Tito melangkah masuk seperti pemangsa. Pintu tertutup di belakangnya, dan sunyi mengambil alih. Bau kamar yang bercampur samar dengan wangi tubuh pria dewasa itu-maskulin, pekat, dan mengganggu fokusnya.
Ia mendekat. Perlahan. Tegas. Tanpa belas kasihan.
"Bapak sering liat aku," ujar Tito, suaranya datar tapi dalam. "Dari meja podium. Aku tahu."
Karel mengangguk pelan, seperti anak kecil yang tertangkap basah.
Tito mendekat. Jarak antara mereka tinggal satu napas. "Kenapa?"
"Aku... aku nggak tahu," jawab Karel gugup. "Rasanya kayak... nggak bisa aja gitu kalo nggak lihat kamu."
Tito mengangkat dagu Karel dengan dua jarinya, menyentuh dengan perlahan tapi tak memberi ruang untuk mundur. "Kalau begitu lihat aku dengan baik sekarang."
Mata mereka bertemu. Tatapan Tito menelanjangi seluruh isi kepala Karel, membuatnya lemas. Dan tiba-tiba, bibir mereka bertemu-lambat, panas, dan penuh tekanan. Karel sempat tersentak, tapi tangan besar Tito melingkari pinggangnya, menariknya lebih dekat.
"Peluk aku," perintah itu terdengar lirih tapi mutlak.
Tanpa berpikir, Karel mengikuti. Tangannya melingkari pinggang pria itu, merasakan kerasnya tubuh di balik kulit putih kencangnya yang menawan. Tito mencium lehernya, pelan, menjelajahi kulitnya seperti sedang mencicipi bagian-bagian yang belum pernah disentuh siapa pun.
"Aku suka bapak diem-diem memperhatiin aku," bisiknya. "Tapi malam ini, bapak harus jujur... bapak mau aku, kan?"
"I... iya," jawab Karel lirih, nyaris seperti erangan.
"Dekat sini," suara Tito berat, rendah, namun tak bisa ditolak. Seolah mengandung perintah yang mengikat.
Karel mendekap perlahan. Setiap inci ruang itu seakan menyempit. Detak jam dinding berdetak seperti dentuman palu dalam dadanya.
Satu langkah lagi. Lalu satu lagi.
Tito tiba-tiba meraih pergelangan tangannya. Cengkeraman itu kuat. Hangat. Dominan.
"Bilang, kamu udah nunggu aku dari tadi siang."
Karel menggigit bibir. Matanya menghindar. "Iya, Tito..."
"Lihat aku."
Tatapan itu memaku Karel. Mata tajam Tito memerintah tanpa suara. Tak ada senyum, hanya intensitas yang mendidih di balik sorot dinginnya.
"Bapak masih polos," bisik Tito. "Tapi dalam kepala bapak, aku yakin bapak udah bayangin banyak hal tentang aku, ya?"
Wajah Karel memerah. Dia tidak menyangkal. Tak bisa. Tubuhnya sendiri bereaksi terlalu jujur di bawah genggaman tangan Tito yang erat.
Tito menarik tubuh Karel hingga bersandar ke dadanya. Nafas mereka bertemu. Tangan besar itu mulai mengelus halus pundaknya per satu, pelan-menikmati rasa gugup yang muncul setiap kali satu kancing lepas.
"Suka dielus begini?"
"...Iya."
"Bagus. Jangan tutupin apa yang bapak mau, kalau sama aku."
KAMU SEDANG MEMBACA
Brondong Kampus [SELESAI]
RomanceLiam Sabert Husodo (22) adalah sosok sempurna di mata publik. Mantan ketua BEM, duta pariwisata, mahasiswa hukum jenius yang selalu tampil menawan dengan senyum manis, rambut menutupi dahi dan poni belah tengah yang khas. Namun semua ini hanyalah t...
![Brondong Kampus [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/279798789-64-k934457.jpg)