E08 : Kucing

5.7K 114 2
                                        

Tito menatap Karel dari posisinya di atas, matanya melebar karena tak menyangka melihat Karel seagresif padahal mereka dosen dan mahasiswa. Di balik tatapan Karel yang berbinar penuh keinginan, Tito mendengar detak jantungnya sendiri yang semakin cepat

Gue gak nyangka dia bakal ngelakuin... pikir Tito dalam hati, suaranya hampir tak terdengar di antara desahan lembutnya.

Inilah yang selama ini kucari...

Tito bergumam dalam hati, sambil mendesah pelan. Kepalanya terlempar ke belakang, terpejam dalam kenikmatan yang tak terelakkan.

Aku ngerasa terguncang, namun juga gak bisa nahan senyum nakal ini,

Tanpa sepatah kata pun, Tito dengan lembut mengulurkan tangannya untuk membelai kepala Karel, memberikan kehangatan dalam sentuhan yang penuh arti.

Pak Karel... lo sungguh udah ngebuka setiap lapisan yang selama ini tersembunyi dariku...

Bisiknya dalam hati, merasakan setiap detik yang berlalu sebagai momen di mana batas antara pengekangan dan keinginan pun semakin memudar.

Diantara desahan lembut dan sentuhan yang terus mengalir, keduanya tenggelam dalam momen yang begitu intim, tanpa perlu kata-kata lagi, karena setiap pandangan dan sentuhan telah mengungkapkan segala sesuatu yang tak terkatakan.

Karel terus melanjutkan permainan mulutnya, menjelajahi peler Tito dengan lembut namun penuh ketegangan. Sementara bibirnya menari di antara setiap lekuk kulitnya, Tito merasa seolah dunia di sekitarnya memudar-hanya ada dia dan sentuhan yang begitu menggetarkan.

Ia terdiam sejenak, membiarkan desahan halus keluar dari bibirnya. Di dalam hatinya, bisikan keinginan semakin kuat.

Oh, pak Karel...

Dia merasakan setiap gerakan bibir Karel seakan mengalirkan kehangatan ke dalam setiap serat jiwanya.

Aku mau lebih dari ini, aku mau ngerasain setiap detik dari permainan mulut lo ini, hingga gue benar-benar terhanyut. Biarin gue tenggelam dalam pesona lo, karena saat ini, gue gak ingin bangun dari mimpi indah ini..

Dengan pikiran yang begitu bergelora, Tito hanya bisa menyerah pada momen itu-terhanyut dalam keintiman yang mendalam, dimana setiap desahan dan sentuhan menjadi ungkapan hasrat yang tak terkatakan.

Tito mendesah berat, tangannya menahan kepala Karel, memasukkan pelernya lebih dalam, hingga ujung kepala batang menyentuh tenggorokan Karel.

"Aku mau lebih dalam... buka tenggorokan lo, pak."

Karel berusaha membuka tenggorokannya. Matanya mulai berair, air liur mengalir dari sudut bibirnya, tapi ia tak berhenti.

Tito menahan napas, tangannya mencengkeram kepala Karel.

Nikmat... udah lama sekali sejak terakhir kalinya dalam hidupku... menjilat peler pria... dan aku suka... aku ingin lebih...!!

Karel mengulum kepala merah itu. Mulutnya belum terbiasa, bibirnya terbuka lebar menyesuaikan ukuran. Ia mulai bergerak pelan, ritmis, lidahnya mengitari kepala yang basah, lalu menelan lebih dalam sejauh ia mampu.

Brondong Kampus [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang