E07 : Price

4.8K 119 10
                                        

Karel muncul dari balik dapur, mengenakan setelan lengkap. Ia akan mengajar pagi ini.

"Kopi kamu. Hitam. Nggak pakai gula. Kayak kamu waktu menatap aku semalam," ucapnya sambil tersenyum, berusaha mencairkan suasana.

Tito menerima cangkir itu tanpa senyum. "Aku pamit dulu, pak. Ada kelas siang. Dan... ada klien sore ini."

Karel mematung. Wajahnya berubah. "Tito... aku pikir kita sudah bicara soal-"

"Bapak pikir, aku milik bapak?" potong Tito cepat. "Kita sepakat. Jangan kaburkan peran kita, pak Karel."

Seketika suasana membeku.

Siang harinya, Tito baru saja memasuki ruang kelas. Rambutnya masih agak basah karena terburu-buru mandi setelah semalaman hampir tak tidur. Dengan malas ia menjatuhkan tasnya di kursi baris ketiga dari depan, lalu duduk sambil memejamkan mata sejenak.

Satu malam di neraka, sekarang harus pura-pura suci di ruang kelas. Hidup ini memang ironi berdarah dingin.

Belum sempat menarik napas, bahunya disentuh pelan dari arah kanan. Elyas, teman sekelasnya yang terkenal cerewet dan selalu haus gosip, mencondongkan tubuh ke arahnya.

"Eh, lo udah denger gosip terbaru, belum?" bisiknya dengan mata berbinar penuh rasa puas.

Tito melirik malas. "Gue baru duduk, yas. Belum sempet denger apa-apa selain suara perut gue sendiri."

Elyas makin mendekat. "Sumpah, ini parah. Jadi katanya... ada cowok di kampus ini, yang katanya populer banget, mukanya tampan, badannya keren, pinter juga... tapi ternyata dia nyambi jadi... gigolo."

Tito membuka matanya perlahan. Tubuhnya sedikit menegang.

"Gigolo?" tanyanya datar.

"Iya! Gigolo!! Yang dibayar buat.. ya lo tau lah. Dan katanya dia lebih banyak punya klien cowok daripada cewek!" desis Elyas setengah berbisik, setengah menahan tawa.

Tito mengangkat alis. "Terus kenapa? Banyak orang nyambi kerja aneh sekarang. Ada yang jadi streamer, ada yang jadi pengasuh kucing... ada yang jadi motivator spiritual."

Elyas mendekat makin rapat. "Tapi ini beda, bray. Soalnya... katanya cowok itu deket sama salah satu dosen di fakultas. Dan mulai ada yang curiga. Banyak yang bilang... dia bisa masuk program unggulan karena hubungan spesial."

Deg

Dunia ini memang sempit, ya. Gosip bisa lebih cepat dari cahaya. Tapi... siapa yang ngomong duluan? Karel? Atau... ada yang lihat kami malam itu?

Ia menyipitkan mata, menatap Tito tajam.

"Lo kayaknya... kenal, ya?"

Tito berusaha tertawa kecil. "Kenal siapa? Gigolo misterius yang katanya seleb kampus itu?"

Elyas mengangguk cepat. "Iya! Lo pasti tahu. Soalnya... ciri-cirinya kayak... lo banget, sih."

Tito menoleh, menatap Elyas tanpa senyum. "Kalau memang gue, terus lo mau apa?"

Elyas terdiam. Mulutnya terbuka tapi tak ada kata keluar. Matanya melebar, kaget setengah mati.

Brondong Kampus [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang