seven

878 73 4
                                        


Pagi menjelang siang ini Ara, Abang serta orang tuanya mengadakan piknik di belakang rumah mereka. Ada berbagai makanan dari makanan ringan dan makanan basah, serta minuman.

Arga dan Raga pulang kerumah tadi pagi, mereka berdua tau siang ini keluarganya akan mengadakan piknik di belakang rumah, dan tentu saja mereka berdua tidak akan melewatkan kebersamaan itu.

Mereka berbincang hangat layaknya keluarga bahagia yang jarang sekali tertimpa masalah.

Hingga pertanyaan dari Ara membuat mereka terdiam sekejap.

"Kita selalu seperti ini kan?." Ucapan Ara membuat sapuan lembut di kepala nya mendadak berhenti.

"Tentu saja sayang kita akan selalu seperti ini emangnya kenapa sayang?." Jawab bunda tenang, ia tak mengerti mengapa anak nya menanyakan hal seperti itu.

"Tak ada hanya saja Ara takut kita tak bisa seperti ini lagi." Suara itu terdengar lirih dapat didengar bahwa ia ingin keluarganya tetap utuh hidup dengan tenang dan damai.

"Mengapa menjadi mellow seperti ini, apakah ini penting untuk dibahas sweet heart?." Sahut ayah tak mengerti kenapa anaknya berubah seperti ini padahal keadaan sangat berbahagia sekarang.

"Emm baiklah, bang Raihan udah punya pacar?." Ucapan Ara membuat mereka langsung menoleh pada Raihan dengan berbagai pandangan.

Raihan beranjak dari duduknya lalu berjalan mendekati Ara dan mencubit gemas pipi gembul itu hingga memerah. "Tentu saja belum aku hanya belum tertarik, untuk sekarang aku hanya fokus pada adikku yang lucu ini."

"Haha baiklah." Ara bangkit dari paha bunda lalu menoleh pada si kembar.

"Kalo bang Arga sama bang Raga udah punya pacar kan pasti?." Ucapan Ara penuh dengan selidik membuat si kembar menyerngit kan dahi nya.

"Tentu saja belum baby aku hanya tak ingin kesayangan ku ini menjadi kesepian karna tak ada kami." Jawaban dari Arga membuat Ara mengerucutkan bibirnya membuat mereka gemas dengan tingkah nya.

"Haha iya lagian untuk sekarang Abang ingin selalu ada buat kamu." Sahut raga, ia benar - benar tak ingin untuk berpacaran sekarang lagian pacaran hanya buang - buang waktu, bagi nya hanya  Ara saja sudah cukup baginya karena kebahagiaan Ara adalah nomor satu.

Seketika mereka melupakan kejadian mellow tadi, ini yang mereka suka dari Ara ia bisa mengalihkan orang untuk tidak fokus terhadap pertanyaannya yang tadi.

Bukan itu saja semua yang ada di dalam diri Ara mereka menyukainya tingkah polos yang membuat mereka gemas, kecerobohan yang membuat mereka mengelus dada, dan keceriaan yang selalu dipancarkan dari muka nya membuat semua orang speechless terhadapnya apalagi auranya yang positif membuat mereka betah berlama - lama berada di dekatnya.

Dan mereka lanjut mengobrol dari hal yang tak penting hingga penting sekalipun. Obrolan yang di penuhi canda dan tawa membuat siapapun iri dibuatnya.

Hingga senja datang mereka baru beranjak dari sana dan bersiap untuk mandi lalu melaksanakan shalat maghrib.

|||||

Markas Vincere

"Eyyo babang tampang datang." Entah apa yang membuat si Jonathan kembali kambuh malam ini.

"Innalilahi makhluk dari mana ini ya Allah." Jawab Jordan dari dapur yang sedang membawa makanan untuk ia makan sendiri.

"Anjing lo pikir gue setan hah!." Jo melihat Jordan dengan tatapan sinis nya.

"Sebelas dua belas lah." Jawaban santai itu keluar dari mulut Jordan sambil memasukan makanan ke dalam mulutnya.

"Dahlah kalo ngomong sama dajjal gada abisnya." Jo mengangkat bahu nya acuh lalu melangkah kan kaki menuju sofa yang kosong untuk mendaratkan tubuhnya lalu menghela nafas pelan, sedangkan Jordan yang mendengar itu hanya bisa mendengus kasar.

"Mana aja lo, kek orang sibuk aja." Tanya Fathur pada Jo tanpa menoleh.

"Biasa capek jomblo mulu gue, padahal tampang oke, duit juga banyak, tenar apalagi, kurang gue apasih?." Ia frustasi mengapa tak ada yang mau menjadi pacarnya, padahal ia ingin sekali bucin.

"Alah sok jones bangsat noh wa lo udah kek asrama putri." Sahut Zaky dengan lidah dikeluarkan guna mengejek Jo.

"Sibuk ae lo monyet bekantan."

"Si boss mane nih tumben ga nampak." Jo bertanya pada mereka lalu di balas dengan mengangkat bahu dengan acuh.

"Gimana sih lo pada!."

Mereka tak perduli dengan apa yang Jo katakan hal itu yang membuat Jo kesal pada temannya itu.

"Ada apa nyari gue?." Ucap Al tiba - tiba lalu mendaratkan tubuhnya di sofa yang tersisa.

"Hah, oh gaada tiba - tiba ngerasa kangen gue sama lo." Jawab Jo sambil memainkan alisnya seketika semua orang yang berada di sana melihat kepadanya sehingga timbul beberapa sorakan.

Banting aja boss.

Lah belom ni anak.

Makin ga waras aja bah.

Ya Allah kapan waras nya si Jo.

Panggil kang RSJ woii bahaya nih.

Lah dikira dia gilak apa.

Suasana seketika hening saat Al mengeluarkan suaranya.

"Lo mau gue patahin leher atau mau langsung gue matiin?." Tanya Al pada Jo sambil menaikan alisnya lalu menunggu dari jawaban yang Jo berikan.

Sedangkan Jo yang di tanya seperti itu sudah berkeringat dingin, ia menelan ludah kasar merutuki dirinya saat tak bisa membatasi omongan kalo udah kayak gini kan diri sendiri yang susah.

"Hehe ga boss canda." Cengir Jo sambil menunjukkan jari telunjuk dan tengahnya.

Al tak mengambil pusing, ia langsung menoleh ke sembarang tempat dan mencoba untuk tidak perduli dengan manusia di sekitarnya.

Adib mendekat ke arah Jo lalu membisikkan sesuatu "lo sih udah tau punya boss sensian masih aja tengil." lalu menyentil kasar jidat Jo dan berniat pergi ke belakang untuk mengambil minum rasanya ia tak tahan berada di suasana yang tegang seperti tadi.

Dalam hati Jo mengutuk perbuatan yang adib lakukan padanya "sialan liat aja lo." batin Jo yang terus merutuki adib.

"Terusin." Ucap satria sambil menunjuk layar televisi menggunakan dagu nya membuat mereka kembali bermain.

Sedangkan yang lain memilih untuk kembali melanjutkan tugasnya masing - masing.

Suasana yang tadinya tegang kini berubah menjadi hidup kembali, rasanya nyawa mereka dipaksa lepas saat sang ketua mengeluarkan suara dingin  tersebut ditambah lagi dengan muka Al yang selalu datar membuat mereka bergidik ngeri.

Sedangkan Al yang melihat tingkah temannya itu hanya bisa menggelengkan pelan kepalanya sambil tersenyum kecil.

Ia merasa bersyukur memiliki teman - teman yang selalu berada di samping nya saat ia membutuhkan bantuan. Kadang ia ingin rasanya seperti ini untuk selamanya tapi ia sadar bahwa hidup mereka tak selamanya terus seperti ini. Masih banyak yang harus mereka gapai, masih banyak diluaran sana yang masih membutuhkan jasa mereka, dan masih ada orang tua dari mereka yang ingin anaknya menggantikan posisi nya.

Hidup tak selamanya tentang hari ini, kita masih harus belajar untuk hari esok karna tak ada yang tau apa yang terjadi oleh karna itu kita harus mempersiapkan diri untuk menerima apa yang Allah berikan pada kita.



TBC.




 Queenara AzzahraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang