"Aku mau kamu jerit, pak," ujar Tito, suaranya garang memerintah. "Biar seluruh lorong hotel tahu saya mahasiswanya bapak".
Karel mengerang, menggigit bibir hingga terasa pahit, lalu menekan wajahnya ke selimut: "T-Tito...k-kamu..." suaranya terputus-putus, tercekik di tiap frasa.
Detik berikutnya, tubuhku menegang. Kurasakan denyutan panjang dari dalam rudalku yang keras, dan kutumpahkan semuanya ke dalam lubangnya-panas, banyak, dalam.
Ahhh... Gila...! Ini orgasme paling brutal sepanjang aku kerja jadi escort!!
Aku jatuh di atas tubuhnya, napasku dan napasnya saling menyatu. Sunyi. Hanya suara napas dan degup jantung liar. Kukecup tengkuknya pelan-tanpa kata.
Tapi aku tahu... malam belum berakhir.
Suara AC berdengung lembut. Tubuhnya masih terbaring tengkurap di bawahku, lelah, remuk, tapi masih hangat. Kuberanikan diri menggulirkan tubuhku ke samping, rebahan dengan napas masih belum stabil. Cairanku menetes pelan dari lubangnya ke seprei putih bersih hotel itu.
Kami sama-sama diam beberapa saat. Napasnya yang semula tercekat mulai melambat.
Kulepas ikatan tangan dan kakinya lalu kubuka tutup mata ballgag nya
Lalu dia bicara, suaranya rendah.
"Kamu... luar biasa, Tito."
Aku hanya tersenyum. Kutolehkan wajahku padanya. Pipi chubbynya masih merah. Matanya sayu tapi dalam. Sejenak aku lupa bahwa yang barusan kudominasi habis-habisan itu... adalah dosenku sendiri.
"Saya tahu..." jawabku pendek, sombong.
Aku memang selalu tahu efekku ke klien. Apalagi yang seperti pak Karel-dewasa, kesepian, dan terlalu lama menahan nafsu.
Ia memutar badannya pelan, menghadapku. Masih telanjang. Masih ada bercak-bercak di dada dan perutnya dari muntahan gairah barusan.
"Kenapa kamu lakuin ini?" tanyanya tiba-tiba, menatap lurus ke mataku.
"Mahasiswa sepertimu... Kamu pintar, populer, tampan... Tapi kamu jual diri?"
Aku mendengus pelan. Mengusap sisa keringat dari dahiku.
"Karena semua itu gak cukup buat bayar UKT, sewa apartemen, makan, hidup..."
"Dan karena saya suka lihat wajah-wajah kayak Bapak pasrah di bawah saya."
Dia terdiam. Menelan ludah.
"Kamu gak takut... ketahuan?"
Aku balas tatapannya.
"Saya baru takut... kalau Bapak gak repeat order."
Dia tersenyum kecut, tapi ada kilatan lain di matanya. Antara kagum dan malu.
Kenapa tatapannya malah bikin gue makin pengen ngejilat bibir dia? Apa dia mikir bisa kontrol gue karena dia dosen? Gak, Pak. Lo yang udah gue kuasain malam ini...
"Tito..." bisiknya pelan.
"Aku gak pernah kayak tadi sama siapa pun."
"Saya tahu."
"Dan itu baru beberapa ronde."
KAMU SEDANG MEMBACA
Brondong Kampus [SELESAI]
RomanceLiam Sabert Husodo (22) adalah sosok sempurna di mata publik. Mantan ketua BEM, duta pariwisata, mahasiswa hukum jenius yang selalu tampil menawan dengan senyum manis, rambut menutupi dahi dan poni belah tengah yang khas. Namun semua ini hanyalah t...
![Brondong Kampus [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/279798789-64-k934457.jpg)