E01 : Two Face

12.4K 231 3
                                        

Langit kota masih gelap ketika alarm Tito berbunyi pukul 05.30. Ia terbangun di apartemen studio kecil yang tertata rapi. Rambutnya masih acak-acakan, namun bahkan dalam keadaan bangun tidur pun, parasnya seperti tak bisa berbohong: Tito memang tampan.

Pemuda itu berjalan ke depan cermin, menggosok gigi sambil menatap pantulan dirinya. Tak ada senyum pagi ini. Hanya wajah datar dengan mata sembab karena tidur larut-ia baru pulang pukul 2 dini hari setelah menemani kliennya yang mabuk dan terlalu banyak meminta.

Pagi dimana sinar matahari menyelinap masuk lewat sela tirai kamar sempit, berbau sabun maskulin yang belum sepenuhnya menguap dari tubuhnya.

Kamar yang hanya seluas 5x5 meter, tapi sangat rapi. Di meja belajarnya tertata buku-buku hukum, catatan skripsi, dan satu rak kecil berisi medali serta piagam penghargaan.

Tito duduk di depan kaca, merapikan rambutnya yang dibelah ke tengah dengan jari, bukan sisir.

Ia mengenakan kemeja putih yang membentuk dadanya dengan pas, menyisakan dua kancing atas terbuka, cukup untuk memperlihatkan jakun dan kulit berwarna gading yang bersih dan menggoda.

Sekilas, tak ada yang salah dari pemuda ini. Dia mahasiswa teladan. Bekas Ketua BEM. Duta kampus. Cerdas. Santun.

Wajahnya sekilas mirip artis Korea dengan aura oriental lokal yang sulit diabaikan-apalagi saat senyumnya muncul, pelan, ramah, seolah tak pernah menyimpan dosa.

Namun siapa sangka, tangan yang kini menulis catatan hukum tentang asas itikad baik, malam sebelumnya justru mencengkram kepala seorang pria eksekutif sambil membenamkan tubuhnya dengan napas mendesah kasar, "Buka mulut lo. Gue belum keluar."

Suasana kampus pagi itu sangat ramai, namun tak sedikit pun menurunkan semangat mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas Paripurna. Di tengah hiruk pikuk aktivitas kampus, Tito berjalan tegap menyusuri koridor utama.

Pagi dimana kampus seolah menyambutnya dengan pelukan. Mahasiswa menyapanya. Dosen mengenalnya. Tito berjalan melewati lorong gedung fakultas hukum dengan kemeja putih rapi, tas selempang kulit, dan wajah santun. Duta Kampus, dan pembicara seminar nasional. Semua orang melihatnya sebagai panutan.

Tak ada yang tahu, bahwa semalam, Tito menunggangi seorang CEO paruh baya yang membayar 15 juta untuk semalam penuh.

Jas almamater biru tua dengan emblem kebanggaan kampus menempel rapi di tubuhnya yang atletis. Senyumnya yang hangat dan lesung pipi di pipi kirinya membuat siapa pun yang dilewatinya otomatis melambatkan langkah-termasuk dosen yang biasanya pelit senyum sekalipun.

"Pagi, Mas Tito!" sapa seorang mahasiswi berhijab sambil menunduk malu-malu.

Tito membalas dengan anggukan kecil dan senyum yang menggoda. Poni belah tengah khasnya bergerak sedikit tertiup angin AC lorong. Matanya sipit, oriental, dan penuh aura misterius.

Liat tuh lehernya Fira... kalau kubuka kerudungnya dan ci-- Hhh... astaga, aku baru berdiri udah keras gini. Napas aja jadi sempit. Kenapa semua orang keliatan bisa kupuasin siang ini??

"Pagi juga, Fira. Udah siap UTS Hukum Agraria nanti?" suaranya tenang, empuk, dan nyaris seperti membelai.

"A-Alhamdulillah, siap, Mas," jawabnya dengan pipi merah, sementara tatapannya secara tak sadar melirik ke arah kerah kemeja putih Tito yang sedikit terbuka, memperlihatkan tulang selangka dan kulit gading bersih yang seperti tak pernah kena debu kota.

Brondong Kampus [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang