Guysss, aku mau makasih banyakkkk buat kalian yang berkenan memenuhi target! Baru dua hari loh. Dua hari:) Kalian ga tau seberapa speechlessnya aku lihat notif:') Belum lagi yang DM minta update karena udah memenuhi target. Kalian seantusias itu kah sama cerita mbulet ini?:')
Sesuai janji, telat dikit sih, tapi gapapa ya:') Iya, aku updatenya sesuai janji setelah target terpenuhi kok, yah meski aku nulis spontan, karena ga ada draft sama sekali. Ngeri kalian ngeriiii ngegas banget hahahah. Tapi aku juga ngegas kan updatenya😋 Makanya rajin vote huuuu, komen juga boleh.
Oke, coba lagi deh. Sama kaya sebelumnya, 65 votes untuk part selanjutnya ya💘
—•—
Da In yang lenyap dari balik pintu total membuat Jungkook hening. Kalimat yang diucapkan sesaat lalu tidak serta merta dapat Jungkook urai dengan mudah. Sungguh masih banyak pertanyaan yang seharusnya Jungkook suarakan sedari tadi, jika saja bukan karena Da In yang terlihat terburu-buru untuk pergi atau sekadar berusaha menghindari Jungkook dan rasa bersalah sebab dia menyebabkan kondisi Jungkook seperti sekarang.
Menarik kembali kesadaran, Jungkook segera meraih ponsel di atas nakas dengan tangan yang terbebas dari balutan perban. Membuka suatu aplikasi buatannya sendiri dan menyalin nomor ponsel Mingyu dari daftar kontak. Tak berselang lama setelah garis hitam dengan tulisan loading terhenti, sebuah titik merah tertera jelas dalam ponselnya. Tidak ada pergerakan sama sekali, pun Jungkook sedikit asing dengan nama lokasi di sana. Tanpa pikir panjang, Jungkook berteriak memanggil penjaga yang Taehyung perintahkan untuk berjaga di depan bangsal. Meminta untuk menghubungi siapa saja yang bisa mencari keberadaan Taehyung dengan acuan titik merah yang ada pada ponselnya.
Jungkook tidak sedikit pun berusaha menyembunyikan kepanikan pada raut wajah. Hanya ada dua hal yang Jungkook takutkan dalam hidup; masa depan dan penyesalan. Mengingat tutur Da In yang mengatakan tentang betapa ia berharga bagi Taehyung, sedikit banyak mengusik nuraninya sendiri. Dia hanya tidak ingin diterjang perasaan bersalah jika sesuatu terjadi pada Taehyung. Setidaknya, jika ada yang harus dikorbankan pada situasi ini, dialah yang akan merelakan nyawanya sendiri.
Jujur saja, Jungkook tidak pernah merasa layak berada di dunia. Kehadirannya seolah membawa segala emisi negatif untuk orang-orang di sekitar. Terlebih untuk Taehyung yang kerap mengorbankan keselamatan hanya untuk pemuda tak berarti seperti Jungkook. Itu juga menjadi salah satu alasan Jungkook membenci Taehyung sejak awal. Taehyung yang begitu sempurna untuk hidup berdampingan dengannya. Taehyung yang selalu dielu-elukan sejak kali pertama mereka bertemu. Taehyung yang selalu dibandingkan dengan dirinya dalam hal apa pun. Lantas saat Jungkook mengetahui kebengisan Taehyung yang membunuh ayah mereka, Jungkook merasa memiliki satu rahasia yang bisa ia gunakan untuk menjadi tameng perlawanan Taehyung suatu saat. Meski pada nyatanya, Taehyung sama sekali tidak terusik akan keberadaan Jungkook dan selalu membuat Jungkook berada di dekatnya, yang semakin membuat Jungkook muak sebab Taehyung seolah menunjukkan bahwa pemuda Jeon begitu berharga.
Di sisi lain Valley Hills, Taehyung dengan luka di sudut bibir dan pelipis, serta lebam kemerahan yang akan membiru besok pagi pada tulang pipinya, tengah terkapar di sudut jalan sunyi. Terasa hawa dingin menggerogoti kulit, membuatnya terpaksa membuka mata dan bernapas menatap langit yang tampak begitu cerah malam ini. Seperti tengah menertawakan dirinya yang sedang tak berdaya. Taehyung mengulas senyum asimetris, ikut menertawakan dirinya sendiri.
Taehyung tahu betul, sejak awal kehadiran Da In merupakan sebuah peringatan. Pilihan menjatuhkan diri dalam masalah Da In adalah kesalahan besar. Tak dipungkiri, hasrat utama Taehyung yang membuatnya bersedia terjerumus pada lingkaran visius itu sebab kehadiran Jimin di dalam sana. Dalang dibalik sirkumstansi gila ini. Mengorbankan orang-orang tidak bersalah seperti Da In. Tipikal Jimin sekali. Taehyung yang sudah pernah bertahun-tahun menghabiskan waktu bersama Jimin, tahu betul sifat ambisius pemuda Park. Termasuk ambisinya untuk mempertahankan Yoonhee meski Jimin sedang mengejar hal lain di luar sana, tahta Red Dragon yang mengharuskan Jimin mau tidak mau mendekati anak pemimpin kelompok mafia itu terlebih dahulu. Berakhir dengan kematian Yoonhee yang menjadi buah penyesalan terbesar Taehyung karena merasa tidak kapabel dalam melindungi gadis itu dari jeratan Jimin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dangerous Choice
FanfictionMature Contents🔞 Sepulangnya ke Valley Hills, salah satu kota kecil yang cukup maju di Korea Selatan, Song Da In dihadapkan dengan dua pilihan yang sama-sama tidak memberikan keuntungan. Kedua pilihan memiliki konsekuensi besar terhadap hidupnya. D...
