Rafael dan Alequa mulai berjalan. Memilih bagian pojok kapal untuk tempat duduk mereka. Tak ada bangku di dalam kapal. Para penumpang hanya bisa duduk di muka lantai.
Alequa menatap ke arah pelabuhan. Menopangkan tubuh pada bagian pembatas kapal. Gadis itu menyemberut. Ia akan meninggalkan Batavia sebentar lagi. Tak tahu apakah bisa kembali lagi nanti. Yang pastinya, Batavia adalah kota yang memberikan memori terbesar dalam hidupnya. Dan ia akan selalu merindukan kota itu.
Srettt! Nahkoda menarik layar kapal. Tampak mengepak lebar dengan warna putih kekuning-kuningan. Memang benar kata Henrick tadi. Nahkoda itu sudah sangat tua. Ia adalah seorang pria Belanda tua bangka.
Rafael melamun. Menatap kosong lantai kapal yang terbuat dari kayu. Hatinya sangat terasa gelisah. Pria itu masih memikirkan perbincangannya dengan Henrick tadi.
10 menit kemudian. Kapal mulai bergerak. Nahkoda mulai memutarkan setir khas kapal yang berbentuk bulat bergerigi. Memutarkan menghadap hamparan lautan.
Alequa langsung berpindah ke bagian kiri kapal. Hendak melihat pelabuhan setelah kapal berputar 90 derajat. Nahkoda menarik tali jangkar yang tertancap di bawah air. Meletakkan kembali ke bagian belakang.
Kapal mulai berjalan. Kecepatannya hanya mencapai 10 km/jam. Selain itu kecepatan kapal juga tergantung pada hembusan angin dan arus air laut. Jika angin berhembus kencang, maka kecepatan kapal akan bertambah. Begitu pula sebaliknya.
Jarak dari Batavia menuju Borneo mencapai 1700 kilometer. Waktu yang akan ditempuh dalam pelayaran ini mencapai 7 hari atau setara dengan 1 Minggu.
Bruk! Alequa tak sengaja menabrak seorang wanita ketika hendak kembali menuju Rafael. Keduanya tersungkur ke lantai kapal.
"Hei! Bisa jalan dengan benar?" Sosok wanita yang ditabrak Alequa menatap kesal.
"Maaf," Alequa mengangkat kepala. Menatap wanita yang ditabraknya.
Seketika saja wajah gadis itu mengerut. Matanya terbelalak menatap wanita yang ia tabrak.
"Keparat!" Alequa reflek berkata.
"Kau? Bagaimana mungkin aku akan berlayar bersama—mu?" Wanita yang ditabrak Alequa membalas tak terima. Memelaskan wajahnya, meninggikan diri.
Alequa membuang muka. "Diam kau perempuan brengsek!" Gadis itu menabrak bahu wanita di depannya. Kemudian berjalan kembali menuju bagian kanan kapal tempat duduk Rafael.
Kepala Alequa seketika terasa gundah. Teringat kembali dengan kejadian memalukan bersama wanita itu 7 hari yang lalu. Tepatnya saat menonton pertunjukan sirkus. Wanita yang ditabrak Alequa itu adalah perempuan yang menawarkan bir kepada Rafael di sirkus.
Foto wanita itu :
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Hei!" Wanita yang ditabrak Alequa menahan. Membuat Alequa menghentikan langkahnya.