E02 : Jablae

10K 203 4
                                        

Tito memasang senyum dingin, mencoba menguasai situasi."Jadi, kenapa... malah bapak yang pesan saya malam ini?"

Karel mendekat perlahan. Langkahnya pelan, tetapi sorot matanya tidak bisa disembunyikan. Ia terlihat gugup. Tergila-gila. Matanya tertuju ke arah tubuh Tito yang hanya dilapisi hoodie longgar.

"Kenapa... kamu ada di aplikasi itu?"

Pertanyaan bodoh. Lo pikir ini hobi gue, Pak? Ini hidup gue.

Tito menunduk, lalu mendekat. Tangannya melonggarkan ikatan hoodie di lehernya, menatap langsung ke mata Karel.

"Apa mau dibatalkan? Sudah tahu saya siapa sekarang... atau justru makin tertarik??"

Karel menelan ludah. Napasnya berat.

"Aku... aku ingin kamu malam ini. Tapi aku juga dosenmu, Tito. Aku bisa dipecat-kamu bisa dikeluarkan."

Tito tersenyum miring, lalu berbisik di telinga Karel.

"Kalau begitu, pastikan malam ini sepadan untuk risiko itu... Pak."

Main ancaman? Gue juga bisa. Tapi kalo lo punya uang dan nafsu, gue tahu lo akan tunduk juga.

Karel menarik Tito ke pinggir ranjang. Jemarinya gemetar ketika menyentuh pipi Tito, seolah tak percaya dengan yang ada di depan matanya.

"Kamu terlalu... sempurna," gumamnya. "Di kelas kamu cerdas, sopan. Tapi sekarang kamu... berbeda. Kamu... liar."

Tito menunduk, menggenggam jemarinya.

"Kalau bapak mau laporin aku, silakan," bisik Tito. "Aku nggak akan ngelawan."

Tapi Karel malah tersenyum. Perlahan mendekat. Meletakkan tangan di atas tangan Tito. Hangat.

"Aku... bukan mau laporin," bisiknya. "Aku mau... beli kamu. Untuk jadi milikku. Sepenuhnya."

Apa... maksudnya? Jadi milik?? Dosen ini... sakit jiwa apa gimana?!

Karel mengusap pipi Tito. Lembut. Hampir seperti mengagumi karya seni.

"Kamu... sempurna. Di kampus kamu pintar, tenang, karismatik. Tapi malam ini... kamu diluar dugaan, tampan, berbahaya, dan juga... mempesona."

"Aku ingin semuanya. Aku ingin kamu hanya untukku. Aku akan bayar berapa pun."

Tito terdiam. Otot rahangnya menegang. Nafasnya cepat.

Jadi ini tawaran... atau ancaman? Kalau kutolak, nama dan hidupku selesai. Tapi kalau kuterima... gue jadi properti dosen brengsek ini?

Tangan Karel bergerak turun ke leher Tito. Mencengkeram lembut. Bibirnya mendekat.

"Kumohon... biarkan aku jadi milikmu malam ini. Buat aku jadi budakmu, Tito."

Tito mendekat pelan, menurunkan tas kecil berisi 'peralatan profesionalnya', lalu membungkuk di depan dosennya-dengan suara rendah, hampir seperti bisikan di telinga:

"Jadi bapak ngundang aku datang ke sini... untuk tunduk? Kepada murid bapak sendiri?"
"Berarti bapak tahu kan kalau aku bisa... mengendalikan... menyuruh bapak... bahkan mempermalukan bapak kalau aku mau?"

Brondong Kampus [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang