1 JULI 1927
04.00
Tok... Tok... Tok...
Pintu rumah Alequa berbunyi. Ada seseorang yang mengetuk pintu. Saat itu Alequa masih tertidur. Gadis itu sangat pulas di kamarnya.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu semakin mengencang.
"Duh!" Alequa menggerutu, baru terbangun dari tidurnya.
"Ada apa sih pagi-pagi gini?" Gadis itu beranjak keluar kamar. Mengusap wajahnya yang masih mengantuk.
"SIAPA?" Tanya Alequa.
"Pria tampan..." Jawab sosok laki-laki dari balik pintu.
"Ah Rafael!" Alequa membuka pintu. Sosok laki-laki di balik pintu tersebut adalah Rafael.
Alequa menatap Rafael heran. Mata Gadis itu menyipit, masih sangat mengantuk. "Kenapa datang pagi sekali?"
"Kau lupa? Hari ini kita akan ke Borneo? Jangan bilang kau belum menyiapkan apa pun?" Rafael melotot.
"Tidak mungkin Rafael! Baru kemarin sore kita membicarakan soal ini. Kau pikir aku ikan dori? Mudah lupa?" Alequa menatap kesal.
"Lalu kenapa kau bingung aku datang ke sini?" Sahut Rafael.
"Masih jam 4, Rafael... Kau datang terlalu pagi! Bukan kah Henrick waktu itu bilang kapalnya berlayar jam 9?" Alequa berjalan masuk.
"Hmm... benar! Tapi aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu di pantai. Kenang-kenangan sebelum kita meninggalkan kota ini." Balas Rafael.
"Apa kau bilang? Kenang-kenangan? Kau pikir kita akan pergi dari kota ini selama-lamanya?" Alequa mengerutkan kening, menatap heran ke arah Rafael.
Rafael hanya diam. Duduk di sebuah sofa kecil di ruang tamu.
"Kita akan kembali Rafael! Setelah aku menemukan Alaka, dan juga Mami, kita akan kembali ke sini bersama mereka." Lanjut Alequa.
"Kau yakin?" Rafael menatap dingin. Ucapannya barusan terdengar penuh kesenduan.
Alequa terdiam. Menelan ludah, lalu tertunduk ke arah lantai. Gadis itu berjalan menghampiri Rafael.
"Kita pasti akan kembali ke kota ini. Kau tak mungkin meninggalkan pekerjaanmu." Alequa duduk di sebelah Rafael.
"Ya! Tapi yang akan kembali, mungkin hanya aku." Rafael menunduk. Alequa ikut tertunduk. Merasa pilu mendengar perkataan Rafael barusan.
Gadis itu menelan ludah. "Jika aku sudah menemukan Alaka dan Mami, aku akan mengajak mereka pindah ke sini."
"Sudahlah Alequa. Kau tak perlu memaksakan dan memikirkan tentangku. Jika mereka tak mau, tak masalah. Kau akan hidup bahagia bersama mereka nanti. Dan aku... aku akan mencari kebahagiaan lain. Dunia ini luas Alequa, dan kebahagiaan itu sederhana. Bahkan bisa didapatkan dari hal-hal terkecil di dunia ini." Balas Rafael.
"Aku tak ingin berpisah denganmu Rafael." Alequa menatap sedih. Air mata sudah menggumpal di kedua pelupuk matanya.
"Tak apa Alequa. Lagi pula posisiku hanya sebagai pengganti Alaka. Kau seharusnya menganggap aku sebagai saudaramu. Jadi jika kau sudah bertemu Alaka, itu tandanya Rafael sudah tak perlu menemanimu lagi. Kau tak pernah kesepian Alequa!" Rafael menatap Alequa berbinar-binar, terus meyakinkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALEQUA
Pertualangan𝙆𝙚𝙩𝙞𝙠𝙖 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙗𝙪𝙖𝙝 𝙝𝙖𝙧𝙖𝙥𝙖𝙣, 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙢𝙖𝙩𝙞𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙮𝙪 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙢𝙗𝙖𝙞-𝙡𝙖𝙢𝙗𝙖𝙞... Bagaimana rasanya membiarkan jasad insan tercinta perlahan mengurai di atas tana...
