Suasana kantin sangat riuh terdengar dentingan sendok dan garpu yang beradu dan teriakan murid perempuan dan laki - laki memesan pesanan mereka.
Seperti suasana di kantin MAXWELL SCHOOL pagi menjelang siang ini, riuh nya kantin saat berdesakan memesan makanan tak membuat mereka putus asa untuk mendapatkan mie ayam pak Guntur. Dengan cita rasa nya yang khas dan resep turun temurun membuat siapapun nagih saat memakannya.
Begitupun Ara ia meminta izin kepada Al dan kedua Abang nya untuk memakan mie ayam lagenda tersebut.
"sekali ini aja ya pliss." Mohon Ara pada mereka, dengan memberikan tatapan memohon nya. Berharap mereka bertiga luluh dengan tatapannya.
"Hanya kali ini." Akhirnya Al luluh dengan tatapan yang Ara berikan, dan menyuruh Jo dan Jordan untuk memesan makanan mereka.
14 porsi mie ayam dan es teh tiba di hadapan mereka dan langsung memakan dengan tenang.
Begitupun dengan Ara bahagia rasanya dapat memakan apa yang kita inginkan, walaupun Ara sering di larang ini itu oleh orang - orang terdekatnya ia tahu bahwa itu semua untuk kebaikannya sendiri.
Ara memukul pelan perutnya yang penuh akibat memakan mie ayam.
"Hihi Al liat perut Ara gedek kan?." Ara yang menunjukkan perut nya yang sedikit berisi. Sedangkan Al dan yang lain melihat itu gemas dengan tingkahnya.
"Iya sayang, makan yang banyak biar gede." Al memukul pelan kepala Ara membuat muka Ara memerah malu - lalu menenggelamkan muka nya ke dada bidang Al.
Sementara yang lain melihat itu hanya merotasi kan mata malas. Selalu saja bucin.
"Al adek gue jangan lo apa - apain ya, masi kecil gue mau sayang - sayangan dulu." Sahut Arga yang telah melihat keromantisan antara sepasang kekasih itu, sekaligus mewakili perasaan Raga. Dan di balas dengan anggukan kecil oleh Al. Lagian Al cukup tau diri untuk menyentuh berlian berharga seperti Ara. Ara terlalu berharga untuk di permainkan apalagi dirusak.
"Udah yok ah ke kelas dah masuk." AjaknJo lalu beranjak dari sana guna menuju kelas, begitupun yang lain.
| | | |
"Nanti kita nonton di bioskop yah." Mohon Ara pada Al, ia berharap untuk menonton di bioskop seperti pasangan yang lainnya. Selama ini yang Ara lakukan pada Al hanya makan dirumah atau di sekolah, nonton di bioskop pribadi dirumah Al, lalu tidur. Hanya itu yang dilakukan selama 5 tahun berturut turut.
"Tidak baby, aku takut kamu ga nyaman, lebih baik kita nonton di rumah aku." Tawar Al mencoba merubah keinginan Ara. Namun Ara tetap kekeh ingin di bioskop.
"Gamau Ara mau di bioskop kayak yang lain Al ngerti ga sih?!." Tanpa sadar Ara menaikkan satu oktaf suaranya membuat Al yang mendengar itu terkejut tak menyangka dengan gadis yang ia sayang menjadi berani berteriak di depannya.
Al menghela nafas panjang "baiklah nanti malam kita pergi bersiap - siaplah aku akan menjemputmu, aku pulang dulu." Mencium puncak kepala Ara lalu pergi meninggalkan rumah gadisnya. Meninggalkan Ara yang mematung di tempat.
Ara berlari menuju kamar abangnya, memasuki kamar yang bernuansa coklat tua dan bau maskulin tersebar di kamar tersebut.
Menubruk badan yang kokoh Arga dan menangis tersedu - sedu membuat kedua Abang nya keheranan.
Arga membalas pelukan Ara memeluk erat adik kesayangannya "Hey sayang ngapa nangis hm." Tanya Arga pada Ara yang sedang menangis. Sebenarnya ia cukup terkejut karna adik nya datang dengan kondisi seperti ini.
"Al yang membuat Ara nangis hm?." Tanya Arga pada Ara. Sedangkan sang empu hanya menangis di dada bidang Arga. Setelah tenang Ara mengadahkan kepalanya melihat Abang kembarnya, lalu menggeleng pelan menyangkal apa yang Arga bilang semuanya salah.
"A-ara udah bentak Al hiks." Tangisan yang tadi reda, sekarang Ara menangis lagi membuat abangnya kewalahan terhadap adiknya ini.
"Cup cup sayang udah udah coba liat sini dulu." Raga mengadahkan kepala Ara di tangannya, Ara yang sehabis nangis dengan mata berair, hidung dan pipi yang memerah, serta bibir yang terus mengeluarkan isak tangis.
'gemes banget adik gue ya Allah' batin raga saat melihat adiknya dengan muka sehabis menangis.
"Emang Ara ngapa bentak Al hm?." Suara Arga yang lembut.
"A-ara tadi m-mintak Al b-buat nonton d-di bioskop hiks, Al nya gamau t-terus Ara bentak gitu." Jawab Ara sambil mengelap air mata nya dan lendir yang keluar dari hidungnya dengan tangannya yang mungil. Kedua Abang kembarnya itu menghela nafas pelan lalu tersenyum untuk memberi pengertian pada Ara.
"Ara sayang, harusnya kamu dengar kata Al nanti kalau kenapa - napa gimana? Kami hanya takut walaupun ada Al yang menemani kamu." Arga memberi pengertian kepada Ara.
"Hiks tapi Ara mau nya nonton di luar huaa."
"Iya Abang tau, Al cuman mau yang terbaik buat kamu." Raga mengelus puncak kepala Ara.
"T-tapi Al mau ngajak Ara nantik malam." Ara yang sehabis nangis menjawab pertanyaan dengan isak tangis meski tak sekencang tadi.
"Huftt yaudah kali ini aja ya."
"Iya Ara janji cuman kali ini aja." Ara dengan mengangguk patuh.
"Yaudah kamu siap - siap dulu, kan nanti di jemput sama Al."
"Yaudah bayy Abang - Abang nya Ara." Ara berlari keluar kamar sambil melambaikan tangan pada kedua abangnya. Sedangkan kedua abangnya itu hanya menggelengkan kepala.
"Adek gue dah besar ternyata." Gumam Arga.
"Adek gue jugak itu." Balas Raga tak terima bahwa Ara hanya adiknya sendiri padahal kan Ara juga adiknya.
"Iya adek kita bertiga."
| | | |
Dress yang 3 cm di atas lutut dengan lengan yang panjang membuat Ara semakin bersinar malam ini. Ara memperhatikan dirinya di depan kaca lalu bergumam "Ara cantik pantes kak Al sukak sama Ara".
Tok
Tok
Tok
"Sayang kak Al nya udah nungguin tuh." Ucap bunda sambil membuka pintu kamar.
Ara menoleh ke arah pintu menampakkan bunda yang sedang tersenyum ke arahnya. Ara mengambil sling bag nya lalu menyampir kan di bahu lalu berjalan ke arah bunda dengan senyum mengembang.
"Cantik banget anak bunda." Puji bunda membuat muka Ara memerah malu.
"Aaaa bunda mahh." Rengek Ara membuat bunda terkekeh geli pada anaknya itu.
"Udah ah ayok, nantik kemaleman lagi perginya." Bunda mengajak Ara untuk turun agar pergi nya tidak terlalu malam.
Berjalan dengan anggun menuruni tangga membuat Al dan ayah yang sedang mengobrol melihat ke arah tangga. Al terpesona dengan kekasihnya ini bukan sekali - dua kali membuat jantung Al bertedak tak karuan saat berdekatan dengannya.
Al mencoba berjalan mendekati Ara saat sampai di akhir tangga. Mengambil pelan tangan Ara lalu mengecupnya membuat muka Ara semakin memerah. "you look beautiful dear" bisik Al tepat di telinga Ara.
"Kak Al Ara malu." kata Ara pelan. Membuat orang - orang yang berada di sana terkekeh geli melihatnya.
"Yaudah pergi gih nanti keburu malem." Ujar ayah saat Al telah melepaskan pelukannya pada Ara. Ayah sangat yakin pada Al bahwa Al tak akan menyakiti putri bungsunya itu.
"Yaudah bun, yah Al izin bawa Ara dulu sebentar." Pamit Al pada orang tua Ara.
"Ayah bunda Ara sama kak Al pergi dulu yaa ayah bunda." Ucap Ara sambil melambaikan tangannya pada orang tuanya, lalu berjalan ke mobil Al.
Al membawa mobil nya kali ini dikarenakan sudah malam dan cuaca malam yang tidak bagus untuk badan makanya Al memilih membawa mobil demi kesehatan Ara dan juga dirinya.
TBC.
KAMU SEDANG MEMBACA
Queenara Azzahra
Short StoryFOLLOW, VOTE, SAMA KOMEN JANGAN LUPA YA ANJ🥰 KALAU MAU FOLLBACK DM AJE GOSAH SEGAN KELEN!! ENJOYY Ini kisah Ara si gadis ceroboh yang lucu. Tinggal dengan keluarga yang berlimpah kasih sayang dan harta tak membuat nya sombong malah tingkah lucu nya...
