Mendengarnya saja sudah sakit, apalagi candaan itu di tujukan ke kita.
Apa yang membuatmu begitu bahagia atas candaan itu? sudah pasti menurutmu itu biasa saja. Ditambah dengan adanya embel-embel baper. Di sisi lain kamu tidak mau merasakan candaan itu.
Sederhananya, kamu menginginkan sesuatu, tapi tidak ingin hal itu menimpamu. Bentar, saya tertawa dulu, Ahahaha.
Sungguh miris.
Sebut saja namanya Jina. Dia baru saja melahirkan. Anaknya perempuan. Datanglah seorang teman dekatnya si Juna.
Biasalah, basa-basi terlebih dahulu. "Kenapa tak kau kasih nama yang bagus, nama yang islamiyah," ucapnya.
"Lihatlah tetangga sebelah, namanya cantik-cantik. Eh, tapi tidak mungkin juga kau kasih nama itu." Temannya itu tertawa sembari mengendong sang bayi.
Jina juga ikut tertawa. Sudah biasa candaan itu tertelan.
"Masa Bapaknya Jin dan Ibunya setan, punya nama anak yang bagus."
Apa!? Apa salahnya?
Raut wajah Jina berubah muram. Masih tersisa tawa sedih di sana. Bibir yang di paksa tersenyum. Ingin marah tidak bisa. Akhirnya? Pendam terus hingga menyakitkan.
Keluarkan. Keluarkan jikalau kau tak suka dengan candaan itu. Agar dia tau caranya bicara yang baik. Tau betapa menyakitkannya itu. Bagaimana perasaannya ya jika di umpan balik? Sudah pasti hatinya ikut menangis. Bahkan teriris.
Keluarkan, agar dia tau bagaimana menghargai orang lain sekalipun itu keluarga ataupun sahabat, apalagi orang lain! Hadeh, emosi saya.
Yang tersinggung silahkan. Ini memang untuk orang yang merasa saja.
Bercanda itu boleh sayang, asal jangan berlebihan. Bikin sakit hati saja.
Tertawalah tanpa ada rasa sakit di belakangmu. Jagalah pisaumu sebelum melukai hati.
Sekian
KAMU SEDANG MEMBACA
Coret-coret Di Wattpad
NonfiksiBingung mau cerita ke siapa? Kadang kita manusia butuh perhatian kecil sekedar di dengarkan. Tak jarang orang yang hanya kepo soal masalah kita, bahkan mana ada tuh yang mau dengar ocehan sampah dari mulutmu. Kasar sih. Maaf. Tempat curhat terbaik h...
