Mature Contents🔞
Sepulangnya ke Valley Hills, salah satu kota kecil yang cukup maju di Korea Selatan, Song Da In dihadapkan dengan dua pilihan yang sama-sama tidak memberikan keuntungan. Kedua pilihan memiliki konsekuensi besar terhadap hidupnya. D...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
—•—
Jam menunjuk pukul empat pagi saat Da In membuka matanya susah payah. Kepalanya masih terasa begitu pening mengingat banyaknya alkohol yang menggerus kewarasan. Terbangun pada kamar tak begitu asing, Da In lantas beranjak selagi memegang kepala dan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Dia berada di rumah Taehyung. Tepatnya kamar tamu tempat Da In pertama kali menginap di sana dengan alasan yang sama—mabuk. Pasti Jungkook yang membawanya pulang semalam.
Melihat jam dinding yang berdetik di sisi kamar, lalu beralih pada jendela dengan tirai sedikit terbuka, Da In tidak mengerti mengapa dia bisa bangun pada jam-jam ini. Di luar masih gelap. Seharusnya dia kehilangan kesadaran hingga esok pagi atau mungkin bisa terbangun saat matahari sudah berada pada di titik tengah angkasa. Namun di sinilah dia sekarang. Berjalan terhuyung menuju pintu sambil menenteng tas belanja berisi gaun pernikahannya dan tas bahu di masing-masing tangan.
Jujur saja, Da In ingin menghabiskan waktu lebih lama di sana. Tidur hingga pengarnya benar-benar hilang. Masalahnya, semakin lama Da In berada di sana, kemungkinan bertemu dengan Taehyung akan semakin besar. Untuk saat ini, menjaga jarak dan tidak bertatap muka dengan pria itu dirasa merupakan hal yang terbaik. Da In harus memastikan rencana membuat Taehyung menjauh dari hidupnya benar-benar berhasil kali ini.
Kediaman Taehyung tampak begitu sunyi dan remang. Hanya ada beberapa lampu yang dinyalakan pada ruangan-ruangan tertentu. Bukan menjadi ketakutan Da In berada di tempat gelap. Pun dia tahu jalan mana yang harus diambil menuju pintu keluar. Dengan pasti ia melangkahkan kaki tanpa harus mengendap-endap sebab Da In yakin tidak akan ada siapa pun yang masih tersadar pada jam-jam ini.
Entah mengapa, Da In sengaja ingin membuka ponselnya. Meraih benda pipih itu dari tas bahu dan melihat satu per satu notifikasi. Pesan spam, tawaran dari kartu kredit, beberapa pesan dari Seokjin menanyakan posisinya, serta tawaran diskon dari butik yang ia datangi untuk berbelanja kemarin lalu. Tidak ada yang menarik perhatian sama sekali. Menurutnya, memiliki ponsel memang tidak begitu penting. Da In tidak memiliki teman, media sosial, atau hal apa pun yang mengharuskannya menggunakan gawai. Kecuali saat merasa bosan, dia akan membuka aplikasi permainan dan bermain selama beberapa menit untuk melepas penat. Kebiasaan itu pun baru ia lakukan beberapa hari belakangan.
Da In menutup layar ponsel dan kembali meletakkan dalam tas. Mengayunkan tangan pada daun pintu untuk membuka dari dalam. Namun yang ia dapati saat membuka pintu adalah hal tidak terduga, akan tetapi tidak begitu mengejutkan pula. Mengambil langkah mundur, Da In bermaksud mempersilakan tuan rumah untuk masuk terlebih dahulu. Sia-sia rencana Da In untuk menghindar dari pria ini. Nyatanya, Da In akan selalu bertatap muka di mana pun langkahnya berpijak. Seolah dunia mereka berputar untuk satu sama lain. Menyebalkan memang. Saat Da In ingin menciptakan dunia sendiri tanpa ada siapa pun di dalamnya agar tidak mengusik hidupnya, tanpa disadari dia malah masih terikat pada semesta lain yang membuatnya kesulitan untuk meloloskan diri.