8 Pulang

3.3K 450 103
                                        

"Papa...!!!" Teriak Caren seraya memeluk ayahnya penuh kerinduan.

Setelah Caren merengek pulang, Julian akhirnya memutuskan kembali ke Jakarta. Julian tahu Caren sedih karena perkataan Sania, dan juga kangen dengan ayahnya. Maka dari itu Julian tak sampai hati menolak permintaannya.

"Anakku semakin cantik saja. Bagaimana bulan madunya?"

"Kita jalan-jalan setiap hari."

"Lalu cucu untuk papa bagaimana? Sudah dibuat?" Tanya papanya yang membuat Julian dan Caren malu-malu kucing.

"Kita sudah melakukannya setiap hari. Di kamar mandi, diatas meja, didapur...."

"Caren... " Potong Julian.

"Jadi kamu sudah sembuh boy?" Entah sejak kapan ayah Julian juga bisa berada disini. Pria itu terlihat antusias sekali bergabung dalam pembicaraan tabu itu, yang membuat Julian semakin risih.

Tak mau menjadi bahan pembicaraan, dan ditanya-tanya soal bercinta... Julian langsung berpamitan dan menggendong Caren keluar dari kantor.

"Aku masih kangen papa Julian!" Protesnya.

"Kenapa kamu jujur banget sih?"

"Kan emang harus jujur?" Caren menundukkan kepala dengan bibir mengerucut.

"Nggak masalah itu juga kali."

"Turunin! Aku mau main kerumah temen dulu buat kasih oleh-oleh, boleh kan?"

"Kemana? Aku antar!"

"Ke rumah Sierra. Kamu gausah antar, kita mau ketemu sama cewe-cewe lain. Masa kamu ikut... "

"Aku antar sampai rumahnya, itu aja. Aku nggak ikut, pulangnya aku jemput." Putus Julian tak mau dibantah. Sejak kapan Julian menjadi suami posesif?

"Okeyyy... " Caren menurut saja. Ia ikut dan naik ke mobil Julian kembali.

Julian benar-benar mengantarnya disebuah kompleks perumahan yang cukup mewah dan elit. Yaaa Caren memang bukan anak orang miskin, jadi tak heran jika pergaulan dan temannya pun dari kalangan elit semua.

Setelah sampai disalah satu rumah, mobil Julian berhenti. Ia mengusap rambut Caren lembut untuk salam perpisahan. "Kalau mau pulang, kabari aku." Ujarnya dengan ciuman di kening.

Caren hanya mengangguk. Ia bingung dengan sikap romantis suaminya itu. Entahlah, semuanya masih terasa abu-abu. Yang pasti Caren tidak mau berharap banyak.

Sambil menenteng banyak sekali cemilan yang ia beli dari Bali, dirinya masuk ke rumah sahabatnya. Sierra ternyata sudah menunggu didepan pintu sejak sebelum ia datang.

"Caren...!!!!" Teriak Sierra menyambut sahabatnya.

"Sierra!"

"Jadi mana yang namanya Sania itu, beraninya dia ngatain kamu!" Serunya kesal! Caren memang sudah cerita semua masalahnya ke Sierra. Hanya wanita itu tempatnya menangis disetiap ada masalah. Hanya Sierra yang tahu wajah aslinya tanpa suatu sandiwara.

"Sudahlah... "

"Dasar pelakor nggak tahu diri."

"Sudahlah... Sierra. Aku lelah sekali."

"Jangan sedih ya? Aku tahu semua ini sangat berat untukmu. Tapi kamu sahabat aku yang paling kuat."

"Its okey Ra." Caren tersenyum manis.

Sierra pun menariknya masuk kedalam kamar dan duduk disebuah sofa.

"Jadi bagaimana rasanya menjadi isteri? Bagaimana rasanya bercinta?" Sierra bertanya dengan raut penasaran. Sierra yakin sahabat polosnya itu akan menceritakan semuanya.

Only YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang