ketagihan
Memainkan psikologi lawan agar selalu kembali
Menghindari keterikatan, karena semua ini hanya "kerja"
Menolak mencintai, karena cinta selalu berujung rugi

Sampai hari itu tiba. Hari di mana seorang klien bernama Dr. Karel Steven Winata membuka kunci chat-nya, dan menyadari kalau ia butuh dipuaskan oleh brondong yang membuat birahinya bangkit untuk menemani malam-malam sepinya selama ini.

"Ya, Pak... rasain. Ini bukan cuma peler mahasiswa. Ini penghancur batas. Aku akan bikin bapak bisa ngajar dua hari ke depan."

"AH... Tito... Aku gak kuat... aku... ahhh-"

Kukunci pinggulnya. Kudorong lebih dalam. Sekali. Dua kali. Dan tubuhnya gemetar hebat. Pelernya sendiri menyemprot tanpa disentuh. Dia mencapai klimaks.

Aku belum.

Aku teruskan-kudorong tubuhnya ke posisi tengkurap. Kupeluk dari belakang, pelerku masih tertancap keras di dalamnya. Kupompa lebih dalam, lebih cepat.

Kugigit bahunya, kuhisap kulitnya sampai merah. Tanganku menyelinap ke bawah, meremas dadanya yang basah oleh keringat.

"Terima kasih ya, Pak," bisikku di telinganya. "Udah nyediain lubang sempit dan hangat buat peler mahasiswa brondong yang haus ini."

Rudal besar itu mulai menembus masuk perlahan, memaksa otot-otot Karel terbuka. Karel menggigit bibir, keringatnya bercucuran.

"Tenang. Rasain... Semua orang yang lo suruh patuh akhirnya tunduk juga. Termasuk lubang lo."

Tito mulai bergerak. Ritmenya pelan di awal, lalu bertambah cepat. Suara desahan, tubuh menghantam ranjang, dan bunyi kulit yang saling berbenturan memenuhi ruangan hotel mewah itu.

Brondong Kampus [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang