1927
Deg...
Alequa terbangun.
Jam menunjukkan pukul 05.30.
Sekujur tubuh Alequa basah dengan keringat. Baru saja ia menjalani sebuah mimpi yang sangat panjang. Mimpi yang menunjukkan percikan kehidupannya 10 tahun yang lalu.
Alequa bangkit. Napasnya terengah-engah. Kamar tempat tidurnya itu gelap. Hanya diterangi dengan sedikit pencahayaan lampu teplok.
Gadis itu menelan ludah. Mimpi yang baru saja menjumpainya menunjukkan kejadian persis yang dialaminya 10 tahun yang lalu. Sebuah kejadian yang membuatnya sangat trauma hingga sekarang.
Alequa melamun beberapa saat. Hatinya gelisah. Baru saja 2 hari yang lalu neneknya meninggal dunia. Perasaannya sangat labil. Banyak hal yang sedang ia pikirkan saat itu.
Pikiran-pikiran itu yang memicu hati Alequa hingga mengembalikan rasa traumanya. Dengan kehadiran mimpi yang menyakitkan malam tadi.
Alequa mendongak ke arah atap.
Satu tetes air mata terjatuh.
Tes...
* * *
06.30
Setengah tubuh matahari sudah terbit.
Langit mulai terlihat terang.
Alequa duduk di depan sebuah cermin hias. Mengenakan sebuah gaun putih khas Belanda. Ia menatap lamat-lamat wajahnya. Tangan kanannya memegangi kelopak mata sebelah kiri.
Mimpi tadi malam menunjukkan Alequa kepada sebuah peristiwa besar dalam hidupnya. Sebuah peristiwa yang sudah terjadi 10 tahun silam. Tak ada sedikit pun kesalahan dalam mimpi itu. Semua yang ada di mimpi itu benar-benar telah Alequa alami 10 tahun yang lalu.
Mimpi itu seperti menyorot kembali kehidupan Alequa dulu. Ketika ia masih tinggal bersama saudara kembarnya, dan juga ibunya.
Alequa menyentuh kembali kelopak mata kirinya.
Membuat pikirannya teringat dengan sosok pria bernama Alaka. Seorang pria yang merupakan saudara kembar laki-lakinya.
Bola mata bagian kiri yang berada di dalam kerangka mata milik Alequa itu, sebenarnya bukanlah mata milik Alequa. Mata kiri Alequa yang asli sudah tak dapat berfungsi lagi. Mata itu sudah tak berfungsi semenjak kejadian yang tersorot kembali di dalam mimpi tadi malam.
Sebuah bambu yang menusuk mata Alequa di sawah, membuat mata kiri Alequa menjadi buta. Alequa mengalami luka parah pada bola matanya.
Kini bola mata yang mengisi kerangka mata kiri Alequa itu, merupakan mata milik Alaka. Usai kejadian di sawah itu, Alaka bersikeras kepada Mami untuk memberikan 1 matanya kepada Alequa.
Mami menolak permintaan Alaka. Namun Pria kecil itu terus bersikukuh membujuk Mami. Hingga ia tak mau makan berhari-hari. Mami akhirnya mengizinkan. Dan langsung membawa kedua anaknya itu ke Belanda. Operasi pendonoran mata mata dilakukan. Mata milik Alequa dibuang. Diganti dengan mata kiri milik Alaka.
Tess...
Satu tetes air mata terjatuh.
Alequa menangis.
Ia teringat dengan kenangan bersama Mami dan Alaka. Sudah 10 tahun lebih Alequa tak berjumpa dengan keluarganya itu. Rasa rindu di dalam hatinya begitu berat. Ditambah sepeninggalan neneknya 2 hari yang lalu.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALEQUA
Adventure𝙆𝙚𝙩𝙞𝙠𝙖 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙗𝙪𝙖𝙝 𝙝𝙖𝙧𝙖𝙥𝙖𝙣, 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙢𝙖𝙩𝙞𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙮𝙪 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙢𝙗𝙖𝙞-𝙡𝙖𝙢𝙗𝙖𝙞... Bagaimana rasanya membiarkan jasad insan tercinta perlahan mengurai di atas tana...
