Hyejoon meneguk minumannya sampai habis. Ia menempelkan wajahnya pada meja makan. Dari sore sampai malam ini, ia masih kepikiran dengan Jimin tentang sesuatu yang mereka bicarakan sore tadi.
Sebenarnya ia tidak tega untuk menolak Jimin, karena apa salahnya mencoba? Tapi di sisi lainnya, Hyejoon itu ingin Jimin menerima apa yang terjadi pada Taehyung. Dalam kata lain, merelakan.
“Haa! Bagaimana ini?”
Ia dilema.
Ada sebuah alasan mengapa Jimin mengharapkan Hyejoon untuk melakukan hal itu.
Hyejoon bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain, kecuali orang itu memiliki mata batin. Ya, indigo. Hyejoon juga berpengalaman mengurus sesuatu yang berhubungan dengan makhluk astral. Itulah alasan Jimin mengharapkan Hyejoon tentang The Dead itu.
Hyejoon beranjak dari sana dan berjalan menuju tangga.
Grrrtt
Hyejoon menoleh. Ia memutar bola matanya. Sepertinya 'makhluk' di rumahnya berulah lagi. Hyejoon hanya terus berjalan menaiki tangga.
Braak!
Panci yang tergantung tiba-tiba terlempar.
Srekk!
Taplak meja tertarik kemudian jatuh. Barang-barang semakin banyak yang berjatuhan ataupun terlempar. Hyejoon hanya mematung di tempatnya berdiri. Biasanya tidak pernah separah ini. Namun sekarang? Benda-benda itu terlempar seolah yang melempar itu sedang mengamuk.
“AAAAAAAA!” Hyejoon hampir terjatuh dari tangga ketika melihat sosok di depannya.
Sosok itu terus-terusan maju dengan wajah datar sedangkan Hyejoon hanya bisa mundur. Hingga sampai di tangga paling bawah, Hyejoon terjatuh. Ia tidak pernah setakut ini terhadap suatu sosok, tetapi saat ini benar-benar berbeda.
“Aku pikir kau bisa diharapkan untuk membantunya.”
Beberapa detik setelahnya sosok itu menghilang. Hyejoon membeku di tempat ia duduk. Ruangan itu sangat sunyi sampai-sampai Hyejoon bisa mendengar detak jantungnya sendiri.
Hyejoon berdiri dan bertumpu pada meja makan. Ia memandang sekelilingnya yang acak-acakan karena sosok tadi.
“Ya Tuhan ....”
Hyejoon memegang dadanya sendiri dan membereskan barang-barang yang berserakan.
Beberapa menit kemudian ia menengok jam tangannya. Sudah pukul satu dini hari.
Hyejoon melangkah menaiki tangga sembari merenungi perkataan makhluk astral yang tadi dia lihat. Perkataannya membuat Hyejoon merubah pikiran 100% tentang pembicaraannya bersama Jimin sore tadi.
“Sepertinya aku akan membantu Jimin.”
—፰፰፰—
Seorang pria tinggi berjalan dalam gelapnya jalanan. Hanya rembulan yang membantu dia untuk melihat. Bayangannya tampak besar dan menyeramkan layaknya hantu yang berkeliaran.
Ia mengeratkan jaketnya ketika angin semakin kencang. “Yah ... benar-benar tidak ada yang sempurna di dunia ini.” Ia menyenandungkan sebuah lagu.
“Hidup dan mati ada di tangan Tuhan.” Ia tertawa terbahak-bahak. “Tapi dibunuh itu juga takdir, bukan? Berarti aku yang menentukannya.”
Tidak ada seorang pun di sana. Tentu saja, ini pukul tiga dini hari dan juga ia berjalan di jalanan yang memang jarang orang-orang lewati.
“Hmm, bagaimana, 'ya?” Ia memasang ekspresi bingung.
KAMU SEDANG MEMBACA
We Call You Here
FanfictionJumat, 24 Agustus 2018, hari terburuk itu terjadi hanya sehari sebelum mereka menjalankan tur dunia. Setiap jadwal dibatalkan. Berita-berita penuh dengan wajah Kim Taehyung, member BTS yang ditemukan meninggal dengan sayatan yang menganga lebar di t...
