Malam semakin larut, tetapi intensitas di antara mereka tidak juga mereda. Nafas yang memburu dan keringat yang mengalir semakin menyatu, menciptakan kehangatan yang membakar seisi ruangan.
Suara tepukan yang teratur menggema di antara mereka, seiring dengan ritme yang Tito pimpin dengan penuh kendali. Kedua tangan mereka masih bertaut erat, seakan saling menguatkan dalam pusaran gairah yang tak tertahankan.
Karel terengah, jemarinya mencengkeram lengan Tito, kepalanya menengadah, merasakan setiap sensasi yang menghantam dirinya dengan begitu nyata. Kedua kakinya terbuka lebar, membiarkan Tito terus menuntunnya dalam perjalanan kenikmatan intens yang tanpa henti.
Nafasku... berantakan... tapi aku nggak mau ini berhenti...!!
Tatapan mereka bertemu di tengah panasnya malam, seakan mengungkapkan ribuan kata yang tak mampu diucapkan. Tito menunduk, menyapu bibir Karel dengan ciuman yang dalam dan menuntut, semakin membiarkan mereka tenggelam dalam arus yang tak terbendung.
Tito... Kenapa kamu bisa membuatku seperti ini??
Matanya setengah terpejam, tubuhnya gemetar dalam sensasi yang semakin menguasainya. Jemarinya mencengkeram erat lengan Tito, seakan ingin memastikan bahwa ini nyata-bahwa pria di atasnya benar-benar ada di sini, bersamanya.
Tolong... Jangan berhenti... Aku ingin merasakan semuanya...!!
Ia bisa merasakan setiap sentuhan Tito, setiap desahan tertahan yang terdengar begitu dekat di telinganya. Panasnya, intensitasnya, semuanya membuatnya kehilangan kendali.
Tito... Kamu benar-benar gagah...!
Tangannya semakin erat menggenggam tubuh di bawahnya, merasakan setiap getaran yang mereka bagi bersama. Tatapan Karel yang penuh dengan sesuatu yang tak terungkap membuatnya semakin kehilangan akal.
Kenapa aku nggak bisa menahan diri setiap kali melihatmu seperti ini??
Tito menunduk, menyapu keringat di pelipis Karel dengan bibirnya, lalu menatap wajah itu dengan intens. Malam ini, semua yang ada di dalam dirinya hanya terfokus pada satu hal-Tito.
Malam ini, kamu milikku... dan aku milikmu...
Ruang kamar yang remang-remang diterangi cahaya lilin semakin terasa panas, seiring dengan ritme yang terus berlanjut tanpa jeda. Nafas mereka saling bercampur, memburu dalam kehangatan yang membakar di antara mereka.
Karel mencengkeram punggung Tito, jemarinya menelusuri kulit yang basah oleh keringat, merasakan setiap otot yang menegang di bawah sentuhannya. Tito menunduk, menyapu bibir Karel dengan ciuman yang semakin dalam, seolah ingin menegaskan bahwa mereka tidak akan berhenti di sini.
Tubuh Tito bergerak pelan di atas Karel, seperti ombak yang mengalun, tidak terburu-buru, tidak memaksa, hanya mengalir... masuk dan keluar, mengikuti irama napas mereka yang berat dan tersendat.
Karel menggigit bibir, kelopak matanya setengah tertutup. Ia tak bisa berkata-kata-hanya suara erangan kecil dan isakan napas yang tertahan.
Jari-jarinya mencengkeram kuat bahu Tito, seolah tak ingin pria itu menjauh walau satu inci.
Desahan tertahan, gemetar halus, dan tepukan yang semakin intens menjadi satu-satunya suara yang mengisi ruangan. Tatapan mereka bertemu lagi dalam keheningan yang penuh makna-tidak ada kata-kata, hanya perasaan yang begitu kuat mengikat keduanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brondong Kampus [SELESAI]
RomanceLiam Sabert Husodo (22) adalah sosok sempurna di mata publik. Mantan ketua BEM, duta pariwisata, mahasiswa hukum jenius yang selalu tampil menawan dengan senyum manis, rambut menutupi dahi dan poni belah tengah yang khas. Namun semua ini hanyalah t...
![Brondong Kampus [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/279798789-64-k934457.jpg)