"Kita lanjut minggu depan. Kelas selesai."
Para mahasiswa bubar. Tapi Tito masih duduk di tempatnya. Menunggu hingga semua keluar.
Bunyi kursi digeser. Suara langkah kaki memenuhi lorong fakultas. Kelas telah usai. Tito merapikan laptopnya. Pelan. Tak terburu-buru.
Ia bisa mendengar suara sepatu formal itu makin mendekat dari belakangnya. Irama langkah yang tak asing lagi-tekanan tumitnya sedikit goyah, seperti ragu. Tak seperti tadi pagi.
"Tito,"
Suara berat itu kini terdengar lebih pelan. Lirih. Bukan memanggil sebagai dosen. Tapi lebih seperti... permohonan.
Tito berhenti membenahi tasnya. Ia tak menoleh.
"Bisa sebentar?" tanya Karel, masih berdiri di samping bangkunya. Tangan kirinya gemetar halus.
Tito berdiri perlahan, memutar tubuhnya, menatap pria itu dari jarak dekat. Wajah Karel yang tadi penuh wibawa kini tampak lelah. Tapi matanya justru menyimpan sesuatu yang Tito kenal betul-kerinduan yang lapar.
Lihat dirimu sekarang, Pak. Dari singa podium jadi kucing liar yang kehausan.
"Kenapa, Pak?" tanya Tito, nada bicaranya lembut, menggoda, namun penuh bahaya. "Ada yang belum puas semalam?"
Karel langsung menggeleng. "Bukan itu maksud saya..."
Ia menarik napas.
Karel memberanikan diri mendekat.
"Tito... kita harus bicara."
Tito berdiri pelan, mendekat, menatap lurus ke wajah pria itu.
Tito tersenyum kecil menanggapi sedikit menantang. "Kapan, Pak? Malam ini? Atau langsung aja di ruangan Bapak sekarang?"
Gue suka lihat wajahnya yang merah kayak gini. Dosen pintar, lulusan luar negeri, sekarang jadi mainan.
"Semalam... saya nggak bisa tidur. Terus kepikiran. Kamu... kamu..."
Tito tersenyum tipis. Ia maju satu langkah, kini jaraknya hanya satu jengkal dari tubuh dosennya.
"Kamu luar biasa," bisik Karel, tanpa sadar. Matanya menyisir Tito dari ujung rambut hingga ujung kaki. Nafasnya semakin berat.
Karel menarik napas panjang.
"S-saya... saya nggak bisa terus-terusan berhenti mikirin kamu. Apa kita bisa... lebih teratur? Lebih privat. Bukan lewat aplikasi."
Tito tersenyum. Matanya menyipit, penuh dominasi.
"Lo bukan klien biasa pak. Lo dosen gue. Tapi karena lo pintar, ganteng, dan manis saat lemas... mungkin gue bisa bikin paket langganan khusus."
Karel menelan ludah. Tak bisa berkata-kata.
Dan malam ini... gue bakal tuntaskan rasa penasaran lo. Tapi dengan cara gue.
"T-tapi sebelum itu... s-saya bisa nggak minta tolong kamu bikin saya-"
"Tapi Bapak masih dosen saya, bukan?" potong Tito cepat. Wajahnya tetap tersenyum, tapi suaranya tegas. "Dan saya... hanya escort langganan yang Bapak bayar untuk satu malam. Bukan untuk drama hari ini."
KAMU SEDANG MEMBACA
Brondong Kampus [SELESAI]
RomanceLiam Sabert Husodo (22) adalah sosok sempurna di mata publik. Mantan ketua BEM, duta pariwisata, mahasiswa hukum jenius yang selalu tampil menawan dengan senyum manis, rambut menutupi dahi dan poni belah tengah yang khas. Namun semua ini hanyalah t...
![Brondong Kampus [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/279798789-64-k934457.jpg)